Seminggu Jelang Lebaran, Pedagang Pakaian Offline di Pontianak Keluhkan Gempuran Toko Online
Faktakalbar.id, PONTIANAK -
Momen Hari Raya
Idul Fitri
biasanya menjadi masa panen yang sangat dinanti bagi para pedagang pakaian.
Namun, kondisi berbeda justru dirasakan oleh sejumlah pedagang busana
offline
di
Kota Pontianak
pada tahun ini.
Tingkat antusiasme dan daya beli masyarakat yang berbelanja langsung ke toko fisik dirasakan menurun secara signifikan.
Hal ini diungkapkan oleh Joko, seorang pemilik toko pakaian di kawasan Kota Baru yang sudah delapan tahun berjualan.
Baca Juga:
Pertegas Program Daerah, Pemda Kalbar Gandeng Distributor Jaga Stabilitas Pasokan Pangan Jelang Idul Fitri
Di tokonya, ia menyediakan berbagai macam kebutuhan sandang untuk menyambut hari raya.
"Pakaian anak, dewasa, kaos kaki, bayi juga ada," sebut Joko saat menceritakan barang dagangannya.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ia mengaku tidak melihat adanya lonjakan pembeli pada momen menjelang Lebaran kali ini.
"Tahun ini penurunan bukan peningkatan tahun ini, lebih ramai tahun lalu," ungkapnya.
Menurunnya omzet tersebut diduga kuat dipengaruhi oleh maraknya tren belanja digital serta kondisi daya beli yang sedang melemah.
"Tahun ini kalau sekarang kemungkinan dari
online online
itu yah dan mungkin dari ekonomi juga agak kurang," jelasnya.
Persaingan harga yang tajam di dunia maya diakui membuat para pedagang fisik merasa sangat terpuruk.
"Sangat berdampak (penjualan
online
bagi pedagang
offline
) sementara ini belum kepikiran buat toko
online
-nya tapi liat tahun depan kalau diperlukan kemungkinan buat," tambah Joko.
Ia lantas membandingkan suasana jalanan di kawasan perbelanjaan yang biasanya sudah padat merayap pada seminggu sebelum hari H.
"Udah ada pembeli cuma kurang dari tahun sebelumnya, bisa diliat dari jalanan sepi biasanya seminggu mau lebaran dah ramai ini masih sepi," tuturnya.
Joko kini hanya bisa berharap agar dagangannya bisa laris manis pada akhir pekan ini yang diprediksi menjadi puncak arus belanja.
"Paling puncaknya nanti Sabtu Minggu besok, harusnya tahun lalu dah ramai sekarang kek biasa belum ada peningkatan yang signifikan begitu," katanya.
Merosotnya pendapatan ini membuat para pedagang ritel menaruh harapan adanya perhatian khusus dan regulasi dari pemangku kebijakan.
"Saya berharap pemerintah bisa memikirkan kami yang jualan
offline
, untuk
online
gimana caranya biar ga terlalu anjlok betul," harap Joko.
Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa kondisi persaingan harga ini memaksa pedagang mengambil barang dari luar daerah demi menekan modal.
"Kami sebenarnya ga pengen belanja ke Jakarta belanja di sini biar grosirnya maju cuma karna persaingan di
online
murah kek ya udah mau gamau harus keluar Pontianak, jadi maksud kami biar sama sama ngebantu," pungkasnya.
Baca Juga:
Jelang Idul Fitri, Polda Kalbar Matangkan Pengamanan Lewat Operasi Ketupat Kapuas 2026
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.