Pelantikan Pengurus KAHMI dan FORHATI Kalbar Menjawab Panggilan Zaman: KAHMI dan FORHATI Kalbar untuk SDM Unggul dan SDA Berkelanjutan
OPINI
- “Bergerak! Bergerak! Bergerak! Serentak! Serentak! Serentak! Membangun! Membangun! Membangun! Jiwa dan raga bangsa!” petikan hymne HMI itu bergema kuat saat prosesi Pelantikan Majelis Wilayah
KAHMI
dan
FORHATI
Provinsi Kalimantan Barat periode 2025–2030 berlangsung khidmat dan megah.
Di tengah gemuruh tepuk tangan dan lantunan semangat perjuangan, tersirat harapan besar: semoga kepengurusan yang baru tidak hanya menjadi simbol regenerasi organisasi, tetapi sungguh-sungguh menjadi lokomotif perubahan sosial, intelektual, dan spiritual umat serta bangsa.
Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Kalimantan Barat telah resmi menetapkan
Harisson
, sebagai Ketua Umum Periode 2025–2030 dan
Erni Panca Kurniasih
, sebagai Ketua Umum
FORHATI
Kalimantan Barat Periode 2025-2030 pada 26 April 2025, dengan pelantikan dijadwalkan pada 26 Juli 2025 (
Suaraindo.id
, 2025;
RRI
, 2025;
Pontianak Post
, 2025).
Dalam pelantikan yang dihadiri langsung oleh Koordinator Presidium
MN KAHMI
, Rifqinizamy Karsayuda, pesan-pesan kebangsaan dan keumatan mengalir deras.
Baca Juga:
IKAL Lemhanas Kalbar Punya Pengurus Baru, Diharapkan Jadi Mitra Strategis Pemerintah Daerah
Rifqi, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa
KAHMI
bukanlah organisasi nostalgia, melainkan sebuah kekuatan moral dan intelektual yang siap mengawal pembangunan Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, secara inklusif dan berkelanjutan (
RRI
, 2025).
Tema pelantikan
“Pembangunan SDM dan Pemanfaatan SDA secara Bijaksana, Berkeadilan, dan Berkelanjutan”
bukan sekadar slogan. Ia merupakan respons strategis terhadap tantangan pembangunan kontemporer.
Kalimantan Barat adalah provinsi kaya sumber daya alam, tetapi tantangan utama justru terletak pada bagaimana kekayaan itu dikelola. Tak boleh lagi kita terjebak pada pola pembangunan eksploitatif yang merusak alam dan menciptakan ketimpangan.
KAHMI
dan
FORHATI
harus hadir sebagai pengingat, pengarah, sekaligus pelaksana gagasan pembangunan berkeadaban. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat,
Harisson
, juga menekankan peran strategis
KAHMI
dan
FORHATI
dalam mewujudkan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah (
Adpim.kalbarprov.go.id, n.d
.).
Baca Juga:
Merawat Pancasila, Merawat Kalbar: Refleksi Pelantikan DPD IKAL Kalimantan Barat Masa Bakti 2025–2030
KAHMI dan FORHATI sebagai Poros Peradaban Baru
KAHMI dan FORHATI bukan hanya pewaris nilai-nilai HMI yang visioner, tetapi juga penafsir zaman. Dalam semangat Insan Cita HMI yakni insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT KAHMI dan FORHATI harus menjadi poros peradaban baru, terutama di Kalbar yang tengah bersiap menjadi kawasan strategis nasional dalam konteks FOLU Net Sink 2030 dan agenda transisi energi hijau.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat optimistis mencapai target FOLU Net Sink 2030 dengan mempertahankan 7,6 juta hektar tutupan hutan dan mengurangi emisi karbon sebesar -140 juta ton CO2e (
Infopublik.id
, 2025a;
APIK Kalbar
, 2025).
Forum ini harus melampaui ruang-ruang diskusi elitis. Ia harus menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan aksi nyata. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) harus dimulai dari basis nilai: integritas, ilmu, dan empati.
KAHMI dan FORHATI harus memperkuat tradisi intelektual melalui pelatihan, kajian, dan riset sekaligus mengarusutamakan program-program penguatan kapasitas pemuda dan perempuan di desa-desa, pesantren, dan kampus.
Dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam (SDA), KAHMI dan FORHATI harus mempromosikan tata kelola yang mengedepankan kearifan lokal, teknologi hijau, dan prinsip keadilan ekologis. Tak ada pembangunan yang benar jika menyingkirkan masyarakat adat, merusak hutan gambut, atau mencemari sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan.
Agenda
“berkeadilan dan berkelanjutan”
harus diterjemahkan menjadi advokasi kebijakan, keterlibatan dalam perencanaan pembangunan daerah, serta penguatan komunitas akar rumput.
Meskipun Kalimantan Barat berkomitmen pada transisi energi bersih (
Infopublik.id
, 2024), kekhawatiran muncul terkait potensi deforestasi dan emisi baru dari penggunaan biomassa untuk energi (Forest Watch Indonesia, 2024; Trend Asia, 2024).
Dari Kalbar untuk Indonesia
Pelantikan ini bukan hanya seremoni administratif, tetapi momentum kolektif. Ia adalah panggilan sejarah bagi kader-kader umat dan bangsa untuk mengambil peran lebih besar.
Kalbar, dengan pluralitas budaya dan kekayaan hayatinya, adalah laboratorium ideal untuk menguji model pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Di sinilah pentingnya sinergi antara KAHMI, FORHATI, ICMI, dan seluruh elemen strategis lainnya.
Sebagai Ketua ICMI Kalbar, saya melihat betapa besar potensi kolaboratif ini. ICMI, dengan jaringan keilmuan dan teknokratiknya, siap menjadi mitra strategis KAHMI dan FORHATI dalam mendorong kebijakan berbasis riset dan nilai.
ICMI Kalbar berkomitmen mendukung Pemprov Kalbar dalam mengembangkan potensi lokal, mempercepat pembangunan, dan meningkatkan perekonomian, termasuk dalam sektor pertanian, perkebunan, energi (seperti potensi PLTN), dan ekonomi kreatif (
Antara News
, 2025;
Samsulhidayatcenter.com
, 2025).
Kita harus menyusun roadmap pembangunan SDM Kalbar berbasis karakter, literasi digital, dan kesiapan menghadapi revolusi industri 5.0 yang berakar pada kearifan lokal dan spiritualitas Islam.
Penjabat Gubernur Kalimantan Barat juga telah mengajak
ICMI
untuk membentuk desa binaan atau kecamatan binaan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat (
Infopublik.id
, 2025b).
Demikian pula dalam sektor lingkungan hidup dan sumber daya alam. Agenda besar
FOLU Net Sink
2030, transisi energi, hingga penguatan ekonomi hijau dari kratom, madu hutan, kopi liberika, dan tengkawang semuanya membutuhkan narasi dan kader yang siap terjun ke lapangan. KAHMI dan FORHATI harus menjadi penjembatan antara ide dan implementasi, antara nilai dan kebijakan.
Baca Juga:
Poros Industri Hijau Nusantara: Menembus Kebuntuan Komoditas dengan Paradigma Hausmann
Regenerasi, Refleksi, dan Relevansi
Momen pelantikan ini juga mengingatkan kita pada tiga hal penting: regenerasi, refleksi, dan relevansi.
Pertama
, regenerasi. Sudah saatnya
KAHMI
dan
FORHATI
membuka ruang yang luas bagi kader muda untuk memimpin, berinovasi, dan melanjutkan estafet perjuangan dengan pendekatan kekinian. Kepemimpinan kolektif dan transformatif perlu didorong, agar organisasi tidak terjebak dalam stagnasi atau elitisasi.
Kedua
, refleksi. Kita harus terus merefleksikan peran
KAHMI
-
FORHATI
dalam menghadapi tantangan zaman: dari krisis iklim, disrupsi digital, hingga degradasi moral publik. Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi, atau justru sibuk dengan urusan internal yang jauh dari problem rakyat?
Ketiga
, relevansi. Organisasi harus adaptif dan solutif.
KAHMI
dan
FORHATI
tidak boleh menjadi menara gading. Ia harus hadir di tengah masyarakat: dalam advokasi pendidikan, pendampingan UMKM, penyelamatan lingkungan, hingga pemberdayaan perempuan dan anak muda. Inilah bentuk nyata dari jihad intelektual dan jihad sosial yang kita warisi dari HMI.
Penutup: Bergerak Serentak Membangun Bangsa
Akhirnya, atas nama
ICMI
Kalimantan Barat, saya mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh pengurus Majelis Wilayah
KAHMI
dan
FORHATI
Provinsi Kalimantan Barat periode 2025–2030. Semoga
Allah SWT
senantiasa memberikan kekuatan dan keikhlasan dalam menjalankan amanah.
Mari kita bergerak bersama, serentak, membangun jiwa dan raga bangsa, mewujudkan Kalimantan Barat sebagai model pembangunan yang adil, hijau, dan bermartabat. Dari Kalbar, untuk Indonesia.
"Yakin Usaha Sampai!"
Oleh: Prof.Gusti Hardiansyah
Ketua ICMI Kalimantan Barat
*Disclaimer:
Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan serta kebijakan redaksi. Seluruh isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.