faktakalbar

Pemkot Pontianak Rawat Nilai Perjuangan dan Sejarah Kota lewat Museum

Penulis: Redaksi Monday, 13 April 2026 📖 2 menit
Pemkot Pontianak Rawat Nilai Perjuangan dan Sejarah Kota lewat Museum
Faktakalbar.id, PONTIANAK – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus berupaya merawat nilai-nilai perjuangan kota dengan mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk menjaga situs, monumen, dokumentasi, hingga benda-benda bersejarah yang masih tersisa melalui rencana pembangunan museum, Minggu (12/4/2026). Baca Juga:  Cegah Trauma Berulang Korban TPPO di Pontianak, Warga dan Kampus Turut Dilibatkan Rencana tersebut disampaikan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, saat menghadiri acara Halalbihalal Keluarga Besar Dewan Harian Daerah (DHD) Badan Pembudayaan Kejuangan 45 di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak. “Kita ingin ada museum Pontianak. Lokasinya sedang kita kaji, salah satunya di kawasan SDN 14 Jalan Tamar yang punya nilai sejarah. Di sana nanti kita harapkan bisa disimpan berbagai benda, foto, dokumen, dan catatan sejarah Pontianak,” kata Edi. Menurutnya, keberadaan museum tersebut nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga akan dikembangkan sebagai destinasi edukasi dan wisata sejarah unggulan di Kota Pontianak. Selain mewacanakan pembangunan museum, ia juga menekankan bahwa keberadaan gedung juang dan fasilitas penunjang kegiatan para pejuang serta pelestari sejarah perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius ke depannya. “Kita berharap upaya-upaya pelestarian sejarah ini bisa terus didukung semua pihak agar nilai perjuangan tetap hidup di tengah masyarakat, ” ungkapnya. Di tempat yang sama, Ketua Umum DHD 45 Kalbar, Syafaruddin Daeng Usman, mendorong agar penghormatan kepada tokoh-tokoh sejarah daerah terus digencarkan. Baca Juga:   Pontianak Siap Jadi Pusat Voli Dunia Asia Ia mengingatkan bahwa Kalimantan Barat memiliki sejarah perjuangan yang sangat khas dan memilukan, terutama terkait tragedi Mandor dan pembantaian tokoh-tokoh daerah pada masa pendudukan Jepang. Ia menyebut generasi terbaik Kalimantan Barat, termasuk Sultan Pontianak Syarif Muhammad Alkadrie beserta keluarga dan kerabatnya, menjadi korban pada masa kelam tersebut. Oleh karena itu, ia menilai sejarah ini harus terus dirawat melalui perlindungan situs sejarah, pendokumentasian yang baik, serta pendidikan langsung kepada generasi muda. “Kita kehilangan satu generasi terbaik bangsa ini. Karena itu nilai sejarah ini jangan sampai hilang, jangan sampai anak cucu kita tidak tahu siapa yang telah berjuang dan berkorban untuk daerah ini,” terangnya. Syafaruddin juga mengungkapkan harapannya agar perhatian terhadap situs-situs sejarah, khususnya Makam Juang Mandor, terus ditingkatkan oleh pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, kawasan makam tersebut bukan hanya sekadar tempat ziarah tahunan, melainkan simbol penting dari memori kolektif masyarakat Kalimantan Barat. “Sejarah ini harus kita rawat bersama. Bukan hanya dengan cerita, tetapi dengan tindakan nyata, penghormatan nyata, dan kepedulian nyata, ” pungkasnya. (FR)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK