faktakalbar

Lebih dari Sekadar Zombi: 'Abadi Nan Jaya' Sajikan Tontonan Brutal Penuh Seni

Penulis: Redaksi Monday, 10 November 2025 📖 2 menit
Lebih dari Sekadar Zombi: 'Abadi Nan Jaya' Sajikan Tontonan Brutal Penuh Seni
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Tahun 2025 tampaknya benar-benar menjadi tahun keemasan bagi sinema Indonesia. Setelah kita dibuat terpukau oleh 'Pengepungan Di Bukit Duri' dan 'Jumbo', kini giliran sutradara Kimo Stamboel yang kembali menggebrak lewat 'Abadi Nan Jaya' (The Elixir). Bagi Anda yang mencari tontonan akhir pekan yang tidak biasa, film ini mungkin jawabannya. Namun, lupakan sejenak ekspektasi film horor biasa. Kimo, yang dikenal "doyan" adegan gore , kembali dengan gaya brutalnya yang khas setelah 'Badarawuhi Di Desa Penari' dianggap sedikit "mendung". Baca Juga:  “Lagi-Lagi Reza Rahadian”: Debut Sutradara ‘Pangku’ Tetapkan Standar Baru Sinema 'Abadi Nan Jaya' adalah pengalaman sinematik yang memanjakan mata, sekaligus menguji nyali. Ketika Zombi Lokal Tampil 'Gahar' dan Artistik Bukan, ini bukan film zombi pertama di Indonesia. Kita mungkin ingat 'Reuni Z' (2018), tapi 'Abadi Nan Jaya' bermain di liga yang sangat berbeda. Dengan modal produksi yang terlihat jelas, Kimo Stamboel bersama tim penulisnya (Agasyah Karim dan Khalid Kashogi) berhasil menciptakan dunia yang mencekam di sebuah desa terpencil di Jawa. Daya tarik utama film ini yang membuatnya layak jadi bahan obrolan adalah faktor artistik dan produksinya. Pujian tertinggi patut diberikan pada tim efek tata rias yang dipimpin Astrid Sambudiono. Mereka sukses menyulap para pemeran zombi menjadi makhluk mengerikan dengan detail luar biasa. Bukan sekadar darah palsu yang menyembur, tapi sebuah dedikasi seni yang terlihat di layar. Bayangkan zombi 'warlok' (warga lokal) yang masih mengenakan sarung atau seragam polisi, tampil begitu gahar dan meyakinkan. Sinematografi dari Patrick Tashadian dan arahan seni Antonius Boedy juga berhasil membangun suasana. Bahkan ada momen di mana film ini berani "menembus dinding keempat" ( fourth wall ), memberikan kejutan segar yang jarang kita lihat di film zombi lokal. Sajian visual dan gore inilah yang menjadi sajian terbaik film ini. Debat Seru Sepulang Nonton: Cerita vs. Visual Meski mata kita dimanjakan, 'Abadi Nan Jaya' bukannya tanpa catatan. Di sinilah letak serunya menonton film ini: Anda mungkin akan pulang dengan perdebatan seru bersama teman-teman. Berbeda dengan 'Train to Busan' (2016) yang logikanya rapi, film ini memiliki kelemahan krusial pada aspek cerita. Trio penulisnya dinilai kurang memuaskan dalam menjelaskan nalar di balik wabah zombi (yang berasal dari jamu) atau mengapa para karakter mengambil keputusan-keputusan yang, jujur saja, seringkali terasa mengesalkan. Aspek drama keluarga memang tersaji cukup baik, namun lemahnya logika sebab-akibat ini menjadi catatan terbesar. Walau begitu, para aktor seperti Mikha Tambayong, Eva Celia, dan Donny Damara tampil prima sesuai porsi mereka. Sebuah Pencapaian Baru Pada akhirnya, 'Abadi Nan Jaya' adalah sebuah pernyataan. Kimo Stamboel dan seluruh kru berhasil membuktikan bahwa industri film lokal mampu menciptakan karya gore dengan nilai produksi dan artistik yang tinggi. Meskipun Anda mungkin akan mengernyitkan dahi soal cerita, mata Anda akan terbelalak puas melihat visualnya. Ini adalah sebuah capaian baru yang mungkin akan menginspirasi lebih banyak film sejenis, membuktikan bahwa sinema Indonesia bisa benar-benar 'Abadi Nan Jaya'. Baca Juga:  Belajar Bisnis dari Film: 5 Rekomendasi Terbaik untuk Calon Pengusaha (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK