faktakalbar

Saat Peduli Menjadi Beban, Mengenal Compassion Fatigue Akibat Empati Berlebihan

Penulis: Redaksi Thursday, 09 April 2026 📖 2 menit
Saat Peduli Menjadi Beban, Mengenal Compassion Fatigue Akibat Empati Berlebihan
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Memiliki rasa empati yang tinggi sering kali dianggap sebagai kualitas diri yang mulia. Kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain membuat seseorang menjadi pendengar yang baik dan teman yang suportif . Namun, pernahkah kamu merasa sangat terkuras secara emosional setelah mendengarkan curhatan teman atau melihat berita duka? Jika jawabannya iya, bisa jadi kamu sedang mengalami apa yang disebut dengan kelelahan empati. Baca Juga:  Tanamkan Empati Siswa, SMA Taman Mulia Gelar Anjangsana Ramadan ke Panti Asuhan Fenomena ini nyata adanya dan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental jika tidak segera diatasi. Mengenal Compassion Fatigue Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai compassion fatigue atau kelelahan kasih sayang. Ini adalah kondisi kelelahan fisik dan emosional yang dialami seseorang akibat terlalu sering menyerap penderitaan atau emosi negatif orang lain. Empati yang terlalu besar tanpa adanya batasan ( boundaries ) yang sehat dapat membuat seseorang merasa "hampa" dan kehilangan energi untuk dirinya sendiri. Tanda-Tanda Kamu Mengalami Kelelahan Empati Ada beberapa ciri yang menunjukkan bahwa rasa empatimu sudah mulai melampaui batas kewajaran, di antaranya: Kelelahan Kronis: Merasa lelah sepanjang waktu meskipun sudah cukup tidur. Mati Rasa Emosional: Merasa sulit untuk benar-benar peduli lagi karena sudah terlalu banyak menyerap emosi orang lain. Perasaan Cemas dan Cepat Marah: Menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil di sekitar. Sulit Berkonsentrasi: Pikiran terasa penuh dengan beban emosional yang sebenarnya bukan milikmu. Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi? Seseorang yang terlalu berempati sering kali lupa membedakan antara "memahami" dan "memikul" beban orang lain. Tanpa sadar, mereka mengambil alih emosi negatif tersebut dan menyimpannya di dalam pikiran sendiri. Hal ini diperparah di era media sosial, di mana informasi mengenai tragedi atau konflik global masuk ke layar ponsel kita setiap detik, memaksa otak untuk terus-menerus berempati tanpa henti. Cara Menjaga Keseimbangan Menjadi orang baik bukan berarti kamu harus menghancurkan diri sendiri. Penting untuk mempraktikkan self-care dan menetapkan batasan yang tegas. Kamu berhak untuk mengatakan tidak saat merasa kapasitas emosionalmu sudah penuh. Ingatlah bahwa kamu tidak bisa menolong orang lain jika "tangki" emosionalmu sendiri sedang kosong. Baca Juga:  Kepala BNPB Pastikan Korban Bencana Tempati Huntara di Gayo Lues Sebelum Lebaran (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK