faktakalbar

Penyusulan Bauksit atas Nikel Dinilai Terlambat, Pengembangan Industri Smelter Nasional Dinilai Lamban

Realisasi investasi hilirisasi bauksit mencatatkan lonjakan tajam sebesar 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026 jika dibandingkan dengan capaian kuartal sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun.

Penulis: Natash Wednesday, 22 July 2026 📖 1 menit
Penyusulan Bauksit atas Nikel Dinilai Terlambat, Pengembangan Industri Smelter Nasional Dinilai Lamban
Aktivitas pekerja industri pengolahan mineral di tengah melesatnya dampak hilirisasi bauksit nasional bagi perekonomian. (Dok. Ist)

Realisasi investasi hilirisasi bauksit mencatatkan lonjakan tajam sebesar 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026 jika dibandingkan dengan capaian kuartal sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun.

Pencapaian melesat ini menempatkan bauksit sebagai komoditas penyumbang investasi hilirisasi terbesar pada periode tersebut.

Lonjakan angka investasi ini sekaligus menggeser posisi komoditas nikel yang selama beberapa tahun terakhir mendominasi peta pengolahan mineral nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengonfirmasi terjadinya perubahan peta kekuatan investasi komoditas mineral tersebut dalam laporan resminya.

"Kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini, ada shifting, bauksit menjadi nomor satu, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali mengambil tempat nomor satu sesudah nikel," kata Rosan.

Pergeseran tren ini tercatat memposisikan realisasi investasi hilirisasi bauksit mengungguli sektor nikel yang mengantongi angka Rp29,4 triliun.

Sementara itu, komoditas tembaga menyumbang angka Rp16,7 triliun, disusul besi baja senilai Rp13,2 triliun, serta pasir silika sebesar Rp4 triliun.

Salah satu pendorong utama lonjakan ini berkat keberadaan fasilitas pengolahan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat.

Proyek strategis yang dikembangkan oleh Grup MIND ID melalui konsorsium PT Inalum dan PT Antam Tbk tersebut memiliki kapasitas hingga satu juta ton alumina per tahun.

Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno menyambut positif perkembangan struktur investasi mineral yang kini mulai terdistribusi merata di luar sektor nikel.

"Kami menyambut gembira capaian investasi di sektor hilirisasi bauksit melalui peningkatan tajam investasi smelter. Jika dilihat dari perkembangannya di masa lalu, kita memang menunggu lebih banyak lagi investasi di sektor smelter bauksit karena cenderung tertinggal dibandingkan investasi di sektor nikel," ucap Eddy.

(*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK