Rupiah Masuk Daftar Lima Mata Uang Terlemah
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Lembaga keuangan
Forbes Advisor
baru saja merilis laporan terbaru mengenai performa mata uang global pada periode April 2026. Laporan tersebut secara gamblang menempatkan mata uang Rupiah ke dalam daftar lima
besar
instrumen pembayaran paling lemah di
dunia.
Kondisi ini terjadi di tengah upaya pemerintah Indonesia yang sedang gencar melakukan langkah dedolarisasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS.
Namun, tekanan eksternal dari pasar keuangan global justru memberikan beban berat bagi stabilitas nilai tukar nasional.
Baca Juga:
Saldo Terkuras Jadi Nol Rupiah, Tokoh Masyarakat Sungai Rengas Tuntut Transparansi PT Bestprofit Pontianak
Penyebab Utama Pelemahan Kurs Global
Analis ekonomi menyebutkan bahwa gejolak geopolitik di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu inflasi tak terkendali di banyak negara. Blokade jalur perdagangan minyak tersebut secara langsung mencekik pasokan energi dunia dan menghantam mata uang negara-negara berkembang.
Selain faktor eksternal, beban utang global yang kian membengkak juga turut memperparah sentimen negatif di pasar valuta asing. Kondisi ketidakpastian politik internasional membuat para investor cenderung mengalihkan aset mereka ke dalam bentuk mata uang yang lebih aman.
Rincian Urutan Mata Uang Terendah
Rial Iran tetap bertahan pada posisi pertama sebagai mata uang terlemah akibat sanksi ekonomi internasional yang membatasi akses keuangan global. Di posisi berikutnya, Pound Lebanon dan Dong Vietnam masih mengalami tekanan hebat akibat krisis perbankan dan kebijakan devaluasi pemerintah.
Rupiah Indonesia kini berada di posisi kelima setelah sempat menyentuh angka psikologis Rp17.300 per Dolar Amerika Serikat. Analis menilai bahwa ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan aliran modal keluar menjadi penyebab utama posisi Indonesia kian mengkhawatirkan.
Baca Juga:
IHSG Tetap Perkasa Meski Nilai Rupiah Melemah
Respons Pemerintah Dan Proyeksi Pasar
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan terus memantau dampak pelemahan ini terhadap daya beli masyarakat dan harga komoditas dalam negeri. Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah skenario intervensi pasar guna menahan laju penurunan nilai tukar agar tidak semakin terperosok.
Banyak pihak berharap kebijakan moneter yang ketat mampu memberikan angin segar bagi penguatan Rupiah di kuartal mendatang. Meski demikian, para pelaku usaha tetap diimbau untuk waspada terhadap fluktuasi harga yang mungkin timbul akibat melemahnya nilai mata uang.
(*Sr)
Tag:
#ekonomi
#Bank Indonesia
#Rupiah
#Krisis Energi
#Berita Finansial
#Dedolarisasi
#Kurs Dolar
#Forbes Advisor
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.