Rupiah Melemah, Pasar Menunggu Langkah Bank Indonesia
Faktakalbar.id, NASIONAL -
Nilai tukar
rupiah
terhadap
dolar
Amerika Serikat (AS) terus melemah pada awal tahun ini. Data perdagangan terakhir menunjukkan rupiah menembus angka Rp16.945 per dolar AS, semakin mendekati level psikologis Rp17.000.
Pelaku pasar kini menantikan respons
Bank Indonesia
(BI) terhadap situasi ini. Bank sentral tengah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pertama tahun 2026 yang berlangsung sejak Selasa hingga Rabu (20-21 Januari 2026).
Sebagian besar analis memprediksi BI akan menahan suku bunga acuan (
BI-Rate
) di level 4,75%. Mereka menilai langkah ini paling realistis karena BI harus memprioritaskan stabilitas nilai tukar agar mata uang garuda tidak semakin jatuh.
Baca Juga:
Rupiah Anjlok, Dolar AS Diprediksi Tembus Rp16.900
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menyatakan bahwa BI perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik.
"BI kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga di 4,75% untuk mendukung stabilitas nilai tukar," ujar Hosianna.
Konsensus Pasar: Tahan Bunga
Survei CNBC Indonesia terhadap 13 lembaga keuangan besar memperkuat prediksi tersebut. Lembaga seperti Bank Mandiri, BCA, hingga Mirae Asset Sekuritas kompak memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di angka 4,75%.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa BI memiliki ruang yang sempit untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Josua menilai penurunan suku bunga saat rupiah rapuh justru akan memicu arus modal keluar (
capital outflow
).
"Peluang terbesar Bank Indonesia masih menahan BI Rate di 4,75% karena tekanan nilai tukar rupiah belum mereda," jelas Josua.
BPS Catat Kenaikan Inflasi
Selain faktor eksternal, BI juga menghadapi tantangan inflasi dari dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2025 mencapai 0,64% secara bulanan dan 2,92% secara tahunan (
year-on-year
).
Baca Juga:
Target Meleset, Menkeu Purbaya Akui Ekonomi Kuartal IV 2025 Hanya Tumbuh 5,45% di Tengah Tekanan Rupiah
Angka inflasi ini melampaui catatan tahun sebelumnya. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memicu kenaikan harga tersebut. BI tentu akan memastikan kebijakan moneternya tidak mendorong lonjakan harga lebih lanjut di masyarakat.
Pasar menilai keputusan menahan suku bunga menjadi opsi paling aman bagi BI saat ini di tengah tekanan rupiah dan inflasi yang menghangat.
(*Sari)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.