Semakin Ramai Bicarakan Koptagul
OPINI -
Koptagul
memang tak bisa dipisahkan dari saya. Ia sudah seperti
bayangan.
Ke mana tulisan pergi, di situ
Koptagul
nongkrong. Kadang saya merasa bukan lagi menulis artikel, tapi menuangkan
kopi
ke dalam
paragraf.
Aneh tapi nyata, setiap tulisan selalu ada kata
Koptagul.
Bahkan netizen pun ikut-ikutan. Ada yang
komenta
r panjang lebar, ada yang cuma nyengir, lalu ditutup dengan salam sakral, salam
Koptagul.
Bukan salam olahraga, bukan salam
literasi,
tapi salam pahit nan elegan.
Padahal awalnya sederhana. Sesederhana kopi tanpa
gula
. Saya ini memang orang yang tak percaya manis-manis berlebihan. Dalam hidup, dalam politik, apalagi dalam
narasi.
Maka saya sering bilang, seruput kopi tanpa gula. Sampai suatu hari, seorang
netizen
bernama Umar, asal Bukittinggi, daerah yang hawanya dingin tapi otaknya hangat, berkomentar cerdas.
Baca Juga:
Mitos atau Fakta: Benarkah Minum Kopi Bikin Darah Tinggi Melonjak?
Katanya, “Bang, singkat saja jadi
Koptagul.
Biar ada rasa
Turki
nya.”
Saya baca, saya
ketawa
, saya angguk.
Deal.
Dari situ, lahirlah satu diksi yang tak pernah masuk KBBI tapi sukses masuk kepala orang.
Sejak saat itu,
Koptagul
bukan lagi sekadar singkatan. Ia naik pangkat jadi
gaya hidup
. Ia menjelma jadi bumbu wajib untuk narasi yang bikin dahi mengeryit, mata menyipit, dan hati berkata, “Lah kok gini?”
Koptagul
hadir setiap kali kenyataan terlalu pahit untuk ditelan mentah-mentah. Ia jadi jembatan antara fakta yang kejam dan humor yang menyelamatkan kewarasan.
Sekarang, orang ramai membicarakan
Koptagul.
Seolah-olah ia
influencer.
Padahal tak pernah buka
endorsement,
tak punya akun resmi, dan tak butuh centang biru.
Tapi pengaruhnya jalan. Diam-diam. Licin. Di kolom komentar, di obrolan warung kopi, di status yang sengaja atau tak sengaja meniru gaya.
Inilah fenomena paling berbahaya dalam dunia tulis-menulis, ketika sebuah kata berubah jadi identitas.
Secara edukatif, ini menarik. Dalam ilmu komunikasi, kata yang terus diulang dengan konteks kuat akan membangun asosiasi mental. Dalam sosiologi, simbol yang dipakai bersama akan melahirkan rasa kebersamaan.
Dalam psikologi, pahit justru lebih diingat dari manis.
Koptagul
bekerja di semua lini itu, tanpa pernah mengaku-ngaku. Ia lahir dari obrolan netizen, tumbuh di narasi, lalu dewasa di kepala pembaca.
Yang paling lucu sekaligus inspiratif,
Koptagul
membuktikan, pengaruh tidak selalu datang dari teori berat atau istilah asing berbahasa Inggris. Kadang ia lahir dari candaan, dari kopi tanpa gula, dari komentar jujur seorang Umar di Bukittinggi.
Dunia boleh ribut soal
influence, engagement,
dan algoritma. Tapi
Koptagul
memilih jalan sunyi, pahit, konsisten, dan jujur.
Maka kalau hari ini orang bicara tentang
Koptagul
seperti ia sebuah aliran, saya hanya bisa senyum. Ini bukan soal saya.
Ini soal bagaimana sebuah kata bisa hidup, berjalan, dan bekerja di alam bawah sadar publik. Seperti kopi pahit yang tak semua orang suka, tapi sekali cocok, susah pindah ke yang lain.
Baca Juga:
Paket Kopi Isi Sabu Gagal Terbang dari Supadio, Kakek 57 Tahun Diciduk Polisi
Siap,
wak.
Ini pesan moralnya ringkas tapi
nancep,
pahit tapi bikin melek:
Hidup tak selalu butuh gula. Kadang justru kepahitan yang bikin kita terjaga, berpikir, dan waras di tengah dunia yang hobi memaniskan kebohongan.
Koptagul
mengajarkan satu hal penting. Jangan takut pada rasa pahit, karena di sanalah kejujuran tinggal. Yang terlalu manis sering cuma tipu-tipu, yang pahit justru apa adanya.
Maka seruputlah hidup seperti kopi tanpa gula. Tak semua enak di lidah, tapi jujur di rasa. Orang yang berani pahit, biasanya lebih lama diingat.
Silakan seruput pelan-pelan. Kalau dahi mulai berkerut, berarti
Koptagul
bekerja. Seruput
Koptagulnya,
wak!
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.