faktakalbar

Program Bapak Asuh Jadi Solusi Pelestarian Tradisi Meriam Karbit di Pontianak

Penulis: Redaksi Thursday, 20 March 2025 📖 3 menit
Program Bapak Asuh Jadi Solusi Pelestarian Tradisi Meriam Karbit di Pontianak
Faktakalbar.id, PONTIANAK - Forum Meriam Karbit di Pontianak terus berupaya mempertahankan tradisi permainan Meriam Karbit yang semakin terancam akibat kendala biaya dan bahan baku. Sebagai permainan khas masyarakat Kota Pontianak, Meriam Karbit telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2016. Permainan ini menjadi tradisi tahunan setiap bulan Ramadan dan malam Idulfitri di Kota Pontianak. Meriam Karbit dibuat dari kayu mabang atau meranti dengan diameter 50–70 cm dan panjang sekitar 5–6 meter. Agar dapat menghasilkan bunyi menggelegar, meriam ini membutuhkan bahan bakar karbit yang disulut melalui lubang khusus pada bagian meriam. Baca Juga:  Inovasi Meriam Karbit Pontianak Laporkan Serapan Anggaran dan Pendapatan Real Time Ketua Forum Meriam Karbit, Fajriudin, mengungkapkan bahwa program ‘Bapak Asuh’ merupakan solusi untuk mengatasi penurunan jumlah kelompok pemain Meriam Karbit yang cukup signifikan dalam setahun terakhir. "Masing-masing kelompok akan kita upayakan memiliki Bapak Asuh yang dapat mendukung pendanaan dan keberlangsungan kegiatan mereka. Mudah-mudahan program ini bisa terealisasi," jelasnya usai menghadiri rapat koordinasi persiapan Eksebisi Meriam Karbit yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pontianak di Ruang Rapat Wali Kota, Rabu (19/3/2025). Baca Juga:  Pontianak Raih Peringkat Kedua Indeks Pencegahan Korupsi Daerah Penurunan Jumlah Kelompok Meriam Karbit Data menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat 41 kelompok dengan total 249 meriam. Namun, pada 2025 jumlahnya menurun drastis menjadi hanya 30 kelompok dengan 184 meriam. Penurunan ini terjadi akibat masalah pendanaan serta kesulitan mendapatkan bahan baku utama berupa kayu balok. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Forum Meriam Karbit telah berkoordinasi dengan aparat keamanan guna mempermudah akses pengadaan kayu dari daerah hulu. Kayu tersebut hanya akan digunakan secara khusus untuk pembuatan Meriam Karbit. "Bahan baku menjadi kendala utama. Biasanya, kelompok Meriam Karbit menggunakan kayu balok, tetapi sekarang mulai beralih ke bahan lain," ujar Fajriudin. Eksebisi Meriam Karbit 2025 Siap Meriahkan Malam Takbiran Eksebisi Meriam Karbit 2025 akan menjadi bagian dari perayaan malam takbiran menyambut Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah di Kota Pontianak. Disdikbud Kota Pontianak telah menggelar rapat koordinasi guna memastikan kesiapan acara ini. Kepala Disdikbud Kota Pontianak, Sri Sujiarti, menjelaskan bahwa eksebisi ini akan diikuti oleh 30 kelompok yang tersebar di sepanjang Sungai Kapuas. Ia menegaskan bahwa acara ini bukan sebuah perlombaan, melainkan ajang untuk melestarikan budaya. Baca Juga:  Ani Sofian Harap Event Meriam Karbit Masuk Agenda Tetap Pariwisata "Kita bermain bersama untuk memeriahkan malam takbiran. Ada 30 kelompok yang terlibat, terdiri dari 16 kelompok di Pontianak Timur dan 14 kelompok di Pontianak Selatan serta Tenggara," terangnya. Sri juga menyebutkan bahwa eksebisi ini merupakan hasil kolaborasi berbagai perangkat daerah dan instansi terkait karena melibatkan kegiatan di darat dan air. Rencananya, acara ini akan digelar pada 30 Maret 2025, menyesuaikan dengan penetapan Hari Raya Idulfitri oleh pemerintah. "Tradisi Meriam Karbit adalah satu-satunya yang kita tahu ada di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Karena itu, eksebisi ini menjadi bagian penting dari upaya pelestarian budaya kita," tambahnya. Meskipun tradisi ini terus dipertahankan, Sri mengakui bahwa jumlah peserta eksebisi terus mengalami penurunan akibat besarnya biaya pembuatan Meriam Karbit. Oleh karena itu, Disdikbud Kota Pontianak mendukung inisiatif program ‘Bapak Asuh’ untuk membantu kelompok-kelompok yang membutuhkan. Eksebisi ini juga akan dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Kota Pontianak dan Provinsi Kalimantan Barat. Masyarakat diundang untuk menyaksikan atraksi Meriam Karbit tidak hanya pada 30 Maret, tetapi juga hingga 30 hari ke depan. "Masyarakat bahkan bisa mencoba menyulut Meriam Karbit dengan mengganti biaya karbit yang digunakan, mengingat harga karbit yang terus naik setiap tahunnya," harap Sri. Dengan berbagai upaya pelestarian ini, diharapkan tradisi Meriam Karbit tetap lestari dan terus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pontianak. (Prokopim)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK