faktakalbar

Penjaga Pangan dari Sadaniang: Kisah Teresiayati dan Perjuangan Petani Perempuan Desa Sekabuk

Penulis: Redaksi Tuesday, 24 March 2026 📖 4 menit
Penjaga Pangan dari Sadaniang: Kisah Teresiayati dan Perjuangan Petani Perempuan Desa Sekabuk
Faktakalbar.id, MEMPAWAH - Kehidupan bertani masyarakat desa Sekabuk kabupaten Mempawah , Kalimantan Barat menjadi salah satu pondasi perekonomian masyarakat setempat. Pergerakan kelompok tani yang ada di dalamnya didominasi oleh perempuan salah satunya Teresiayati (44) petani perempuan dari dusun Sekabuk, desa Sekabuk, kecamatan Sadaniang, kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. "Kita gabung dengan bapak-bapak untuk kelompok tani, tapi dominan yang turun ke sawah itu perempuan, menanam padi, panen, cabut rumput, tebas pinggir-pinggir kotak sawah itu banyakkan perempuan. Yang laki-laki kan traktor, nyemprot, itu kerjaannya," jelas Tere waktu diwawancarai via video call , Senin, (16/3/2026). Tere juga mengatakan bahwa sebelum berangkat untuk bertani ia menyiapkan makanan pokok untuk suami dan anak-anaknya. Baca Juga:  Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Perjuangan Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis "Kalau pagi itu jam 7-10 berangkat ke sawah, sebelumnya saya siapkan makanan. Makanan pokok ajalah, terus kalau anak saya dan suami saya itu mandiri, mereka bisa menyiapkan makanan sendiri, tapi saya siapkan pokoknya jadi ketika saya tidak di rumah anak itu sudah ada makanannya," jelas Tere. Sebagai perempuan yang bergerak aktif dan sebagai aktor kunci dalam pergerakan perempuan di desa, Tere mengaku bahwa suami dan anak-anaknya juga memahami kesibukan dan aktivitas masing-masing. "Kalau suami ga pernah marah. Apapun yang saya buat dia ga pernah marah, anak saya dua. Jadi kita keseharian memang masing-masing. Anak punya aktivitas, saya punya aktivitas, suami saya punya aktivitas jadi kita memberi waktu untuk masing-masing aktivitasnya," jelas ibu dua anak tersebut. Anak-anaknya bermain dan belajar, sedangkan suaminya terkadang bekerja, beberapa waktu di rumah, sementara dirinya di desa juga terlibat di berbagai kegiatan. "Saya hadir itu saya merasakan bahagia gitu, Bu. Saya bahagia bisa mendampingi ibu-ibu yang lainnya membuat sesuatu kegiatan. Impiannya sih ingin membuat suatu kegiatan yang bermanfaat," ujarnya sembari tersenyum bangga. Tere mengatakan motivasinya aktif memberdayakan perempuan lain lahir agar peningkatan kualitas sumber daya perempuan di desanya meningkat, serta menyejahterakan kualitas hidup bersama. "Kalau saya sendiri berpikir begini. Kalau kita bisa menciptakan sesuatu yang baik maka tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya perempuan-perempuannya. Sehingga kita bisa menjadi kelompok yang maju yang bisa bersinambung antara satu dengan yang lainnya," ungkapnya Senin, (16/3/2026). Dari pandangan Tere, perempuan di desa sudah banyak yang berpikiran sama dengannya memahami konsep bahwa perbaikan kualitas ekonomi dimulai dari diri sendiri dan keluarga maka akan berdampak pula ke desa. "Sudah banyak yang berpikiran sama. Makanya kalau untuk memajukan desa berawal dari diri sendiri, kalau misalnya diri sendiri sudah menciptakan kemajuan untuk ekonomi diri sendiri atau untuk kesejahteraan keluarga dari desa juga mendapatkan manfaatnya," imbuh Tere. Namun di tengah perjalanan berprogres dalam kelompok tani bersama perempuan tani lainnya, tak jarang dijumpainya kendala yakni semangat yang pasang surut dari rekan yang lain. "Awal-awal kita mau mulai kegiatan itu semangat-semangat dulu. Nanti kalau udah dipertengahan jalan nih udah mulai redup semangat nih, aku ga sempat hari ini, aku mau ke sini, akhirnya tidak sesuai harapan memang kecewa juga padahal kita sudah menyiapkan diri gitu," ungkap Tere. Tere juga menjelaskan sedikit selain menanam padi warga setempat juga menanam tanaman lainnya. "Padi, sawit, sayur-sayuran, pisang, durian lokal," imbuhnya. Perhitungan keuntungan sawah tidak tetap melihat bagaimana hasil setiap panen Tere menjelaskan terkadang keuntungan hanya untuk makan saja jika diibaratkan. Perhitungan untung ruginya dimulai dari buka lahan, beli pupuk, penanaman, racun rumput dan lain sebagainya dibandingkan dengan hasil panen. "Kemarin saya hasilnya kurang bagus cuma dapat satu ton untung sedikit saja. Satu ton itu dengan harga lima ribu tiga ratus rupiah berarti satu tonnya lima juta tiga ratus sedangkan modal tiga juta," jelasnya. Penghasilan yang beragam itu diduga karena banyak faktor, terlebih ditunjang lagi beban ganda yang dibebankan kepada perempuan hingga proses pemeliharaan sawah tidak terkondisikan dengan baik. "Penghasilan itu beda-beda, tidak bisa kita hitung. Kalau ada yang dapat banyak, ada yang tidak menghasilkan, karena kurang perawatan, karena kemarau, tanah kering, kemudian pas perawatan kurang pas, karena waktu tadi dibagi sana-sini, jadi tidak tepat sasaran pemupukan, penyemprotan. Itu juga bisa mengakibatkan penurunan hasil panen. Berpengaruh dia," ungkap Tere. Tere sempat alami kendala saat harga gabah turun dan juga gabah hasil panen tidak sebanyak tahun biasanya, ia mengungkapkan kekecewaannya bahkan nyaris takut untuk membuka sawah lagi. "Pernah seperti itu, itu pasti mengalami kerugianlah kepada diri saya atau teman-masing saya petani lainnya dengan warga yang turun hasil turun, kalau saya sebenarnya mengalami seperti itu rasanya di periode ke depannya tidak mau lagi buka lahan. Kalau solusi saling menyemangati supaya ke depannya akan mendapatkan hasil yang lebih baik, membagi ilmu merawat hasil yang berhasil itu membagikan cara bagaimana penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat hingga hasil panen meningkat," paparnya. Izhar selaku Kepala Dusun desa Pak Nungkat, desa Sekabuk menyoroti peran ganda yang ditanggung oleh perempuan di mana perempuan secara budaya sosial dilanggengkan untuk bertanggung jawab pada urusan rumah dan tanah. "Perempuan sebenarnya pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga, waktu mereka dihabiskan di ladang dari pagi sampai sore," ungkapnya setelah pemaparan Diseminasi Feminist Participatory Action Research (FPAR), Jumat, (13/3/2026). Tak hanya Izhar, Ageng selaku penggiat sosial Gemawan yang mendampingi masyarakat Desa Sekabuk dan Barangan turut angkat bicara mengenai daya adaptasi perempuan dalam menghadapi perubahan yang ada di lingkungan kehidupannya. "Perempuan sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika kondisi ekonomi berubah mereka mencoba berbagai cara, termasuk berjualan dan mencari sumber penghasilan lain untuk membantu keluarga," tegasnya, Jumat, (13/3/2026). Baca Juga:  Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK