faktakalbar

Perkuat Manajemen Risiko GRC, Bank Kalbar Jaga Pertumbuhan Bisnis Sehat

Faktakalbar.id - PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat memamerkan penguatan sistem Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai landasan menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan di Jakarta. Perusahaan terus mengasah efisiensi tata kelola int…

Penulis: Wati Saturday, 01 August 2026 📖 2 menit
Perkuat Manajemen Risiko GRC, Bank Kalbar Jaga Pertumbuhan Bisnis Sehat

Faktakalbar.id - PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat memamerkan penguatan sistem Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai landasan menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan di Jakarta.

Perusahaan terus mengasah efisiensi tata kelola internal untuk menghadapi tantangan persaingan era digital serta risiko serangan siber yang kian kompleks.

Penerapan kerangka kerja manajemen risiko tersebut memicu capaian kinerja finansial yang solid sepanjang tahun 2025 dengan total aset menembus Rp27,68 triliun.

Selain pertumbuhan aset, penghimpunan dana pihak ketiga berhasil dihimpun sebesar Rp21,11 triliun dan penyaluran kredit mencapai Rp18,07 triliun.

Kinerja keuangan positif ini dibarengi perolehan laba bersih sebesar Rp511,14 miliar serta tingkat rasio kecukupan modal atau CAR yang perkasa di angka 36,97 persen.

Direktur Kepatuhan Bank Kalbar, R.S.M. Al Amin, memaparkan strategi perbankan daerah tersebut saat mengikuti proses penjurian TOP GRC Awards 2026.

“Secara umum sebagaimana perbankan pada umumnya, Bank Kalbar juga mengadapi berbagai tantangan dan isu strategis yang terus berkembang. Berbagai tantangan strategis, di antaranya berupa percepatan transformasi digital, dinamika regulasi, peningkatan risiko siber, menjaga kualitas aset, serta penguatan tata kelola. Menyikapi hal ini,implementasi GRCsebagai instrument penting, manajemen risiko, dan kepatuhan terus kita perkuat, sebagai bagian dari strategi mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ungkap Al Amin.

Manajemen menegaskan bahwa kerangka kepatuhan bukan sekadar prosedur formalitas hukum melainkan fondasi pengambil keputusan bisnis yang matang.

“Penerapan GRC menjadi fondasi strategis yang memastikan tata kelola berjalan baik, pengelolaan risiko dilakukan secara terukur, serta kepatuhan terhadap regulasi tetap terjaga. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis dapat dapat terus berlangsung secara sehat,” ujarnya.

Perseroan secara konsisten menerapkan pembagian pengawasan melalui Three Lines Model dengan melibatkan unit bisnis, divisi pengawas, hingga audit internal independen.

Delapan cakupan risiko perbankan mulai dari risiko kredit hingga reputasi berhasil dijaga pada kategori Low to Moderate.

Divisi Audit Intern sepanjang periode lalu menyelesaikan 28 tugas audit lapangan untuk menyempurnakan prosedur standar operasional kerja.

Langkah mitigasi dini dijalankan jajaran direksi melalui pemantauan indikator risiko utama saban bulan secara terukur.

Penataan regulasi internal mencakup perbaikan pedoman perilaku bisnis, sistem anti pencucian uang, hingga pencegahan penyuapan.

“Direksi juga memonitor berbagai Key Risk Indicator setiap bulan, mulai dari kualitas kredit, likuiditas, transaksi operasional hingga keamanan sistem teknologi informasi. Langkah ini dilakukan agar potensi risiko dapat diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini,” katanya.

Inisiatif lingkungan hidup turut disisipkan ke dalam program kerja keuangan berkelanjutan melalui penyaluran pembiayaan hijau serta perintisan evaluasi risiko iklim.

Sertifikasi standar internasional seperti ISO 27001 dan registrasi tim tanggap insiden siber BSSN membentengi operasional digital perusahaan.

Seluruh pegawai dan jajaran manajemen telah mengikatkan diri pada deklarasi budaya patuh, sadar risiko, serta gerakan anti kecurangan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK