faktakalbar

Pokir DPRD Kalbar Miliaran Rupiah Hanya Untuk Proyek Kajian di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Dinilai Tak Jelas Manfaatnya

Penulis: Redaksi Tuesday, 25 November 2025 📖 2 menit
Pokir DPRD Kalbar Miliaran Rupiah Hanya Untuk Proyek Kajian di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Dinilai Tak Jelas Manfaatnya
Faktakalbar.id, KALIMANTAN BARAT - Alokasi Pokir DPRD Kalbar yang diduga milik anggota DPRD Kalimantan Barat berinisial ( TA) , untuk kegiatan kajian dan penelitian bidang pertanian mencapai total Rp6 miliar . Seluruh anggaran Pokir DPRD Kalbar Rp6 Miliar tersebut tercatat di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Kalbar dan hanya berbentuk studi, kajian, serta pemetaan yang tersebar di sejumlah kabupaten. Total nilai anggaran ini mencapai Rp6 miliar dan bersumber dari APBD Provinsi Kalimantan Barat. Namun hingga kini, tidak ada informasi terbuka yang menjelaskan di mana hasil kajian-kajian tersebut dapat diakses atau dilihat publik. Laporan akhir, rekomendasi teknis, maupun dokumen output yang seharusnya menjadi produk utama kegiatan tersebut tidak ditemukan dalam kanal informasi resmi pemerintah daerah maupun laman instansi terkait. Padahal, seluruh kegiatan tersebut menggunakan dana publik dan semestinya menghasilkan dokumen yang bisa dimanfaatkan petani, pemerintah daerah, maupun masyarakat luas sebagai dasar perbaikan kebijakan pertanian, bukan sekadar menjadi tumpukan dokumen internal yang tertutup. Baca Juga:  KPK Geledah Dinas PUPR Riau, Berkas Proyek dan Data Pokir DPRD Diangkut GN-PK: Anggaran Kajian Tidak Transparan Patut Dipertanyakan Fakta Kalbar telah mendatangi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar dan meninggalkan nomor kontak untuk dihubungi, Jumat (21/11). Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan atau klarifikasi resmi terkait hasil, distribusi, maupun manfaat nyata dari paket kajian tersebut. Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GN-PK) Kalbar, M.Rifal , menilai pengeluaran anggaran miliaran rupiah untuk kegiatan kajian wajib disertai transparansi penuh atas hasilnya. “Kalau anggaran sampai Rp6 miliar hanya untuk kajian, maka hasilnya harus bisa dilihat dan dimanfaatkan masyarakat. Kalau tidak jelas di mana dokumennya, siapa yang menggunakannya, atau apa dampaknya, maka ini patut dipertanyakan secara serius,” kata Rifal. Menurut Rifal, dana publik seharusnya digunakan untuk program yang berdampak langsung pada masyarakat. Ia menilai, mengarahkan dana besar pada kegiatan administratif yang manfaatnya tidak terlihat di lapangan seperti ini sudah mengkhawatirkan. Baca Juga:   ‘Gurita’ Dinasti Politik Keluarga Ria Norsan Prioritas Infrastruktur Dasar Terabaikan “Padahal kita masih melihat banyak jalan rusak di berbagai daerah. Di media sosial, masyarakat sampai kesusahan membawa orang sakit karena kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Tapi anggaran miliaran justru habis untuk kajian yang tidak jelas di mana hasilnya dan siapa yang merasakannya,” ujar Rifal kepada Fakta Kalbar . Ia menilai pola pengelolaan anggaran Pokir DPRD Kalbar Rp6 Miliar seperti ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. “Anggaran-anggaran Pokir seperti ini sudah keterlaluan. Data-data yang kami lihat akan kami laporkan ke pihak berwenang supaya diusut. Di provinsi lain, pola serupa sudah mulai dibongkar dan ternyata bermasalah. Jangan sampai Kalbar ikut menjadi ladang pemborosan uang rakyat,” tegasnya, merujuk pada potensi penyimpangan anggaran APBD. Di tengah masih banyaknya persoalan infrastruktur dasar, khususnya jalan rusak, penggunaan anggaran besar untuk kajian yang tidak transparan dan tidak jelas keberadaannya menunjukkan lemahnya akuntabilitas dalam pengelolaan dana aspirasi. Fakta Kalbar akan terus menelusuri keberadaan hasil pekerjaan tersebut dan membuka ruang klarifikasi bagi pihak-pihak terkait demi memastikan penggunaan APBD berjalan transparan dan bertanggung jawab. (*Dhn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK