Poros Pengabdian Ajaran Baha'i: Materi, Intelektual, dan Spiritual Harus Maju Bersamaan
Faktakalbar.id, PONTIANAK –
Menghadapi berbagai tantangan global saat ini, baik krisis lingkungan maupun permasalahan sosial-ekonomi, dorongan untuk terus maju sering kali hanya diukur dari pencapaian finansial semata.
Padahal, kemajuan yang sejati menuntut keseimbangan di berbagai aspek kehidupan manusia.
Pandangan mendalam mengenai hakikat kemajuan manusia ini menjadi sorotan menarik dari perwakilan tokoh agama Baha'i, Suyanti April, dalam ajang
Temu Pemuda Lintas Iman (TEPELIMA)
Kalimantan Barat ke-7.
Dalam forum yang mengusung tema
"ECO-Faith Leaders for Better Future"
tersebut, ia membedah konsep pertumbuhan yang
holistik
.
Baca Juga:
Kesbangpol Pontianak Apresiasi Tepelima ke-7, Sebut Inklusi Teman Tuli sebagai Kekuatan Baru
Suyanti menjelaskan bahwa dalam ajaran Baha'i, manusia tidak bisa hanya mengejar satu bidang pencapaian saja. Ada tiga elemen utama yang wajib didorong secara beriringan agar sebuah peradaban bisa bertumbuh dengan baik.
"Dalam Baha'i, ada beberapa hal yang mengharuskan kita maju secara umum, yaitu bidang intelektual, spiritual, dan materi. Kita harus maju di tiga bidang tersebut," ungkap Suyanti dalam pemaparannya di hadapan para pemuda lintas iman.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa ketiga pilar tersebut memiliki satu titik tumpu atau landasan yang sama, yakni semangat untuk melayani sesama. Keberhasilan di bidang ekonomi maupun kecerdasan akal budi tidak akan bermakna jika tidak didedikasikan untuk kebaikan yang lebih luas.
"Poros dari ketiga bidang ini kemajuan intelektual, materi, dan spiritual—adalah pengabdian. Karena porosnya adalah pengabdian, maka ketiga-tiganya harus maju secara bersamaan. Kalau hanya salah satu yang maju, yang lainnya tidak akan berkembang," paparnya.
Keseimbangan ini, menurut Suyanti, bersifat saling mendukung. Sebuah pencapaian finansial atau materi yang baik haruslah lahir dari pikiran yang cerdas, dan pikiran yang cerdas harus dikendalikan oleh pondasi rohani yang kuat agar tidak merusak lingkungan maupun tatanan sosial.
"Ketika materinya maju, otomatis harus didukung oleh intelektual yang maju. Intelektual yang maju didukung oleh rohani yang maju pula. Tiga bidang ini berputar di satu poros yang sama untuk memikirkan semua elemen kehidupan," jelasnya menambahkan.
Di akhir pemaparannya, Suyanti mengingatkan kembali tugas mulia keberadaan manusia di muka bumi. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat lintas agama untuk menyelaraskan ambisi pribadi dengan tujuan pengabdian kolektif.
"Kita harus kembali lagi pada pemahaman bahwa tugas kita sebagai manusia adalah untuk memajukan peradaban dunia. Pengabdian ini adalah bagaimana kita mengabdi kepada umat seutuhnya. Jadi, kalau ditanya bagaimana finansialnya bisa maju, intelektualnya juga harus maju untuk berpikir kreatif, dan pada dasarnya semua ini harus dilandasi oleh kekuatan rohani," pungkasnya.
Pesan spiritual dari komunitas Baha'i ini memberikan warna tersendiri dalam perhelatan TEPELIMA ke-7.
Menjadi sebuah pengingat bahwa gaya hidup yang berkelanjutan dan ekonomi yang ramah lingkungan hanya bisa terwujud jika manusia menyeimbangkan kecerdasan otak, kekayaan materi, dan kedalaman batinnya untuk mengabdi pada bumi dan peradaban.
Baca Juga:
Tepelima Kalbar ke-7: Mempererat Lintas Iman Melalui Isu Lingkungan dan Ruang Inklusif
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.