faktakalbar

Pentagon Resmi Gunakan Google Gemini Jalankan Tugas Militer

Penulis: Redaksi Friday, 13 March 2026 📖 1 menit
Pentagon Resmi Gunakan Google Gemini Jalankan Tugas Militer
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Departemen Pertahanan Amerika Serikat meluncurkan agen kecerdasan buatan Gemini untuk lebih dari tiga juta pegawai sipil dan militer. Integrasi teknologi ini bertujuan mempercepat penyelesaian tugas administratif pada jaringan operasional. Sistem komputasi kecerdasan buatan ini siap membantu berbagai tugas harian para pegawai. Pejabat Penelitian dan Rekayasa Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Emil Michael, memastikan teknologi ini merampingkan beban kerja instansinya secara signifikan. "Delapan agen yang sudah dibuat sebelumnya akan membantu otomatisasi tugas seperti merangkum catatan rapat, menyusun anggaran, dan memeriksa kesesuaian tindakan yang diusulkan terhadap strategi pertahanan nasional," ungkap Emil Michael. Baca Juga:  Kepala Tim Robotika OpenAI Mundur Imbas Kesepakatan Kontroversial dengan Pentagon Pembuatan Agen Khusus Para pegawai juga memiliki kemampuan merancang agen khusus sesuai kebutuhan unit kerja mereka masing-masing. Pimpinan divisi teknologi perusahaan penyedia layanan, Jim Kelly, menyoroti kemudahan operasional sistem ini bagi pengguna saat menjalankan tugas. "Pegawai Departemen Pertahanan juga dapat membuat agen khusus menggunakan bahasa alami," jelas Jim Kelly. Jutaan pegawai militer telah memanfaatkan portal kecerdasan buatan ini secara intensif sejak akhir tahun lalu. Mereka menjalankan puluhan juta instruksi unik dan mengunggah jutaan dokumen kerja ke dalam peladen komputasi. Tingkat adopsi teknologi yang masif ini mendorong otoritas pertahanan mempercepat program pelatihan. Mereka menargetkan puluhan ribu pegawai segera merampungkan sesi pelatihan agar mampu mengoperasikan sistem secara optimal. Langkah ekspansi militer ini memicu penolakan keras dari kalangan pekerja sektor teknologi. Ratusan karyawan perusahaan pengembang menandatangani surat terbuka yang mendesak perusahaan mereka mempertahankan kebijakan etika kecerdasan buatan yang berpihak pada kemanusiaan. Baca Juga:  Google Gemini Makin Canggih, Bisa Jadi Asisten Pribadi Para pekerja menolak keterlibatan teknologi mereka untuk keperluan pengawasan massal maupun sistem persenjataan otonom. Mereka menilai penggunaan teknologi kecerdasan buatan pada ranah militer berpotensi membahayakan warga sipil. (*Sr)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK