faktakalbar

Pembangunan Pipa Limbah SPALD-T Pontianak Telan Dana Rp 1,7 Triliun

Faktakalbar.id - Proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di Kota Pontianak resmi memasuki tahap konstruksi pada Rabu (19/8/2026).

Penulis: Natash Thursday, 20 August 2026 📖 2 menit
Pembangunan Pipa Limbah SPALD-T Pontianak Telan Dana Rp 1,7 Triliun

Faktakalbar.id - Proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di Kota Pontianak resmi memasuki tahap konstruksi pada Rabu (19/8/2026).

Pembangunan jaringan utama perpipaan limbah ini membentang dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga daerah Martapura.

Pekerjaan konstruksi di lapangan sepenuhnya menggunakan metode galian terbuka serta teknik jacking saluran bawah tanah.

Kementerian Pekerjaan Umum mengalokasikan anggaran sekitar Rp 1,7 triliun untuk mendanai proyek infrastruktur jangka panjang tersebut.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebut proyek ini bertujuan langsung untuk meningkatkan kualitas sanitasi kota.

“Nanti kita akan menanam pipa primer dengan kedalaman antara 6 sampai 12 meter. Kemudian disambungkan dengan pipa sekunder dan tersier yang langsung terhubung ke rumah maupun bangunan,” jelasnya usai Kick-off Pembangunan SPALD-T Kota Pontianak di Hotel Ibis, Rabu (19/8/2026).

Jaringan perpipaan ini secara khusus akan menampung air buangan dari kloset, area cuci, dan saluran pembuangan lantai.

Air limbah domestik tersebut mengalir ke jaringan pipa secara gravitasi sebelum akhirnya disedot menuju fasilitas pengolahan.

“Air limbah rumah tangga disedot dan diolah menjadi air yang lebih bersih,” katanya.

Target kapasitas pengolahan fasilitas pemurnian limbah ini dirancang mencapai 24 ribu meter kubik per hari.

Fasilitas SPALD-T ini juga diproyeksikan dapat menjangkau lebih dari 15 ribu sambungan ke berbagai bangunan warga dan tempat usaha.

Pengelolaan instalasi ini kelak diserahkan sepenuhnya kepada Perumda Tirta Khatulistiwa di bawah pengawasan direktur khusus sanitasi.

Plt Direktur Sanitasi Kementerian Pekerjaan Umum Sandhi Eko Bramono menegaskan pengelolaan limbah domestik sangat krusial bagi pelindungan kualitas air baku.

Ia menjelaskan sistem penyaluran limbah ini mengandalkan gaya gravitasi murni tanpa dorongan tekanan mesin pompa.

“Keakuratan konstruksi ini menjadi penting karena pipa air limbah tidak bertekanan, rata-rata mengalir gravitasi. Kepresisian pada waktu konstruksi, termasuk kemiringan pipa, menjadi penting,” jelasnya.

Fasilitas pengolahan akhir yang didirikan pemerintah akan dipusatkan pada dua lokasi utama yaitu Nipah Kuning dan Martapura.

“Pengolahan limbah akan membunuh mikroorganisme patogen, sehingga tidak lagi menjadi sumber pencemar biologis, baru kemudian dilepas ke sungai,” pungkasnya.

Infrastruktur pengelolaan sanitasi terpusat serupa sebelumnya telah sukses diterapkan pada sejumlah kota besar seperti Jakarta, Denpasar, hingga Yogyakarta.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK