Perbedaan Introvert dan Ekstrovert Menurut Psikologi
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat sering melabeli seseorang yang pendiam sebagai introvert dan yang ramai sebagai ekstrovert. Namun, pemahaman umum ini sering kali kurang tepat secara medis.
Memahami perbedaan introvert dan ekstrovert sesungguhnya bukan sekadar menilai perilaku sosial, melainkan mengenali cara otak manusia memproses energi.
Psikolog menegaskan bahwa tipe kepribadian ini mempengaruhi bagaimana seseorang mengisi ulang energi mental mereka.
Salah memahami konsep dasar ini sering kali memicu kesalahpahaman dalam hubungan kerja maupun personal.
Baca Juga:
5 Cara Ampuh Introvert Mengembalikan Energi
Asal Usul: Energi Keluar vs Energi Masuk
Istilah ini pertama kali populer lewat psikiater asal Swiss,
Carl Gustav Jung
, pada tahun 1920-an. Dalam teori kepribadiannya, Jung tidak membedakan keduanya berdasarkan sifat pemalu atau pemberani, melainkan berdasarkan arah energi psikis seseorang.
Jung menjelaskan bahwa seorang ekstrovert mendapatkan energi dari interaksi dengan dunia luar (
outward turning
). Sebaliknya, seorang introvert memusatkan energi ke dalam diri sendiri (
inward turning
). Itulah sebabnya, seorang introvert sering merasa lelah setelah bersosialisasi panjang, sementara ekstrovert justru merasa hidup saat berada di keramaian.
Perbedaan Biologis pada Otak
Sains modern membuktikan bahwa perbedaan ini bukan sekadar preferensi, tetapi terletak pada struktur kimia otak.
Dr. Marti Olsen Laney
, peneliti sekaligus penulis buku
The Introvert Advantage
, memaparkan bukti neurosains mengenai perbedaan respons otak terhadap zat kimia.
Dr. Laney merinci perbedaan biologis tersebut sebagai berikut:
Baca Juga:
5 Cara Ekstrovert Mengisi Ulang Energi
Respon Dopamin pada Ekstrovert
Otak orang ekstrovert memiliki sistem saraf yang membutuhkan asupan
dopamin
(hormon kepuasan) yang tinggi. Dr. Laney menjelaskan bahwa mereka memerlukan stimulasi eksternal yang kuat seperti percakapan seru, musik keras, atau tantangan baru untuk memicu rasa puas dan aktif di otak mereka.
Dominasi Asetilkolin pada Introvert
Sebaliknya, otak introvert jauh lebih sensitif terhadap dopamin. Stimulasi yang berlebihan justru membuat mereka merasa
overstimulated
atau kelelahan. Dr. Laney menyebutkan bahwa otak introvert lebih dominan menggunakan jalur saraf
asetilkolin
, zat kimia yang memicu rasa tenang dan fokus saat suasana hening atau saat berpikir mendalam.
(*Sari)
Tag:
#kesehatan mental
#perbedaan introvert dan ekstrovert
#apa itu introvert
#ciri ekstrovert
#psikologi kepribadian
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.