Program 'Gentengi' Prabowo Soroti Kualitas Hunian: Ini Beda Atap Genteng dan Seng yang Wajib Tahu
Faktakalbar.id, LIFESTYLE –
Program perbaikan rumah tidak layak huni yang digagas Presiden
Prabowo Subianto
, atau yang populer dengan istilah "Gentengi", menarik perhatian publik.
Istilah ini bukan sekadar jargon, melainkan sebuah standar baru bagi kelayakan hidup masyarakat Indonesia.
Selama puluhan tahun, penggunaan atap seng atau asbes menjadi solusi instan bagi hunian
ekonomis
.
Namun, dorongan pemerintah untuk beralih ke atap genteng (tanah liat/keramik/beton) memiliki alasan kuat terkait kesehatan dan kenyamanan termal.
Baca Juga:
Manuver Dini Jelang 2029: PAN Dorong Zulhas Dampingi Prabowo dengan Dalih ‘Mesin Partai’
Lantas, apa sebenarnya perbedaan mendasar antara kedua material ini? Mengapa genteng dianggap lebih "manusiawi" untuk iklim tropis dibandingkan seng? Berikut bedah plus-minusnya.
1. Kenyamanan Termal: Siapa Lebih Adem?
Ini adalah alasan utama mengapa program "Gentengi" digalakkan.
Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, memiliki iklim tropis dengan matahari yang terik.
Genteng:
Material tanah liat atau beton bersifat isolator panas yang baik. Ia tidak meneruskan panas matahari langsung ke dalam ruangan secepat logam. Hasilnya, suhu dalam rumah tetap sejuk di siang hari, menjaga sirkulasi udara yang sehat, dan mengurangi risiko dehidrasi penghuni.
Seng/Logam:
Logam adalah penghantar panas (konduktor). Tanpa lapisan peredam panas yang memadai, rumah beratapkan seng akan terasa seperti "oven" di siang hari. Panas yang terjebak di dalam rumah dapat memengaruhi kualitas istirahat dan kesehatan paru-paru jangka panjang.
2. Kebisingan: Faktor Hujan
Di wilayah dengan curah hujan tinggi, faktor suara menjadi penentu kenyamanan.
Genteng:
Memiliki massa yang padat dan tebal, sehingga mampu meredam suara rintik hujan dengan sangat efektif. Suasana rumah tetap tenang meski di luar sedang badai.
Seng/Logam:
Kelemahan utamanya adalah berisik. Hujan deras akan menimbulkan suara gaduh yang sering kali mengganggu komunikasi dan waktu tidur keluarga.
Ketahanan dan Biaya
3. Aspek ekonomi tentu menjadi pertimbangan utama dalam membangun rumah.
Genteng:
Secara durabilitas, genteng tanah liat berkualitas bisa bertahan puluhan tahun tanpa berkarat. Namun, kekurangannya adalah bobotnya yang berat. Ini menuntut struktur rangka atap (kuda-kuda) yang lebih kuat dan presisi, yang otomatis menambah biaya konstruksi awal.
Seng/Logam:
Unggul di sisi kepraktisan. Materialnya ringan, murah, dan pemasangannya sangat cepat karena berbentuk lembaran lebar. Namun, risiko korosi (karat) tetap mengintai, terutama untuk kualitas logam yang rendah, yang pada akhirnya menuntut penggantian lebih cepat.
Kesimpulan
Program "Gentengi" sejatinya adalah upaya menaikkan taraf hidup masyarakat dari sekadar "punya atap" menjadi "hidup sehat".
Meskipun atap seng menang di sektor biaya murah dan kecepatan, atap genteng menang telak di sektor kesehatan dan kenyamanan jangka panjang.
Bagi Anda yang sedang merenovasi rumah, pilihan atap adalah investasi kenyamanan untuk puluhan tahun ke depan.
Baca Juga:
Bahas Isu Palestina, Prabowo Diskusi Terbuka dengan Tokoh Diplomasi Senior
Tag:
#Prabowo Subianto
#lifestyle
#Renovasi Rumah
#program gentengi
#tips bangunan
#rumah tropisLifestyle
#rumah tropis
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.