RAPBN 2027 Patok Asumsi Kurs Rupiah Rp 17.500 per Dolar AS
Pengamat dan Ekonom Menilai Asumsi Mata Uang Garuda Realistis Namun Sangat Bergantung pada Sentimen Eksternal
Faktakalbar.id - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menetapkan asumsi dasar nilai tukar rupiah sebesar Rp 17.500 per dolar AS. Sejumlah ekonom menilai angka tersebut realistis untuk dicapai namun sangat bergantung pada dinamika pasar global dan pasokan devisa.
Faktakalbar.id - Nilai tukar atau kurs rupiah diharapkan mampu menguat secara bertahap pada tahun anggaran 2027 mendatang. Harapan serta proyeksi ini sejalan dengan cita-cita dan target yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam dokumen Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Optimisme tersebut didorong oleh pergerakan mata uang Garuda yang terus mengalami tren penguatan hingga berhasil meninggalkan level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Target indikator nilai tukar mata uang nasional tersebut secara resmi disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto saat memberikan keterangan serta pengantar pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Pemerintah menetapkan asumsi dasar nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp 17.500 per satu dolar AS.
"Nilai tukar rupiah kita berada pada kisaran Rp 17.500 per satu dollar AS," tegas Presiden Prabowo Subianto saat memaparkan kerangka asumsi makro di hadapan anggota dewan.
Selain menetapkan proyeksi nilai tukar rupiah, pemerintah menyusun beberapa parameter dan asumsi dasar ekonomi makro lainnya untuk tahun 2027. Pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan mampu menyentuh angka 6 persen, naik signifikan dibanding target APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen. Sementara itu, laju inflasi dipatok untuk dijaga pada kisaran 2,5 persen, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan berada di level 6,9 persen, serta harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) diasumsikan sebesar 75 dolar AS per barel.
Sesaat setelah pidato pengantar RAPBN 2027 disampaikan oleh Kepala Negara, pergerakan kurs rupiah di pasar uang langsung menunjukkan respon positif. Pada penutupan perdagangan Jumat sore (14/8/2026), mata uang Garuda tercatat menguat sebesar 50 poin atau naik 0,28 persen ke posisi Rp 17.827 per dolar AS.
Tren penguatan tersebut berlanjut pada awal pekan berikutnya. Pada Senin pagi (17/8/2026), tepat pada momentum Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, rupiah menguat 27 poin ke level Rp 17.800 per dolar AS. Di akhir sesi perdagangan hari yang sama, rupiah ditutup pada level Rp 17.798 per dolar AS, menguat 0,16 persen atau setara 29 poin dibandingkan posisi pembukaannya.
Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, faktor utama yang memicu apresiasi rupiah di pasar spot adalah meredanya kekhawatiran para pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat. Meredanya spekulasi tersebut dipicu oleh rilis data konsumsi masyarakat AS yang mencatatkan penurunan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan berturut-turut.
Menanggapi ketetapan angka Rp 17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Budi Frensidy, memberikan penjelasannya. Budi menegaskan bahwa angka tersebut merupakan acuan asumsi teknis untuk penyusunan anggaran negara dan bukan merupakan target kaku yang wajib dipertahankan oleh Bank Indonesia (BI) setiap saat.
Budi memaparkan bahwa dengan posisi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) per 13 Agustus 2026 yang berada di tingkat Rp 17.882 per dolar AS, penetapan asumsi Rp 17.500 mencerminkan harapan pemerintah agar nilai tukar rupiah sedikit lebih menguat pada tahun 2027. Menurutnya, pencapaian angka tersebut sangat realistis, tetapi pemenuhannya akan sangat bergantung pada arah kebijakan mata uang dolar AS, suku bunga global, arus modal asing (capital inflow), kondisi neraca transaksi berjalan, serta tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan fiskal dan ekonomi nasional.
"Bukan target kurs yang harus dipertahankan BI setiap saat," ungkap Budi Frensidy. Ia menambahkan bahwa Bank Indonesia sebenarnya memiliki instrumen stabilisasi yang cukup memadai, di mana BI Rate saat ini berada di posisi 5,75 persen serta ditopang cadangan devisa posisi akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS. Kendati demikian, Budi menekankan bahwa untuk jangka panjang, stabilitas rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi bank sentral semata, melainkan butuh pasokan devisa dari ekspor, masuknya investasi, dan kedisiplinan fiskal.
Pandangan senada diutarakan oleh Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman. Rizal menilai asumsi nilai tukar Rp 17.500 per dolar AS masih sangat mungkin untuk digapai.
Namun demikian, Rizal mengingatkan bahwa Bank Indonesia hendaknya menggunakan instrumen moneter seperti intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebatas sebagai penahan kejutan (shock absorber). Stabilitas rupiah yang sehat dan berkelanjutan wajib ditopang oleh kredibilitas kebijakan fiskal, kinerja ekspor, perbaikan transaksi berjalan, serta pasokan devisa yang kuat dan berkesinambungan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.