faktakalbar

Semakin Ramai Bicarakan Koptagul

Penulis: Redaksi Friday, 06 February 2026 📖 3 menit
Semakin Ramai Bicarakan Koptagul
OPINI - Koptagul memang tak bisa dipisahkan dari saya. Ia sudah seperti bayangan. Ke mana tulisan pergi, di situ Koptagul nongkrong. Kadang saya merasa bukan lagi menulis artikel, tapi menuangkan kopi ke dalam paragraf. Aneh tapi nyata, setiap tulisan selalu ada kata Koptagul. Bahkan netizen pun ikut-ikutan. Ada yang komenta r panjang lebar, ada yang cuma nyengir, lalu ditutup dengan salam sakral, salam Koptagul. Bukan salam olahraga, bukan salam literasi, tapi salam pahit nan elegan. Padahal awalnya sederhana. Sesederhana kopi tanpa gula . Saya ini memang orang yang tak percaya manis-manis berlebihan. Dalam hidup, dalam politik, apalagi dalam narasi. Maka saya sering bilang, seruput kopi tanpa gula. Sampai suatu hari, seorang netizen bernama Umar, asal Bukittinggi, daerah yang hawanya dingin tapi otaknya hangat, berkomentar cerdas. Baca Juga:  Mitos atau Fakta: Benarkah Minum Kopi Bikin Darah Tinggi Melonjak? Katanya, “Bang, singkat saja jadi Koptagul. Biar ada rasa Turki nya.” Saya baca, saya ketawa , saya angguk. Deal. Dari situ, lahirlah satu diksi yang tak pernah masuk KBBI tapi sukses masuk kepala orang. Sejak saat itu, Koptagul bukan lagi sekadar singkatan. Ia naik pangkat jadi gaya hidup . Ia menjelma jadi bumbu wajib untuk narasi yang bikin dahi mengeryit, mata menyipit, dan hati berkata, “Lah kok gini?” Koptagul hadir setiap kali kenyataan terlalu pahit untuk ditelan mentah-mentah. Ia jadi jembatan antara fakta yang kejam dan humor yang menyelamatkan kewarasan. Sekarang, orang ramai membicarakan Koptagul. Seolah-olah ia influencer. Padahal tak pernah buka endorsement, tak punya akun resmi, dan tak butuh centang biru. Tapi pengaruhnya jalan. Diam-diam. Licin. Di kolom komentar, di obrolan warung kopi, di status yang sengaja atau tak sengaja meniru gaya. Inilah fenomena paling berbahaya dalam dunia tulis-menulis, ketika sebuah kata berubah jadi identitas. Secara edukatif, ini menarik. Dalam ilmu komunikasi, kata yang terus diulang dengan konteks kuat akan membangun asosiasi mental. Dalam sosiologi, simbol yang dipakai bersama akan melahirkan rasa kebersamaan. Dalam psikologi, pahit justru lebih diingat dari manis. Koptagul bekerja di semua lini itu, tanpa pernah mengaku-ngaku. Ia lahir dari obrolan netizen, tumbuh di narasi, lalu dewasa di kepala pembaca. Yang paling lucu sekaligus inspiratif, Koptagul membuktikan, pengaruh tidak selalu datang dari teori berat atau istilah asing berbahasa Inggris. Kadang ia lahir dari candaan, dari kopi tanpa gula, dari komentar jujur seorang Umar di Bukittinggi. Dunia boleh ribut soal influence, engagement, dan algoritma. Tapi Koptagul memilih jalan sunyi, pahit, konsisten, dan jujur. Maka kalau hari ini orang bicara tentang Koptagul seperti ia sebuah aliran, saya hanya bisa senyum. Ini bukan soal saya. Ini soal bagaimana sebuah kata bisa hidup, berjalan, dan bekerja di alam bawah sadar publik. Seperti kopi pahit yang tak semua orang suka, tapi sekali cocok, susah pindah ke yang lain. Baca Juga:  Paket Kopi Isi Sabu Gagal Terbang dari Supadio, Kakek 57 Tahun Diciduk Polisi Siap, wak. Ini pesan moralnya ringkas tapi nancep, pahit tapi bikin melek: Hidup tak selalu butuh gula. Kadang justru kepahitan yang bikin kita terjaga, berpikir, dan waras di tengah dunia yang hobi memaniskan kebohongan. Koptagul mengajarkan satu hal penting. Jangan takut pada rasa pahit, karena di sanalah kejujuran tinggal. Yang terlalu manis sering cuma tipu-tipu, yang pahit justru apa adanya. Maka seruputlah hidup seperti kopi tanpa gula. Tak semua enak di lidah, tapi jujur di rasa. Orang yang berani pahit, biasanya lebih lama diingat. Silakan seruput pelan-pelan. Kalau dahi mulai berkerut, berarti Koptagul bekerja. Seruput Koptagulnya, wak! Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK