Merawat Nadi Kalimantan Barat dari Hulu ke Hilir
OPINI
- Hujan yang kini kian deras di penghujung
2025
membawa pesan alam yang sama: kita sedang diuji tentang bagaimana menjaga keseimbangan bumi dan air di tanah kita sendiri. Ketika Sungai Kapuas meluap di Mempawah dan Melawi, atau ketika drainase kota Pontianak tak lagi sanggup menampung limpasan air, sesungguhnya bukan hanya sistem hidrologi yang kewalahan melainkan sistem
sosial-ekologis
kita yang belum menyatu.
Rapat Forum DAS Kalimantan Barat minggu ini memperlihatkan satu kenyataan sederhana namun mendalam: pengelolaan
Daerah Aliran Sungai
(DAS)
bukan sekadar urusan menanam pohon, melainkan membangun kesadaran lintas generasi. Dari hulu hingga hilir, dari gunung hingga pesisir, kita sedang menulis ulang hubungan antara manusia, air, dan hutan dengan tinta tanggung jawab.
DAS: Urat Nadi yang Mulai Letih
Kalimantan Barat kini memiliki
18 DAS prioritas
, mulai dari Kapuas, Sambas, Landak, Ketapang hingga Kendawangan. Di atas kertas, ini tampak sebagai daftar administratif. Namun di lapangan, tiap DAS menyimpan denyut kehidupannya sendiri — dengan tantangan yang makin berat.
Dari
14 juta hektar
wilayah DAS Kalbar, lebih dari
680 ribu
hektar sudah tergolong kritis dan sangat kritis. Sisanya, hanya sekitar
4 juta hektar
yang masih berstatus
“sehat”
. Selebihnya berada dalam kondisi
“lelah”
, akibat pembukaan lahan, penambangan rakyat tanpa izin, dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan.
Baca Juga:
MPTS di Gambut, Harapan Baru Desa Kubu Padi Sebagai Desa Penyangga KHDTK UNTAN
Inilah sebabnya
BPDAS
dan
FORDAS
menempatkan rehabilitasi lahan dan revegetasi sebagai jantung kegiatan tahun 2025–2026. Tidak lagi sekadar program tahunan, tetapi upaya pemulihan ekologi jangka panjang yang melibatkan masyarakat, akademisi, dan dunia usaha.
Tahun ini, dua persemaian besar
BPDAS
di Sungai Selamat dan Melawi telah menyiapkan
300 ribu bibit
produktif dan endemik untuk kegiatan
Aksi Rehabilitasi Lahan
(ARL). Sebagian untuk penanaman langsung, sebagian lagi disalurkan melalui
Kebun Bibit Rakyat
(KBR). Dari masyarakat, untuk masyarakat.
Menumbuhkan Kehidupan dari Tanaman Lokal
Kita sering lupa bahwa hutan tidak hanya terdiri dari pohon, tapi juga dari penghidupan. Itulah sebabnya, arah rehabilitasi ke depan tidak hanya menanam tengkawang dan meranti, tapi juga kopi, durian, dan
purik/ kratom
tanaman produktif yang memberi nilai ekonomi sekaligus ekologis.
Kratom
(Mitragyna speciosa)
, misalnya, kini tumbuh subur di sepanjang bantaran Sungai Leboyan dan Sungai Ambawang. Bagi masyarakat setempat, kratom bukan sekadar komoditas ekspor, tapi penopang hidup yang bersahabat dengan air. Mereka memanen daunnya tanpa menebang batangnya, menjaga kelembapan tanah sekaligus menghidupi keluarga.
Inilah bentuk nyata dari ekonomi hijau berbasis rakyat. Jika diolah dengan tata kelola yang baik dan payung hukum yang jelas, kratom dapat menjadi simbol transformasi Kalbar menuju ekonomi berbasis ekosistem, bukan eksploitasi.
Baca Juga:
Asas Praduga Tak Bersalah dalam Kasus Gubernur Ria Norsan Harus Dikedepankan, Sikap Kooperatif Patut Diapresiasi
Show Window
di KHDTK Untan
Salah satu ide paling menarik dalam rapat kali ini adalah menjadikan
Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus
(KHDTK)
di Kabupaten Kuburaya, Mempawah dan Landak sebagai show window Forum DAS Kalbar semacam
“etalase hidup”
bagaimana kerja lintas sektor bisa bersatu.
Kegiatan yang diinisiasi oleh penulis dan tim kolaborasi ini akan dirancang sebagai proyek multi-tahun:
Tahun 2025: penguatan kelembagaan masyarakat dan pelatihan dasar konservasi,
Tahun 2026: penanaman kopi (liberika) dan tanaman endemik produktif,
Tahun 2027: pelatihan pengolahan hasil, pemasaran digital, dan pengembangan ekonomi lokal.
Di sinilah spirit kolaborasi nyata antara universitas, BPDAS, Dinas LHK, koperasi, UMKM, dan masyarakat adat menemukan bentuknya. Jika berhasil, titik-titik Desa binaan dapat menjadi laboratorium sosial-ekologis yang merepresentasikan wajah baru pengelolaan DAS berbasis komunitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah.
Data, Banjir, dan Keberanian Mengakui Fakta
Rapat juga menyinggung hasil analisis banjir di Mempawah, Pontianak, dan Kaupaten terkait lainnya. Data menunjukkan peningkatan limpasan air
(runoff)
yang signifikan antara tahun 2015 hingga 2025. Di Pontianak, penyempitan dan penutupan saluran drainase memperparah genangan. Di Mempawah, lebih dari
60% area
yang dulunya hutan kini berubah menjadi APL (Areal Penggunaan Lain), menjadikan air tak lagi punya ruang untuk meresap.
Masalahnya bukan hanya pada curah hujan, tetapi pada tata ruang yang kehilangan logika ekologi. Ketika saluran air tertutup beton, hutan penyangga digantikan kebun sawit, dan rawa disulap menjadi perumahan, maka banjir bukan bencana, tapi konsekuensi.
Baca Juga:
Kayong Utara di Tengah Arus Pemangkasan Dana Pusat
Di sinilah Forum DAS mengambil peran strategis: menyampaikan analisis ilmiah sebagai dasar advokasi kebijakan. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengingatkan bahwa air dan tanah tidak tunduk pada batas administratif.
Ratung, Respon, dan Reaksi Cepat
Selain program ARL, tahun ini juga dijalankan kegiatan penanaman
“Ratung”
(Terubusan Tunggak untuk bibit cepat tumbuh). Arahan Kolaborasi dari Komisi IV DPR RI saat kunjungan baru-baru ini ke Kalbar untuk ekspor Kratom. Sebanyak 10 ribu bibit produktif disiapkan Kemenhut melalui program Perhutanan Sosial dan Balai DAS .
Bibit ini mencakup jenis-jenis berbuah dalam
1–2 tahun
, seperti durian, alpukat, dan jengkol, serta jenis bernilai ekologis tinggi seperti tengkawang dan gaharu.
Program ini bukan proyek simbolik, melainkan strategi percepatan rehabilitasi dan pemberdayaan desa hutan. Karena ketika masyarakat menanam pohon yang berbuah, mereka menanam masa depan.
Waspada Bencana, Siaga Data
Dalam konteks bencana, Forum DAS juga menegaskan pentingnya respons cepat dan komunikasi publik yang akurat. Ketika banjir melanda Melawi atau kebakaran muncul di hutan gambut, publik butuh penjelasan berbasis data, bukan rumor.
Maka disepakati dibangun mekanisme komunikasi darurat antara BPDAS dan FORDAS, meliputi:
Validasi cepat laporan bencana,
Analisis teknis penyebabnya (hidrologi, tutupan lahan, sosial-ekonomi),
Pernyataan resmi berbasis sains kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
Dengan cara ini, Forum DAS tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi pusat pengetahuan dan komunikasi krisis ekologi.
Menutup Tahun, Menyemai Harapan
Menjelang tutup tahun 2025, Forum DAS akan menggelar kegiatan penanaman pohon di kampus Universitas Tanjungpura pada 31 Desember — simbol kebersamaan lintas generasi.
Mahasiswa, komunitas perempuan penanam, dan aparat kehutanan akan bergandeng tangan menanam pohon, bukan sekadar menambah tutupan lahan, tapi menumbuhkan optimisme.
Dalam suasana krisis iklim global, kegiatan kecil ini sesungguhnya monumental: ia menegaskan bahwa pengelolaan DAS bukan proyek teknis, tapi gerakan peradaban.
Dari Hulu ke Hilir, dari Data ke Aksi
Dari seluruh diskusi, ada satu benang merah yang tak terbantahkan: kalau hulu tidak dijaga, hilir akan menanggung akibatnya.
Maka tugas kita bukan hanya menanam pohon, tapi menanam kesadaran. Bukan hanya menghitung debit air, tapi menata ulang aliran tanggung jawab.
Karena sungai tidak pernah berbohong: ia mengalir mengikuti kebenaran gravitasi dan kearifan alam. Kalimantan Barat, dengan semua tantangan dan potensinya, memiliki kesempatan besar untuk menjadi model pengelolaan DAS berbasis pengetahuan lokal dan kemitraan sejati.
Kuncinya sederhana: kolaborasi, konsistensi, dan keberlanjutan.
🌱 Penutup: Membangun Jejak Baik di Atas Air
Dalam satu kalimat, rapat
FORDAS
hari ini bukan sekadar forum teknis tetapi cermin bagi kita semua: bahwa membangun Kalbar bukan dengan mengejar proyek, melainkan dengan menyusun peradaban air dan hutan yang berkeadilan.
Jika setiap batang pohon yang ditanam menjadi doa, dan setiap tetes air yang mengalir menjadi amanah, maka kita sedang berada di jalan yang benar.
Karena menjaga DAS bukan hanya menjaga air tapi menjaga kehidupan.
Oleh:
Gusti Hardiansyah
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim Universitas Tanjungpura dan Ketua Forum DAS Kalimantan Barat
Disclaimer:
Artikel ini merupakan opini pribadi penulis. Tanggung jawab penuh atas isi dan interpretasi yang terkandung di dalamnya sepenuhnya berada pada penulis.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.