Penawaran Gila-gilaan Tender Gedung RSJ Kalbar, Risiko Masalah Hukum di Depan Mata
FaktaKalbar.id, SINGKAWANG
– Sejumlah proyek pembangunan gedung di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Kalimantan Barat tengah menuai kritik dan perhatian serius. Hal itu setelah terungkap adanya penawaran harga yang dianggap
"gila-gilaan"
dalam proses tender yang bisa dilihat pada situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik
(LPSE)
Provinsi Kalimantan Barat.
Dalam catatan
LPSE
, kelompok kerja (pokja) pemilihan penyedia jasa memenangkan perusahaan dengan penawaran yang nilainya jauh di bawah Harga Perkiraan Sendiri
(HPS)
.
Selisih harga bahkan mencapai lebih dari
30%
, sehingga menimbulkan pertanyaan besar tentang kualitas dan keberlanjutan pembangunan gedung-gedung yang menyangkut pelayanan kesehatan publik tersebut.
Salah satu proyek adalah paket
Belanja Modal Bangunan Kesehatan – Belanja Modal Bangunan Bangsal Lansia Wanita
di RSJ Kalbar.
Baca Juga:
Formajakon Gelar Rapat Pengurus, Siap Perjuangkan Jasa Konstruksi di Kalimantan Barat
[caption id="attachment_43874" align="aligncenter" width="1080"]
Tabel rincian tender Belanja Modal Bangunan Kesehatan–Belanja Modal Bangunan Bangsal NAPZA. (Dok. LPSE)[/caption]
Pemerintah menetapkan HPS sebesar
Rp2.179.996.490
. Pemenang tender adalah perusahaan DB dengan penawaran terkoreksi sebesar
Rp1.488.576.464,62
, berhasil memenangkan tender. Angka ini sekitar
31,7%
lebih rendah dari nilai
HPS
.
Kondisi serupa juga terjadi pada paket
Belanja Modal Bangunan Kesehatan – Pengadaan Bangunan Gedung Layanan Anak dengan Kebutuhan Khusus
.
HPS yang ditetapkan pemerintah mencapai
Rp2.999.996.290
. Tender ini dimenangkan oleh perusahaan
CV RP
yang mengajukan penawaran terkoreksi hanya
Rp2.067.803.493,50
, atau lebih rendah
31%
dari
HPS
.
Sementara itu, paket pembangunan
Belanja Modal Bangunan Kesehatan – Belanja Modal Bangunan Bangsal NAPZA
pun tak jauh berbeda.
Dari
HPS
senilai
Rp1.999.998.411
, perusahaan
CV KBM
memenangkan tender dengan harga penawaran terkoreksi
Rp1.460.075.075
, atau sekitar
27%
di bawah
HPS
.
Baca Juga:
Benahi Tata Kelola, KPK Dampingi Pemkab Sambas Soroti Anggaran Pokir dan PBJ
[caption id="attachment_43875" align="aligncenter" width="841"]
Tabel pemenang tender proyek Belanja Modal Bangunan Kesehatan–Pengadaan Bangunan Gedung Layanan Anak dengan Kebutuhan Khusus. (Dok. LPSE)[/caption]
Penawaran ekstrem rendah ini menimbulkan kekhawatiran serius. Bagaimana mungkin proyek pekerjaan bangunan dengan standar material dan harga pasar yang sudah baku bisa dikerjakan dengan biaya yang jauh lebih murah dari perhitungan resmi pemerintah? `
Risiko yang mungkin terjadi antara lain kualitas bangunan rendah, proyek mangkrak atau gagal selesai sehingga merugikan keuangan negara, hingga potensi terjadinya persoalan utang piutang antara kontraktor dengan penyedia material maupun tenaga kerja.
Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi
(GN-PK)
Kalbar,
M. Rifal
yang ditemui Faktakalbar.id, Kamis (4/9/2025), menyoroti proses evaluasi yang dilakukan oleh
Pokja
pemilihan penyedia jasa.
Menurutnya, indikasi penawaran harga yang terlampau rendah seharusnya menjadi alarm bagi panitia tender.
“Pertanyaannya, bagaimana proses evaluasi itu dilakukan? Apakah pokja hanya melihat harga terendah tanpa mempertimbangkan aspek kewajaran? Bangunan rumah sakit bukan sekadar proyek fisik, ini menyangkut nyawa manusia. Jika kualitasnya dipertaruhkan, masyarakat yang menjadi korban. Jangan sampai yang kita lihat nanti bangunan cepat rusak, bocor, atau bahkan membahayakan pasien,” tegas Rifal.
Baca Juga:
Kementerian PU “Angkat Tangan” dari IKN, Proyek Dialihkan ke Otorita Mulai Tahun Depan
[caption id="attachment_43876" align="aligncenter" width="865"]
Tabel pemenang tender proyek Belanja Modal Bangunan Kesehatan–Pengadaan Bangunan Gedung Layanan Anak dengan Kebutuhan Khusus. (Dok. LPSE)[/caption]
Lebih lanjut, Rifal mengingatkan bahwa praktik memenangkan penawaran dengan selisih harga terlalu jauh dari HPS juga bisa membuka peluang terjadinya persoalan hukum di kemudian hari.
“Patut dipertanyakan juga apakah HPS atau harga perencanaan memang ada indikasi ditinggikan sehingga bisa ditawar dengan sangat rendah. Tolong pihak-pihak penegak hukum ikut memeriksa hal ini, jangan sampai nantinya bermasalah,” ujarnya.
Dengan nilai penawaran yang jauh di bawah HPS, proyek pembangunan gedung RSJ Kalbar kini berada dalam perdebatan publik dan kalangan penyedia jasa konstruksi.
Jika pengawasan tidak diperketat, bukan tidak mungkin fasilitas kesehatan yang sudah dianggarkan dengan baik untuk menopang pelayanan pasien justru bermasalah dan akhirnya tidak dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
(Dhn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.