faktakalbar

Penggunaan AI oleh Jurnalis Indonesia Meluas, Tata Kelola Masih Minim

Penulis: Redaksi Monday, 23 February 2026 📖 2 menit
Penggunaan AI oleh Jurnalis Indonesia Meluas, Tata Kelola Masih Minim
Faktakalbar.id, JAKARTA - Riset terbaru BBC Media Action mengungkap bahwa tren penggunaan AI oleh jurnalis di Indonesia semakin meluas untuk pekerjaan sehari-hari. Meski tingkat adopsi tinggi, tata kelola dan literasi kecerdasan artifisial (AI) di ruang redaksi dinilai belum sepenuhnya matang. Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko, memaparkan bahwa jurnalis mengadopsi AI secara sangat personal, bahkan menggunakan sapaan akrab seperti "Bro" saat memasukkan prompt . Baca Juga: Microsoft Rilis Daftar Pekerjaan Paling Terpapar AI Mayoritas output atau sebesar 94 persen yang dihasilkan masih berupa teks, sedangkan sisanya berupa grafis, foto, hingga konten multimedia. Untuk platform, ChatGPT mendominasi penggunaan sebesar 86 persen. Posisi selanjutnya diisi oleh Gemini (63 persen), Deepseek (12 persen), Copilot (9 persen), dan Notebook LM (6 persen). Selain itu, ragam aplikasi seperti Canva, Adobe Podcast, dan DeepL digunakan untuk tugas spesifik. Fungsi utama penggunaan AI oleh jurnalis masih berpusat pada pencarian ide, penentuan sudut pandang berita, serta pengubahan gaya bahasa dan struktur naskah (SEO). Pada level menengah hingga lanjut, AI mulai digunakan untuk analisis digital audiens. Namun, jurnalis menolak menggunakan AI untuk pengecekan fakta karena tingginya potensi halusinasi mesin, sehingga mereka tetap mengandalkan metode manual dan konfirmasi narasumber. Secara persepsi, 74 persen jurnalis melihat AI sebagai peluang. Lebih dari 50 persen responden merasa AI meningkatkan produktivitas, di mana kapasitas penyuntingan editor dapat melonjak dari 25 artikel menjadi 60 artikel per hari. Di sisi lain, 30 persen khawatir teknologi ini memicu kemalasan dan menurunkan kedalaman analisis laporan. Baca Juga: Idealism vs Realitas: 5 Tantangan Berat yang Dihadapi Jurnalis Gen Z di Era Digital Situasi transisi ini mendorong sejumlah media menyusun aturan internal secara mandiri. Redaktur Eksekutif Liputan6.com, Raden Trimutia Hatta, menyebut medianya telah memakai AI selama dua tahun dengan pedoman yang ketat. “Selain menjadi panduan newsroom, juga sebagai guide tim IT untuk membuat AI tools yang dibutuhkan redaksi, dan tidak keluar dari sisi jurnalistiknya,” ujar Raden. Hal serupa diterapkan oleh media Seputarpapua. Direktur Seputarpapua, Misbah Latuapo, menjelaskan redaksinya menggunakan sistem internal bernama Mas AI. Porsi pengerjaan beritanya adalah 50 persen AI dan 50 persen karya orisinal. “Artinya, secara struktur penulisan jurnalistiknya masuk, dan datanya akurat,” ucapnya. Di tingkat global, pemanfaatan serupa juga terjadi. Senior News Editor AI BBC News, Olle Zachrison, mengonfirmasi bahwa AI membantu kerja jurnalistik di redaksinya. “Implementasinya tidak hanya menyasar efisiensi alur kerja dan peningkatan produktivitas, tetapi juga eksplorasi format dan pendekatan baru,” kata Olle. Di tengah antusiasme tersebut, Dosen RMIT University, Arsisto Ambyo, mengingatkan dampak efisiensi AI terhadap ancaman pemutusan kerja jurnalis. “Siapa yang diuntungkan?” ucapnya. Ia mengingatkan bahwa produktivitas tidak boleh mengorbankan kualitas dan integritas jurnalisme di tengah maraknya disinformasi. Baca Juga: Daftar 10 Teknologi yang Mengubah Dunia: Dari Internet hingga Kecerdasan Buatan (AI) Guna menjembatani kebutuhan adaptasi ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama BBC Media Action menggelar program Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE). Kolaborasi ini dirancang untuk mendiseminasikan riset tentang AI dan merumuskan kebijakan kolektif demi menjaga keberlanjutan bisnis media dan ekosistem informasi yang sehat. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK