faktakalbar

Perdebatan Sengit: Haruskah Pembalut Sekali Pakai Dicuci Sebelum Dibuang? Ini Faktanya

Penulis: Redaksi Friday, 23 January 2026 📖 2 menit
Perdebatan Sengit: Haruskah Pembalut Sekali Pakai Dicuci Sebelum Dibuang? Ini Faktanya
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di kalangan masyarakat Indonesia, terdapat sebuah "aturan tak tertulis" yang diwariskan turun-temurun kepada anak perempuan: "Pembalut harus dicuci bersih sampai darahnya hilang sebelum dibuang, pamali kalau tidak." Alasannya beragam, mulai dari faktor kebersihan, ketakutan akan bau, hingga mitos-mitos supranatural yang menyebut darah haid mengundang makhluk halus. Namun, jika kita melihat dari kacamata medis dan lingkungan modern, apakah tindakan mencuci pembalut sekali pakai itu benar-benar higienis dan diperlukan? Jawabannya mungkin akan mengejutkan banyak perempuan: Sebaiknya tidak . Baca Juga:  Bukan Hamil, 5 Alasan Siklus Menstruasimu Berantakan Berikut adalah penjelasan logis mengapa kebiasaan mencuci pembalut sekali pakai justru bisa merugikan: 1. Desain untuk Menampung, Bukan Dibilas Pembalut sekali pakai modern dirancang dengan teknologi Super Absorbent Polymer (SAP). Ini adalah bahan gel yang bertugas mengubah cairan darah menjadi gel agar tidak bocor. Jika Anda mencuci pembalut tersebut di bawah kran air: Bahan penyerap di dalamnya akan menyerap air kran, membengkak, dan akhirnya "meledak" atau robek. Gel yang hancur ini akan berhamburan keluar, membuat kamar mandi kotor dan berlendir, yang justru tidak higienis . 2. Pencemaran Lingkungan dan Saluran Air Ini adalah dampak yang paling jarang disadari. Saat Anda membilas pembalut sekali pakai, Anda sedang melarutkan bahan kimia, pemutih (klorin), dan mikroplastik yang ada di dalam pembalut langsung ke saluran pembuangan air. Limbah cair ini akhirnya akan bermuara ke sungai dan laut, mencemari ekosistem air. Selain itu, gel yang terlepas bisa menyumbat pipa pembuangan rumah tangga Anda. 3. Potensi Penyebaran Bakteri Mencuci pembalut berarti Anda menyentuh area yang penuh bakteri dan darah dalam waktu lama dengan tangan telanjang. Cipratan air saat mencuci juga bisa menyebarkan bakteri dari pembalut ke dinding, lantai, atau peralatan mandi lainnya (sikat gigi/handuk) yang ada di dekatnya. Lalu, Bagaimana Cara Membuang yang Tepat? Alih-alih mencucinya hingga putih kembali (yang nyaris mustahil dilakukan pada pembalut modern), lakukan protokol " Lipat, Bungkus, Buang": Lipat: Gulung pembalut bekas dengan sisi yang kotor berada di dalam. Bungkus: Gunakan pembungkus dari pembalut baru atau koran/kertas bekas/tisu. Pastikan tertutup rapat agar aroma tidak keluar dan tidak mengundang lalat. Buang: Masukkan ke tempat sampah tertutup. Darah menstruasi adalah materi biologis yang akan terurai secara alami, sama seperti limbah organik lainnya. Pengecualian: Pembalut Kain ( Reusable Pads ) Aturan di atas hanya berlaku untuk pembalut sekali pakai. Jika Anda adalah pengguna pembalut kain atau celana menstruasi, maka wajib hukumnya untuk mencuci bersih. Pada pembalut kain, tidak ada bahan kimia gel yang akan hancur. Mencucinya dengan air dingin dan sabun lembut sangat diperlukan untuk membunuh bakteri, mencegah jamur, dan menjaga kesehatan organ reproduksi perempuan agar bisa dipakai ulang dengan aman. Menjadi perempuan yang peduli kebersihan itu penting. Namun, kita juga perlu bijak memilah mana kebiasaan yang didasari fakta kesehatan dan mana yang sekadar mitos. Untuk pembalut sekali pakai, biarkan ia menjalankan fungsinya: pakai, bungkus rapat, lalu buang. Hemat air, jaga lingkungan, dan tetap bersih. Baca Juga:  Jangan Anggap Remeh! Ini Bahaya Membiarkan Anemia Saat Datang Bulan (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK