faktakalbar

Sempat Dianggap Punah 172 Tahun, Burung Pelanduk Kalimantan Kembali Ditemukan di Tanah Bumbu

Penulis: Redaksi Saturday, 27 December 2025 📖 2 menit
Sempat Dianggap Punah 172 Tahun, Burung Pelanduk Kalimantan Kembali Ditemukan di Tanah Bumbu
Faktakalbar.id, TANAH BUMBU – Dunia konservasi dan ornitologi Indonesia mendapatkan kabar baik dengan ditemukannya kembali Burung Pelanduk Kalimantan ( Malacocincla perspicillata ). Satwa endemik yang juga dikenal sebagai Black-browed Babbler ini sebelumnya dianggap telah punah karena tidak pernah terlihat selama kurang lebih 172 tahun. Baca Juga: Cantik tapi Langka! Ini 5 Hewan Laut Unik yang Wajib Kita Jaga Keberadaannya Burung yang menjadi salah satu misteri terbesar dalam dunia ornitologi Indonesia ini ditemukan secara tidak sengaja di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Penemuan ini mematahkan anggapan para ahli yang sejak tahun 1848 menyatakan bahwa spesies ini telah hilang dari habitat alaminya. Adalah Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, dua warga lokal yang pertama kali melihat keberadaan burung tersebut pada Oktober 2020 lalu. Keduanya menemukan burung dengan ciri fisik unik tersebut di salah satu kawasan hutan di Tanah Bumbu. "Rasanya tidak nyata mengetahui bahwa kami telah menemukan spesies burung yang oleh para ahli dianggap punah," kata Rizky Fauzan, dikutip dari rilis Oriental Bird Club. Verifikasi Ciri Fisik dan Habitat Setelah penemuan tersebut, Suranto dan Rizky melakukan diskusi intensif dengan BW Galeatus dan kelompok konservasi burung Indonesia (Birdpacker). Proses verifikasi dilakukan dengan membandingkan ciri fisik burung temuan tersebut dengan gambaran ahli ornitologi Prancis, Charles Lucien Bonaparte, serta data dari Naturalis Biodiversity Center , Belanda. Hasil temuan ini kemudian diterbitkan dalam Jurnal BirdingASIA Volume 34 tahun 2020 dengan judul 'Missing for 170 years-the rediscovery of Black-browed Babbler Malacocincla perspicillata on Borneo' . Salah satu penulis jurnal sekaligus Pengendali Ekosistem Hutan TN Sebangau, Teguh Willy Nugroho, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan detail anatomi antara burung yang ditemukan dengan literatur lama, terutama pada warna iris mata, paruh, dan kaki. Berdasarkan pengamatan fisik selama masa penangkaran sementara, Burung Pelanduk Kalimantan ini memiliki penampilan kekar, ekor relatif pendek, dan paruh yang kuat. Bulunya didominasi warna cokelat dengan garis mata hitam lebar yang membentang dari tulang pipi ke tengkuk. Bagian dada berwarna keabu-abuan dengan garis putih halus, serta memiliki mahkota berwarna cokelat kemerahan yang khas. "Tidak ada burung Asia yang hilang selama The Black-browed Babbler (Malacocincla perspicillata). Burung ini pada tahun 2020 kemudian diklasifikasikan sebagai Kurang Data dalam Daftar Merah IUCN," tulis Teguh dalam laporannya. Bukti Keanekaragaman Hayati Penemuan ini menjadi bukti penting bahwa keanekaragaman hayati Indonesia masih terjaga di bagian terdalam hutan Kalimantan. Sebelumnya, literatur Birds of the Indonesian Archipelago: Greater Sundas and Wallacea karya James A. Eaton menempatkan burung ini sebagai spesies yang sangat misterius. Baca Juga: Honey Badger: Peraih Guinness World Record sebagai Hewan Paling Tak Kenal Takut Teguh menambahkan bahwa data historis antara tahun 1843 hingga 1848 tidak pernah menyebutkan lokasi spesifik keberadaan burung ini secara jelas. "Antara tahun 1843 dan 1848 data yang pernah dikumpulkan, holotipe tidak pernah secara jelas dikaitkan dengan lokasi tipe tertentu. Lokasi persebarannya kemungkinan berada di dekat Martapoera (Martapura) atau Bandjermasin (Banjarmasin), Kalimantan Selatan," jelas Teguh. Kini, burung mungil tersebut telah dilepaskan kembali ke habitat asalnya dengan aman. Peristiwa ini diharapkan dapat memicu kolaborasi yang lebih erat antara masyarakat lokal, peneliti, dan pemerintah untuk mengumpulkan informasi serta menjaga kelestarian satwa di Indonesia. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK