Pelajaran Strategis Surah Al-Anbiya Ketika Manusia Lalai, Sejarah Mengingatkan
OPINI -
Pada suatu
pagi
yang tenang di bulan
Ramadan
, ketika jemaah
duduk
bersila
selepas
salat Subuh, ada satu
pertanyaan
besar yang layak direnungkan: mengapa manusia sering lalai, padahal tanda-tanda kebenaran begitu jelas di depan mata?
Pertanyaan inilah yang menjadi pintu masuk dari pesan kuat Surah Al-Anbiya ayat 1–112. Surah ini tidak sekadar bercerita tentang para nabi, tetapi juga memberi peringatan tajam tentang kelalaian manusia terhadap hari
perhitungan.
Ramadan adalah
waktu
yang tepat untuk membuka kembali pesan
ini.
Dunia yang Semakin
Sibuk
, Hati yang Semakin
Lalai
Surah ini dibuka dengan ayat yang mengguncang kesadaran
manusia.
Iqtaraba linnāsi ḥisābuhum wa hum fī ghaflatin mu‘riḍūn
Artinya:
“Telah semakin dekat kepada manusia hari perhitungan, sementara mereka berada dalam kelalaian dan berpaling.”
Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi dunia modern.
Manusia hari ini hidup di zaman yang luar biasa maju. Teknologi berkembang sangat cepat, informasi mengalir tanpa batas, ekonomi global bergerak setiap detik.
Namun di balik kemajuan itu, ada satu ironi besar.
Hati manusia semakin jauh dari kesadaran spiritual.
Orang bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, tetapi hanya beberapa menit untuk mengingat Allah. Manusia bisa sangat fokus pada karier, investasi, dan kekuasaan, tetapi sering lupa bahwa kehidupan ini memiliki batas.
Baca Juga:
Ketika Allah Menenangkan Hati Musa: Pelajaran Surah Ṭāhā untuk Zaman yang Gelisah
Surah Al-Anbiya mengingatkan bahwa kelalaian bukan karena manusia tidak tahu, tetapi karena manusia terlalu sibuk dengan dunia.
Sejarah Nabi: Cermin Kelalaian Manusia
Salah satu kekuatan Surah Al-Anbiya adalah cara Allah menghadirkan sejarah para nabi sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Surah ini menyebut banyak nabi:
Nabi Ibrahim
Nabi Nuh
Nabi Luth
Nabi Daud
Nabi Sulaiman
Nabi Ayyub
Nabi Yunus
Nabi Zakariya
Nabi Yahya
Nabi Isa
Semua nabi ini memiliki pengalaman yang sama.
Mereka datang membawa kebenaran, tetapi ditolak oleh umatnya.
Penolakan itu terjadi karena satu hal: manusia tidak ingin keluar dari zona nyaman.
Kaum Nabi Ibrahim tidak ingin meninggalkan berhala. Kaum Nabi Nuh menolak ajakan bertahun-tahun. Kaum Nabi Luth bahkan menentang hukum moral yang jelas.
Sejarah ini menunjukkan bahwa masalah manusia bukan kekurangan pengetahuan, tetapi kerasnya hati.
Kelalaian yang Terulang di Zaman Modern
Jika kita melihat dunia hari ini, pola yang sama masih terjadi.
Perang, konflik geopolitik, dan perebutan kekuasaan terus berulang. Manusia berlomba menguasai sumber daya, pengaruh, dan dominasi politik.
Padahal, sejarah para nabi sudah memberi pelajaran.
Ketika manusia terlalu percaya pada kekuatan dunia, mereka lupa bahwa semua kekuatan dunia bersifat sementara.
Surah Al-Anbiya mengingatkan:
Kullu nafsin dzāiqatu al-maut
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”
Tidak ada manusia yang bisa menghindari kematian.
Tidak ada kekuasaan yang bisa bertahan selamanya.
Tidak ada kerajaan yang kekal.
Semua akan kembali kepada Allah.
Ramadhan: Momentum Bangun dari Kelalaian
Di sinilah Ramadan memiliki makna yang sangat penting.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga membangunkan hati dari kelalaian.
Puasa melatih manusia untuk:
menahan diri
mengendalikan nafsu
mengingat Allah
memperbaiki akhlak
Ketika seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh, ia belajar bahwa hidup tidak hanya tentang memenuhi keinginan.
Ada tujuan yang lebih besar.
Ada kehidupan setelah dunia.
Surah Al-Anbiya mengajak manusia untuk kembali melihat kehidupan dengan perspektif akhirat.
Ketika Kebenaran Menghancurkan Kebatilan
Surah ini memberikan satu janji besar dari Allah.
“Kami lemparkan kebenaran kepada kebatilan hingga ia menghancurkannya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam sejarah manusia selalu ada pertarungan antara kebenaran dan kebatilan.
Kadang kebatilan terlihat sangat kuat.
Ia memiliki:
kekuatan militer
kekuasaan politik
propaganda media
Tetapi kebatilan memiliki satu kelemahan besar.
Ia tidak memiliki fondasi kebenaran.
Karena itu, dalam jangka panjang, kebatilan selalu runtuh oleh kebenaran.
Penutup: Bangun Sebelum Terlambat
Surah Al-Anbiya dimulai dengan peringatan tentang kelalaian manusia.
Namun di balik peringatan itu, ada pesan harapan.
Selama manusia masih hidup, pintu tobat masih terbuka.
Baca Juga:
Ketika Dunia Bergolak: Belajar dari Surah Al-Kahfi di Tengah Konflik Global
Selama hati masih bisa merasakan kebenaran, perubahan masih mungkin terjadi.
Ramadan adalah kesempatan emas untuk melakukan perubahan itu.
Karena pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju pertemuan dengan Allah.
Dan ketika hari perhitungan benar-benar tiba, yang paling berharga bukanlah kekayaan, kekuasaan, atau popularitas.
Yang paling berharga adalah iman, amal saleh, dan hati yang hidup bersama Allah.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.