Pontianak Perkuat Ketangguhan Hadapi Bencana Berbasis Air
Faktakalbar.id, PONTIANAK -
Pemerintah Kota Pontianak
terus memperkuat langkah strategis untuk mewujudkan kota yang tangguh dalam menghadapi bencana berbasis air.
Baca Juga:
Perkuat Infrastruktur Dasar, Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan Tekankan Pentingnya Layanan Publik Responsif
Karakter geografis Pontianak sebagai kota delta dengan elevasi daratan hanya berkisar 0,8 hingga 1,5 meter di atas permukaan laut menjadikannya sangat rentan terhadap genangan, terutama saat hujan ekstrem bersamaan dengan pasang sungai.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi (Rida) Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Pontianak, Eko Prihandono, menegaskan bahwa urusan air bukan sekadar persoalan infrastruktur semata, melainkan bagian dari identitas kota yang harus dikelola secara cerdas dan berkelanjutan.
"Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjadikan air sebagai bagian dari sistem kota yang adaptif, bukan ancaman yang berulang setiap musim hujan,"
ujar Eko saat menjadi narasumber dalam diskusi program
Resilient Indonesian Slums Envisioned
(RISE) di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Rabu (25/02/26).
Berdasarkan studi terbaru mengenai skenario bahaya banjir di Pontianak, sebagian besar wilayah kota teridentifikasi rawan genangan.
Jika tidak ada intervensi serius, simulasi 50 tahun ke depan memproyeksikan area terdampak banjir dengan kedalaman lebih dari 0,5 meter akan meningkat hingga 17 persen.
Baca Juga:
Terbukti Sebar Kebencian SARA, PN Pontianak Vonis Riezky Kabah 2 Tahun Penjara
Ancaman ini dapat semakin parah akibat penurunan muka tanah, hilangnya lahan resapan, dan fenomena banjir gabungan.
Merespons kondisi tersebut, Pemkot Pontianak menjadikan isu ini sebagai prioritas pembangunan.
Berbagai langkah teknis telah berjalan, meliputi pemeliharaan drainase sepanjang 604 ribu meter, operasional pompa dan pintu air, hingga interkoneksi saluran primer, sekunder, dan tersier.
"Kami juga memanfaatkan pompa banjir dan Bapak Wali Kota menggencarkan kegiatan gotong-royong tiap bulan di enam kecamatan. Ini menjadi bagian dari upaya jangka pendek dan menengah,"
jelas Eko.
Untuk jangka panjang, Pemkot Pontianak juga memperkuat pendekatan infrastruktur hijau. Langkah ini diwujudkan lewat perluasan ruang terbuka hijau, restorasi lahan basah dan gambut, serta pengembangan area multifungsi sebagai resapan air.
Bahkan, program 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota secara khusus menyoroti normalisasi saluran serta peningkatan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Eko menambahkan, Rencana Aksi Iklim telah disusun dengan menggandeng akademisi, lembaga riset, komunitas, dan sektor swasta.
Ketangguhan kota tidak semata diukur dari proyek infrastruktur fisik, melainkan dari kesadaran kolektif warganya.
“Air adalah identitas Pontianak. Kita harus memastikan bahwa generasi mendatang tetap bisa hidup aman dan selaras dengan air. Ketangguhan kota bukan hanya soal membangun tanggul atau pompa, tetapi tentang kolaborasi pemerintah dan warga dalam menjaga akses air, kesehatan, dan masa depan kota,”
pungkasnya.
(FR)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.