faktakalbar

Potret Buram di Bangka: Akew Terpaksa Makan Ampas Kelapa, Hak Hidup Nyaris Terabaikan karena Tak Punya KTP

Penulis: Redaksi Tuesday, 13 January 2026 📖 2 menit
Potret Buram di Bangka: Akew Terpaksa Makan Ampas Kelapa, Hak Hidup Nyaris Terabaikan karena Tak Punya KTP
Faktakalbar.id, BANGKA — Di sebuah gubuk reot yang nyaris tak lagi tegak berdiri di kawasan Pohin, Kabupaten Bangka, seorang pria lanjut usia bernama Akew melewati hari-harinya dalam sunyi dan lapar. Di tengah hingar-bingar pembangunan daerah, Akew justru ditemukan sedang bertahan hidup dengan cara yang menyayat hati: mengonsumsi ampas kelapa dan nangka rebus sekadar untuk mengganjal perut. Kisah pilu ini tidak terungkap melalui pendataan resmi pemerintah setempat, melainkan lewat lensa kamera seorang relawan kemanusiaan, Riche, yang kemudian viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, tampak tubuh renta Akew terbaring lemah di atas dipan kayu. Baca Juga:   Kakek Masir Dituntut 2 Tahun Penjara: Benturan UU Konservasi dan Realitas Kemiskinan Struktural Semangkuk makanan tak layak konsumsi tergeletak di meja reyot, belum tersentuh karena tenaganya yang habis digerogoti usia dan penyakit. "Kadang kita merasa tidak percaya, tapi benar adanya fakta kalau masih ada saudara kita yang tidak ada beras di rumah," tulis Riche dalam unggahannya yang memantik ribuan simpati warganet. Ironisnya, saat kondisi Akew yang memprihatinkan ini mencuat ke publik, respon birokrasi justru membentur tembok administrasi. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bangka, Bahrudin Bafa, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kasus tersebut. Namun, ia menyebutkan bahwa kendala utama penyaluran bantuan sosial resmi adalah ketiadaan dokumen kependudukan. Bahrudin menyebut Akew enggan melakukan perekaman data untuk Kartu Tanda Penduduk (KTP), sebuah selembar kartu plastik yang dalam sistem birokrasi hari ini seolah menjadi syarat mutlak bagi seseorang untuk diakui keberadaannya oleh negara, bahkan saat perutnya kosong. "Intinya komunikasi, nanti kita koordinasi bagaimana pun caranya ada bantuan sosial," ujar Bahrudin, menjanjikan koordinasi di saat kondisi Akew sudah di titik nadir. Pernyataan ini seolah mempertegas fenomena klasik dalam penanganan kemiskinan di daerah: bantuan tersedia, namun seringkali terkunci rapat di balik prosedur administratif yang kaku. S ementara negara sibuk dengan urusan data dan stakeholder , warga seperti Akew harus bergantung pada uluran tangan relawan dan belas kasih tetangga untuk sekadar menyambung napas hari ini. Kasus Akew menjadi tamparan keras bagi sistem perlindungan sosial yang seharusnya proaktif menjemput bola, terutama bagi lansia sebatang kara yang tak memiliki akses maupun kemampuan fisik untuk mengurus administrasi kependudukan. Baca Juga:  Geger di Tasikmalaya, Kakek 80 Tahun Digerebek Warga Saat Berbuat Asusila dengan Pria Lansia Lain (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK