faktakalbar

Cegah Gangguan Pendengaran Anak, RSUD SSMA Tekankan Peran Komunitas

Penulis: Redaksi Tuesday, 17 March 2026 📖 1 menit
Cegah Gangguan Pendengaran Anak, RSUD SSMA Tekankan Peran Komunitas
Faktakalbar.id, PONTIANAK - RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar penyuluhan kesehatan bertema "Komunitas Menjaga Kesehatan Pendengaran Anak" dalam rangka memperingati Hari Pendengaran Sedunia yang dicanangkan WHO setiap 3 Maret, Senin (16/03/2026). Baca Juga:   Wujud Empati Ramadan, TP-PKK Kota Pontianak Bagikan Takjil di RSUD SSMA Dokter spesialis THT, Eva Nurfarihah, menjelaskan bahwa kasus gangguan pendengaran pada anak-anak saat ini mengalami peningkatan. Padahal, sebagian besar dari kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak dini. "Penyebab tersering adalah kotoran telinga yang menumpuk, infeksi, dan paparan bising/suara keras," ujarnya. Eva memaparkan bahwa kotoran telinga pada anak sering kali menumpuk akibat proses mengunyah yang belum optimal. Ia mengingatkan para orang tua agar tidak membersihkan telinga anak secara agresif. "Kotoran telinga umumnya tidak perlu 'dibersihkan' secara agresif; proses mengunyah, bicara, menelan membantu mendorong kotoran keluar perlahan," tutur Eva. Selain faktor kebersihan, paparan bising dari penggunaan gawai juga menjadi perhatian serius. Kebiasaan memakai earphone atau bermain gim dengan volume tinggi dapat merusak saraf pendengaran. Untuk itu, ia menyarankan penerapan rumus "60-60", yaitu durasi maksimal 60 menit per hari dengan volume maksimal 60 persen. Guru dan orang tua pun diminta waspada jika menemukan tanda-tanda anak tidak paham saat diberikan penjelasan atau sering menyalakan perangkat elektronik dengan volume sangat keras. "Jika ada tanda-tanda tersebut, segera periksa ke dokter THT untuk memastikan ada atau tidaknya gangguan pendengaran," jelasnya. Baca Juga:   Jangan Panik Dulu, Dokter RSUD Pontianak Jelaskan Perbedaan Nyeri Dada Otot dan Gejala Jantung Koroner Menurutnya, gangguan pendengaran dapat dibantu dengan alat bantu dengar jika dideteksi lebih awal. Oleh karena itu, edukasi di tingkat komunitas menjadi sangat krusial. "Sosialisasikan peran komunitas untuk lebih peduli terhadap tanda-tanda gangguan pendengaran pada anak, " terangnya. Kegiatan ini mendapat respon positif dari warga. Salah satu peserta, Rusminah, mengaku materi yang disampaikan sangat bermanfaat, terutama mengenai keluhan telinga berdengung. "Alhamdulillah tadi sudah dijelaskan sama dokter spesialis THT sehingga saya sekarang bisa mengetahui penyebab dari telinga berdengung," pungkasnya. (FR)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK