Psikiater IPB Ungkap Alasan Orang Lebih Galak Saat Ditagih Utang
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Fenomena orang yang berutang justru lebih Galak Saat Ditagih Utang sering kali memicu pertanyaan di masyarakat.
Ternyata, reaksi emosional tersebut memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan erat dengan respons psikologis dan biologis tubuh terhadap tekanan finansial, bukan sekadar masalah etika atau karakter pribadi.
Baca Juga:
Mengapa Orang Narsistik Cenderung Lebih Cepat Kaya? Rahasia Psikologi di Balik Kesuksesan Finansial
Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, memberikan pandangannya terkait hal ini.
Ia menjelaskan bahwa proses penagihan utang dapat memicu stres berat, khususnya ketika kondisi keuangan debitur sedang terpuruk.
Tekanan finansial ini sering dipersepsikan otak sebagai ancaman serius terhadap harga diri dan identitas personal.
"Stres keuangan dan rasa terancam pada harga diri dapat mengganggu mekanisme koping. Akibatnya, kontrol emosi melemah," ujar dr. Riati dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (6/1/2026).
Mekanisme Biologis Otak
Secara biologis, tekanan saat ditagih mengaktifkan amigdala, bagian otak yang berfungsi mendeteksi ancaman.
Pada saat yang bersamaan, fungsi
prefrontal cortex
area yang berperan dalam pengambilan keputusan rasional dan pengendalian emosi justru melemah.
"Dalam kondisi ini, otak masuk ke mode fight or flight. Respons yang muncul cenderung defensif dan emosional, bukan rasional," jelasnya.
Oleh karena itu, perilaku Galak Saat Ditagih Utang merupakan respons tubuh terhadap stres akut, rasa malu, serta tekanan identitas diri.
Meski demikian, dr. Riati menegaskan bahwa respons agresif ini tidak otomatis menandakan adanya gangguan kejiwaan.
"Selama emosi tinggi hanya muncul saat situasi tertentu, seperti ketika ditagih utang, dan tidak terjadi terus-menerus, itu masih termasuk respons stres normal," tambahnya.
Fenomena ini dikelompokkan sebagai
acute stress response
atau reaksi normal tubuh saat menghadapi tekanan mendadak.
Namun, kondisi ini perlu diwaspadai jika kemarahan sulit dikendalikan, mengganggu relasi sosial, atau disertai gejala lain seperti gangguan tidur berat.
Baca Juga:
Dewasa yang ‘Baterainya’ Awet: Benarkah Karena Tumbuh di ‘Keluarga Cemara’? Ini Kata Psikologi
Pengaruh Penagih dan Solusinya
Reaksi emosional juga dipengaruhi oleh siapa yang menagih. Jika penagih adalah teman dekat, reaksi yang muncul biasanya didasari rasa malu dan tersinggung.
Sebaliknya, jika dilakukan oleh
debt collector
, situasi dipersepsikan sebagai ancaman langsung.
Untuk menghadapi debitur yang emosional, dr. Riati menyarankan agar penagih tidak membalas dengan tekanan.
"Pendekatan yang lebih efektif adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada rendah, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama," sarannya.
"Orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar. Itu justru bisa mencegah masalah menjadi lebih besar," pungkasnya.
(Natash)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.