faktakalbar

Perbedaan Introvert dan Ekstrovert Menurut Psikologi

Penulis: Redaksi Friday, 26 December 2025 📖 1 menit
Perbedaan Introvert dan Ekstrovert Menurut Psikologi
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat sering melabeli seseorang yang pendiam sebagai introvert dan yang ramai sebagai ekstrovert. Namun, pemahaman umum ini sering kali kurang tepat secara medis. Memahami perbedaan introvert dan ekstrovert sesungguhnya bukan sekadar menilai perilaku sosial, melainkan mengenali cara otak manusia memproses energi. Psikolog menegaskan bahwa tipe kepribadian ini mempengaruhi bagaimana seseorang mengisi ulang energi mental mereka. Salah memahami konsep dasar ini sering kali memicu kesalahpahaman dalam hubungan kerja maupun personal. Baca Juga:  5 Cara Ampuh Introvert Mengembalikan Energi Asal Usul: Energi Keluar vs Energi Masuk Istilah ini pertama kali populer lewat psikiater asal Swiss, Carl Gustav Jung , pada tahun 1920-an. Dalam teori kepribadiannya, Jung tidak membedakan keduanya berdasarkan sifat pemalu atau pemberani, melainkan berdasarkan arah energi psikis seseorang. Jung menjelaskan bahwa seorang ekstrovert mendapatkan energi dari interaksi dengan dunia luar ( outward turning ). Sebaliknya, seorang introvert memusatkan energi ke dalam diri sendiri ( inward turning ). Itulah sebabnya, seorang introvert sering merasa lelah setelah bersosialisasi panjang, sementara ekstrovert justru merasa hidup saat berada di keramaian. Perbedaan Biologis pada Otak Sains modern membuktikan bahwa perbedaan ini bukan sekadar preferensi, tetapi terletak pada struktur kimia otak. Dr. Marti Olsen Laney , peneliti sekaligus penulis buku The Introvert Advantage , memaparkan bukti neurosains mengenai perbedaan respons otak terhadap zat kimia. Dr. Laney merinci perbedaan biologis tersebut sebagai berikut: Baca Juga:  5 Cara Ekstrovert Mengisi Ulang Energi Respon Dopamin pada Ekstrovert Otak orang ekstrovert memiliki sistem saraf yang membutuhkan asupan dopamin (hormon kepuasan) yang tinggi. Dr. Laney menjelaskan bahwa mereka memerlukan stimulasi eksternal yang kuat seperti percakapan seru, musik keras, atau tantangan baru untuk memicu rasa puas dan aktif di otak mereka. Dominasi Asetilkolin pada Introvert Sebaliknya, otak introvert jauh lebih sensitif terhadap dopamin. Stimulasi yang berlebihan justru membuat mereka merasa overstimulated atau kelelahan. Dr. Laney menyebutkan bahwa otak introvert lebih dominan menggunakan jalur saraf asetilkolin , zat kimia yang memicu rasa tenang dan fokus saat suasana hening atau saat berpikir mendalam. (*Sari)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK