faktakalbar

Pernah Hits di Era 90-an, Ini Fakta Unik Es Gabus yang Teksturnya 'Menipu' Lidah

Penulis: Redaksi Tuesday, 03 February 2026 📖 2 menit
Pernah Hits di Era 90-an, Ini Fakta Unik Es Gabus yang Teksturnya 'Menipu' Lidah
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Media sosial belakangan ini kembali meramaikan tren kuliner vintage . Salah satu yang paling menyita perhatian adalah kembalinya Es Gabus. Jajanan yang dulu dijajakan oleh bapak-bapak pedagang keliling di depan pagar sekolah ini, kini mendadak viral dan dicari-cari oleh Generasi Z hingga milenial yang rindu masa kecil. Es gabus bukan sekadar es beku biasa. Baca Juga:   Bernostalgia dengan 4 Jajanan Jadul yang Bikin Kangen Masa Kecil Ia adalah saksi bisu kebahagiaan sederhana anak-anak era 90-an. Di balik kesederhanaannya yang murah meriah, es ini menyimpan keunikan yang sulit ditemukan pada es krim modern mahal sekalipun. Berikut adalah fakta menarik tentang es gabus, "si kue beku" yang tak lekang oleh zaman. 1. Tekstur Ajaib yang "Menipu" Namanya mungkin terdengar aneh bagi yang baru mengenalnya. Kenapa disebut "gabus"? Apakah keras seperti kayu? Ternyata justru sebaliknya. Nama ini diambil dari sensasi unik saat es tersebut digigit. Tidak seperti es lilin yang keras atau es krim susu yang creamy , es gabus memiliki tekstur padat namun empuk dan sedikit berserat halus, mirip gabus busa. Namun, begitu masuk ke mulut, ia akan lumer dengan lembut. Sensasi "menggigit gabus" inilah yang tidak dimiliki oleh jenis es krim manapun di dunia. 2. Magisnya Tepung Hunkwe Rahasia di balik tekstur unik tersebut adalah Tepung Hunkwe. Ini membuktikan kecerdasan kuliner lokal kita. Jika es krim barat menggunakan susu dan telur, es gabus mengandalkan pati kacang hijau (hunkwe). Adonan ini dimasak terlebih dahulu hingga menjadi seperti jenang atau kue, baru kemudian dibekukan. Proses pemasakan ini membuat es gabus sangat aman bagi pencernaan, bahkan untuk anak-anak, karena bahannya matang sempurna sebelum masuk lemari pendingin. 3. Estetika "Pelangi" yang Mendahului Zaman Jauh sebelum kafe-kafe kekinian berlomba membuat menu bertema rainbow atau unicorn , bapak penjual es gabus sudah lebih dulu mempopulerkan estetika warna-warni. Tumpukan warna merah, kuning, hijau, atau cokelat bukan hanya pemanis mata, tapi strategi jenius para pedagang tradisional untuk memikat hati anak-anak sepulang sekolah. Kini, tampilan warna-warni itulah yang membuatnya sangat fotogenik dan share-able di media sosial seperti TikTok dan Instagram. 4. Camilan Gluten-Free yang Tak Disengaja Tanpa label "makanan sehat" yang muluk-muluk, es gabus sejatinya adalah camilan yang ramah kesehatan. Karena berbahan dasar pati kacang hijau, es ini secara alami bebas gluten ( gluten-free ). Selain itu, santan yang digunakan memberikan rasa gurih alami yang khas Indonesia. Ini adalah bukti bahwa jajanan jadul kita sebenarnya memiliki kualitas gizi yang tidak kalah, bahkan lebih alami dibanding camilan pabrikan penuh pengawet. 5. Simbol Nostalgia yang "Naik Kelas" Kembalinya es gabus bukan sekadar tren sesaat, melainkan bentuk apresiasi terhadap kuliner masa lalu. Jika dulu es ini hanya dijual di gerobak sederhana dengan pemotong senar gitar, kini es gabus mulai masuk ke menu dessert di kedai kopi hingga restoran dengan penyajian yang lebih modern. Meskipun "naik kelas", rasa rindu pada potongan es gabus yang dibungkus plastik tipis dari tangan bapak penjual keliling tetap tak tergantikan. Jajanan ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang dari sepotong es sederhana yang manis dan penuh warna. Baca Juga:  Arogansi Aparat di Kemayoran, Pedagang Es Gabus Jadi Korban Kekerasan dan Salah Tuduh (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK