faktakalbar

Penyebab Kematian Mendadak Saat Lari: Dokter Jelaskan Risiko Henti Jantung, Dehidrasi, dan Cuaca Ekstrem

Penulis: Dimas Tuesday, 09 December 2025 📖 2 menit
Penyebab Kematian Mendadak Saat Lari: Dokter Jelaskan Risiko Henti Jantung, Dehidrasi, dan Cuaca Ekstrem
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Insiden meninggalnya dua peserta Siksorogo Lawu Ultra 2025 , Minggu (7/12/2025), kembali memunculkan pertanyaan besar tentang risiko kematian mendadak saat berlari. Kasus ini menjadi pengingat bahwa aktivitas lari tetap menyimpan potensi bahaya jika kondisi tubuh tidak dipahami dengan benar. Baca Juga: Pentingnya Pemanasan Sebelum Olahraga 5-10 Menit: Dokter Jelaskan Manfaat dan Gerakan Dinamis Lalu, mengapa seseorang bisa tiba-tiba meninggal saat lari? 1. Risiko Utama: Henti Jantung Mendadak Dokter sekaligus Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis, dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K, menjelaskan bahwa Penyebab Kematian Mendadak Saat Lari yang paling sering terjadi adalah gangguan jantung akut, terutama pada individu yang tidak sadar memiliki masalah jantung sebelumnya. Masalah Terpicu: Kelainan seperti aritmia, penyempitan pembuluh darah, atau kelainan bawaan struktur jantung dapat terpicu oleh aktivitas intens. Kelewatan Golden Time : “Ketika jantung dipaksa bekerja melebihi kapasitas, Risiko Henti Jantung Saat Lari meningkat. Kalau golden time pertolongan terlewat, peluang selamatnya sangat kecil,” kata Iwan. 2. Dehidrasi dan Kehilangan Elektrolit Lari jarak jauh membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar. Jika tidak diganti, kondisi ini bisa berujung fatal. Dampak Fatal: “Dehidrasi berat bisa memengaruhi kestabilan jantung dan fungsi organ lain. Pelari sering merasa ‘masih kuat’ padahal tubuhnya sudah lampu merah,” jelasnya. Tanda Bahaya: Tanda-tandanya bisa berupa pusing, mual, meriang, dan lemas ekstrem. “Begitu muncul gejala itu, harus berhenti. Jangan memaksakan diri,” tegasnya. 3. Cuaca Ekstrem Menambah Beban Tubuh Dalam kejadian Siksorogo Lawu Ultra 2025, hujan deras membuat suhu tubuh pelari tidak stabil. Beban Berlipat: “Cuaca ekstrem, baik panas atau dingin, memaksa tubuh bekerja dua kali lipat untuk menjaga suhu. Dampaknya bisa sangat signifikan bagi pelari,” kata Iwan. Kondisi dingin ekstrem dapat memengaruhi pernapasan, daya tahan, hingga fungsi jantung. Tanda Tubuh yang Tidak Boleh Diabaikan Iwan menegaskan bahwa tubuh selalu memberi sinyal sebelum kolaps. Pelari wajib berhenti jika mengalami: Nyeri dada Jantung berdebar tidak teratur Napas pendek atau sesak Pusing atau penglihatan gelap Menggigil di tengah aktivitas Mual hebat “Kalau muncul gejala itu, stop segera. Lebih baik kehilangan satu race daripada kehilangan nyawa,” katanya. Pentingnya Skrining Kesehatan Iwan menyoroti pentingnya skrining kesehatan sebelum event lari jarak menengah hingga jauh. Baca Juga: Saran Dokter: Jenis Olahraga Terbaik untuk Penderita Diabetes, Fokus Pembakar Lemak Minimal, pelari sebaiknya melakukan: Pemeriksaan jantung Evaluasi kondisi kebugaran Pengecekan riwayat penyakit Rencana pola makan dan hidrasi sebelum, ketika, dan setelah lomba (*Drw)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK