faktakalbar

Pesan Toleransi Wagub Kalbar Saat Lepas Ribuan Peserta Pawai Ogoh-Ogoh di Kubu Raya

Penulis: Redaksi Friday, 20 March 2026 📖 2 menit
Pesan Toleransi Wagub Kalbar Saat Lepas Ribuan Peserta Pawai Ogoh-Ogoh di Kubu Raya
Faktakalbar.id, KUBU RAYA – Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, secara resmi melepas peserta kegiatan pawai ogoh-ogoh di Kubu Raya pada Rabu (18/3/2026). Pelepasan parade keagamaan dalam rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 tersebut dipusatkan di pelataran Pura Giripati Mulawarman, yang berlokasi di Jalan Adisucipto, Kecamatan Sungai Raya. Baca Juga: Menghentikan Dunia Sejenak, Ini 4 Fakta Unik dari Nyepi yang Jarang Diketahui Pelaksanaan pawai ogoh-ogoh di Kubu Raya ini tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian tradisi dan budaya umat Hindu, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang sarat makna. Prosesi mengarak patung raksasa tersebut menjadi sarana dan momentum refleksi diri, membersihkan pikiran, serta memulai tata kehidupan baru yang lebih selaras dengan nilai-nilai kebajikan. Selain itu, kegiatan keagamaan ini secara langsung mencerminkan kuatnya ikatan kebhinekaan di Provinsi Kalimantan Barat dalam kehidupan sosial sehari-hari. Berbagai elemen masyarakat terpantau tidak sekadar hidup berdampingan secara damai, tetapi juga saling mendukung dalam perayaan tradisi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa setiap budaya dan keyakinan diberikan ruang yang sama untuk tumbuh serta dihormati keberadaannya. Baca Juga: Memasuki Keheningan Total, Inilah 4 Pantangan Saat Nyepi yang Wajib Diketahui Dalam sambutan resminya, Krisantus menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akan terus berkomitmen mendukung seluruh agenda kegiatan keagamaan sebagai bagian integral dari kekayaan keberagaman di Indonesia. “Ini adalah wujud bahwa semua anak bangsa hidup berdampingan, saling toleransi dan kasih mengasihi. Itu yang saya harapkan,” ujar Krisantus di hadapan para peserta pawai. Ia juga secara khusus menekankan bahwa wilayah Kalimantan Barat merupakan ruang milik bersama seluruh warganya, tanpa mengenal adanya sekat antara kelompok mayoritas maupun minoritas. “Tidak ada kelompok dominan dan tidak dominan. Kita semua adalah pemilik Kalimantan Barat, dan kita harus mencintainya,” tegasnya. Pada momentum menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 ini, Wagub Kalbar turut mengingatkan bahwa esensi utama dari Nyepi tidak sebatas berdiam diri. Lebih dari itu, Nyepi adalah sarana ritual penyucian diri dari berbagai sifat dan energi negatif manusia. “Jika hati kita bersih, saya yakin Kalimantan Barat akan menjadi provinsi yang indah dan sejahtera,” tambahnya. Melihat tingginya antusiasme umat dan warga sekitar yang menyaksikan pawai, Krisantus berharap tradisi budaya ini dapat diselenggarakan dengan skala yang jauh lebih besar pada tahun-tahun berikutnya. Ia memproyeksikan kegiatan keagamaan ini mampu dikelola menjadi magnet daya tarik pariwisata daerah. “Saya ingin ke depan lebih meriah, bahkan bisa dimulai dari Kantor Gubernur agar semakin menarik perhatian masyarakat dan wisatawan,” tutupnya. Sebagai informasi, ogoh-ogoh merupakan karya seni patung raksasa yang secara visual melambangkan wujud Bhuta Kala atau perwujudan energi negatif di alam semesta. Tradisi pengarakan ini rutin dilaksanakan pada malam Pengerupukan atau tepat sehari sebelum perayaan Nyepi (H-1). Setelah selesai diarak keliling lingkungan, patung ogoh-ogoh tersebut kemudian dibakar hingga musnah sebagai simbolisasi penyucian diri umat manusia dan pembersihan lingkungan dari segala keburukan. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK