faktakalbar

Rasus: Antara Cinta, Seragam Tentara, dan Dendam pada Dukuh Paruk

Penulis: Redaksi Friday, 09 January 2026 📖 2 menit
Rasus: Antara Cinta, Seragam Tentara, dan Dendam pada Dukuh Paruk
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Dalam mahakarya Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk , pembicaraan seringkali didominasi oleh sosok Srintil, sang penari yang magis dan tragis . Namun, novel (dan adaptasi filmnya Sang Penari ) tidak akan bergerak tanpa Rasus . Rasus bukan sekadar tokoh utama pria atau kekasih yang patah hati. Ia adalah representasi dari konflik batin manusia yang terjebak di antara tradisi yang dianggap kolot dan modernitas yang menjanjikan harga diri. Baca Juga:  Melampaui Kisah Fiksi, Ini 4 Potret Getir ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ yang Masih Relevan hingga Kini Rasus adalah "mata" pembaca untuk melihat kenaifan sekaligus kebobrokan Dukuh Paruk. Berikut adalah bedah karakter Rasus yang memperlihatkan mengapa ia adalah salah satu tokoh paling kompleks dalam sastra Indonesia: 1. Simbol Perlawanan Terhadap Tradisi Berbeda dengan warga Dukuh Paruk yang memuja roh Ki Secamenggala, Rasus tumbuh dengan skeptisme dan kebencian. Ia membenci Dukuh Paruk karena kemiskinannya, kebodohannya, dan terutama karena budaya ronggeng yang merenggut perempuan-perempuan yang dicintainya (ibunya, lalu Srintil). Rasus mewakili logika dan rasionalitas di tengah masyarakat yang mistis. Ia adalah orang pertama yang "sadar" bahwa lingkaran kemiskinan di desanya hanya bisa diputus dengan cara pergi meninggalkan desa tersebut. 2. Inferiority Complex (Rasa Rendah Diri) yang Akut Di awal cerita, Rasus digambarkan sebagai pemuda yang penuh rasa minder. Ia merasa dirinya hina, miskin, dan tidak berdaya. Motivasi terbesar Rasus dalam hidup bukanlah cinta murni, melainkan pencarian validasi dan harga diri. Keputusannya menjadi tobang (pembantu tentara) dan kemudian menjadi tentara sungguhan, didasari oleh keinginan untuk dihormati. Ia ingin membuktikan kepada Srintil dan warga Dukuh Paruk bahwa ia bukan lagi "anak singkong" yang bisa diremehkan. Seragam hijau tentara adalah kulit baru yang ia pakai untuk menutupi rasa rendah dirinya. 3. Cinta yang Egois dan Penuh Syarat Apakah Rasus mencintai Srintil? Ya. Namun, cintanya bersifat posesif dan penuh syarat. Rasus mencintai Srintil sebagai perempuan biasa, tetapi ia membenci Srintil sebagai Ronggeng . Konflik batin Rasus memuncak ketika ia menolak menikahi Srintil jika perempuan itu tetap menari. Rasus tidak bisa menerima konsep "milik bersama" yang melekat pada seorang ronggeng. Dalam hal ini, Rasus mewakili pandangan moralitas modern/luar yang bentrok dengan nilai adat desa setempat. Ia mencintai Srintil, tapi ia lebih mencintai harga dirinya sendiri. 4. Jembatan Dua Dunia Secara sosiologis, tokoh Rasus berfungsi sebagai jembatan. Ia adalah satu-satunya karakter yang bisa bolak-balik antara dunia Dukuh Paruk (pedalaman/tradisional) dan dunia Dawuan (kota kecamatan/modern/militer). Melalui mata Rasus, pembaca diajak melihat betapa rentannya masyarakat desa yang buta huruf terhadap gejolak politik tahun 1965. Rasus selamat karena ia berada di pihak "seragam", sementara teman-teman masa kecilnya hancur karena ketidaktahuan mereka akan politik. Di sini, Rasus berdiri di posisi yang sunyi: ia selamat, tapi ia kehilangan akarnya. Rasus adalah tokoh yang tragis dengan caranya sendiri. Ia berhasil keluar dari kemiskinan Dukuh Paruk, ia mendapatkan seragam dan senjata, namun jiwanya tetap kosong. Ia adalah potret manusia yang sukses melakukan mobilitas sosial, namun gagal menyelamatkan hal yang paling berharga di masa lalunya: cinta dan kepolosan. Baca Juga:  Apa Itu Bibliophile? Cek Ciri-ciri Penggila Buku di Sini (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK