Pembangunan 1.500 Huntara Korban Banjir di Desa Sahraja Aceh Timur Dimulai
Faktakalbar.id, ACEH TIMUR -
Proses pembangunan hunian sementara (
huntara
) bagi korban banjir bandang di Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, resmi dimulai.
Sebanyak kurang lebih 1.500 unit huntara ini ditargetkan rampung pada bulan Maret 2026 mendatang.
Baca Juga:
Pembangunan Huntara di Aceh Timur Terhambat Akses Jalan Rusak
Desa Sahraja sebelumnya sempat terisolir akibat banjir bandang parah yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.
Komandan Rayon Militer (Danramil) 20/Pante Bidari, Muhammad Irwan, menyatakan bahwa saat ini wilayah terdampak telah memasuki fase pemulihan infrastruktur.
“Sekarang kan sudah masuk tingkat pemulihan, seperti pembangunan huntara,” ujar Irwan saat ditemui selepas acara buka puasa bersama di Dusun Sarah Gala, Desa Sahraja, Minggu (22/2/2026).
Irwan menjelaskan, akses jalan menuju Desa Sahraja yang sebelumnya tertutup lumpur kini sudah terbuka dan dapat dilalui kendaraan. TNI bersama sejumlah pihak terkait telah melakukan pembersihan lumpur sejak awal bencana melanda, sehingga distribusi material untuk pembangunan huntara di Aceh Timur dapat berjalan lancar.
Penyelesaian fasilitas tempat tinggal sementara ini dijadwalkan bertepatan dengan momen Idul Fitri tahun depan. Mengenai progres di lapangan, Irwan memastikan tidak ada hambatan berarti.
“Kendalanya sejauh ini belum ada. Sudah mulai pembangunan,” ucap Irwan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada hari Minggu, sejumlah petak tanah di Desa Sahraja telah diratakan. Lahan tersebut dipersiapkan secara khusus untuk mendirikan unit-unit hunian bagi warga. Desa ini tercatat sebagai salah satu kawasan yang menderita dampak kerusakan terburuk pascabencana.
Rudi Jasa, salah seorang warga Desa Sahraja, menyampaikan apresiasi atas bantuan dari relawan, pemerintah, dan pihak terkait.
Baca Juga:
781 KK Warga Terdampak Bencana di Aceh Tengah Mulai Direlokasi ke Huntara
Ia mengakui bahwa pembangunan huntara di Aceh Timur, khususnya di wilayahnya, sedikit lebih lambat dibandingkan desa lain karena kendala jarak tempuh dari jalan utama.
“Alhamdulillah huntara sudah mulai (dibangun). Tempat kami lambat karena jauh dari perkotaan. Kalau hujan, kendala untuk bawa materialnya ke lokasi, makanya tempat kami paling lambat,” ucap Rudi.
Lebih lanjut, Rudi menyebutkan adanya rencana relokasi bagi warga yang menetap di Dusun Sarah Gala. Masyarakat akan dipindahkan ke lokasi daratan yang letaknya lebih tinggi sebagai langkah antisipasi bencana susulan.
“Karena kalau di sini (Dusun Sarah Gala) rawan banjir,” ucap Rudi.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.