faktakalbar

Rahasia Sains di Balik Puasa: Mengapa Tubuh Bisa Menjadi Kurus Tanpa Kehilangan Otot?

Penulis: Redaksi Friday, 06 March 2026 📖 2 menit
Rahasia Sains di Balik Puasa: Mengapa Tubuh Bisa Menjadi Kurus Tanpa Kehilangan Otot?
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Banyak orang menganggap puasa hanyalah sekadar menahan lapar, padahal di dalam tubuh sedang terjadi revolusi biokimia yang luar biasa. Secara ilmiah, puasa bukan sekadar memangkas kalori, melainkan cara cerdas "memaksa" tubuh mengubah mode dari penyimpan lemak menjadi mesin pembakar lemak yang efisien . Berikut adalah tinjauan sains mengenai fenomena penurunan berat badan saat berpuasa yang tetap relevan untuk kesehatan jangka panjang Anda. Transisi Energi: Mode Metabolic Switching Baca Juga:  Gelar Bakti Sosial dan Buka Puasa Bersama, Kejati Kalbar Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadhan Dalam kondisi normal, tubuh kita sangat bergantung pada glukosa dari makanan yang kita konsumsi sebagai bahan bakar utama. Namun, simpanan gula ini terbatas. Ketika kita berpuasa lebih dari 12 jam, tubuh akan kehabisan cadangan glikogen di hati. Pada titik inilah terjadi metabolic switching . Tubuh secara otomatis mencari sumber energi cadangan, yaitu lemak tubuh. Proses ini disebut lipolysis , di mana sel-sel lemak dipecah menjadi asam lemak yang kemudian dibakar menjadi tenaga. Inilah alasan utama mengapa puasa secara konsisten dapat mengecilkan lingkar pinggang dan mengurangi persentase lemak tubuh ( body fat percentage ). Kendali Hormon: Menjinakkan Insulin Kunci dari tubuh yang kurus bukan hanya soal "sedikit makan", melainkan soal mengontrol hormon insulin. Insulin adalah hormon penyimpan lemak; selama kadar insulin tinggi, tubuh tidak akan pernah bisa mengakses cadangan lemaknya. Saat kita berpuasa: Penurunan Insulin: Kadar insulin turun drastis, sehingga sel lemak bisa terbuka dan dilepaskan untuk dibakar. Lonjakan Hormon Pertumbuhan: Kadar growth hormone akan meningkat. Hormon ini sangat krusial untuk menjaga massa otot agar tidak menyusut, sehingga berat badan yang turun benar-benar berasal dari lemak, bukan otot. Autofagi: Tubuh mulai melakukan proses autophagy , yaitu "pembersihan diri" dari sel-sel yang rusak untuk diganti dengan sel baru yang lebih sehat dan energetik. Menghindari Jebakan Berat Badan Yoyo Secara sains, penurunan berat badan saat puasa bisa menjadi permanen asalkan Anda tidak terjebak dalam caloric surplus saat jendela makan terbuka. Jika saat berbuka Anda mengonsumsi gula berlebih atau makanan olahan ( processed food ), kadar insulin akan melonjak tajam dan tubuh akan kembali ke mode menyimpan lemak secara agresif. Untuk mempertahankan hasil yang ideal, penting untuk mengonsumsi makanan utuh ( whole foods ) yang kaya serat dan protein saat sahur dan berbuka. Hal ini memastikan metabolisme tetap berjalan cepat meskipun Anda sedang tidak makan selama belasan jam. Baca Juga:  Sambut Idul Fitri, 20 Anak Yatim di Pontianak Diajak Belanja Baju Lebaran dan Buka Puasa Bersama (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK