Sembilan Hari Terisolasi Tanpa Bantuan, Warga Sebut Aceh Tamiang Bak 'Kota Zombie'
Faktakalbar.id, ACEH TAMIANG -
Sembilan hari berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan
Kabupaten Aceh Tamiang
, namun penderitaan warga belum juga usai.
Wilayah yang terputus total dari dunia luar ini menyisakan kisah pilu penyintas yang bertahan hidup di tengah ketiadaan air bersih, listrik, dan sinyal komunikasi.
Baca Juga:
Korban Banjir Sumatra Butuh Sembako dan Rumah, Menpora Justru Janjikan Alat Olahraga
Arif, warga Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, melukiskan kondisi kotanya dengan istilah yang mengerikan: "Kota Zombie".
Bukan tanpa alasan, ia menyaksikan sendiri bagaimana kotanya hancur porak-poranda, diwarnai aroma menyengat bangkai dan keputusasaan warga yang mulai menjarah toko demi bertahan hidup.
“Anak-anak saya sudah kehausan, kelaparan, karena di masjid tidak ada sumber air bersih. Jadi kami berebut air minum dan makan,”
kisah Arif mengenang momen-momen kritis saat mengungsi di masjid bersama 500 warga lainnya.
Bencana bermula pada Rabu (26/11) dini hari, saat air bah tiba-tiba menerjang. Dalam hitungan jam, banjir setinggi pinggang orang dewasa menenggelamkan kota.
Arif dan 15 orang lainnya terpaksa bertahan hidup di loteng rumah selama dua hari dengan memakan mi instan sisa dan air tandon seadanya.
Baca Juga:
Tempuh Jarak Ratusan Kilometer, Gerakan Sidaq ‘Banjiri’ Pedalaman Ketapang dengan Al-Qur’an
Keputusasaan kian memuncak ketika bantuan tak kunjung datang.
Arif menyaksikan bagaimana hukum rimba mulai berlaku. Toko-toko swalayan dijarah oleh massa yang kelaparan. Harga beras melonjak tak masuk akal hingga Rp250.000 per 10 kilogram.
"Penjarahan di mana-mana... Orang sudah tidak mau beli lagi, mereka pada ngambil saja,"
tuturnya getir.
Secercah harapan baru muncul pada Kamis (04/12) dini hari, saat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, akhirnya berhasil menembus isolasi wilayah tersebut.
Rombongan gubernur membawa 30 ton bantuan sembako dan obat-obatan yang sangat dinantikan.
Kisah Arif hanyalah satu dari ribuan cerita duka di Aceh Tamiang.
Kini, warga menanti realisasi janji pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan infrastruktur dan kehidupan mereka yang sempat terhenti total.
(Ra)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.