faktakalbar

Seram atau Tragis? 3 Hantu Perempuan Indonesia Ini Ternyata Simbol Luka Budaya Patriarki

Penulis: Redaksi Sunday, 30 November 2025 📖 2 menit
Seram atau Tragis? 3 Hantu Perempuan Indonesia Ini Ternyata Simbol Luka Budaya Patriarki
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda menyadari bahwa hantu-hantu paling populer dan paling ditakuti di Indonesia mayoritas bergender perempuan? Sebut saja Kuntilanak, Sundel Bolong, hingga Wewe Gombel. Jarang sekali kita mendengar kisah hantu laki-laki (seperti Genderuwo atau Pocong) yang memiliki latar belakang cerita setragis hantu-hantu perempuan ini. Dalam kajian budaya, fenomena ini bukanlah kebetulan. Sosok hantu perempuan sering kali merupakan manifestasi dari ketakutan sosial, penindasan, dan trauma yang dialami perempuan dalam budaya patriarki . Hantu-hantu ini bukanlah sekadar monster, melainkan "korban" yang tidak mendapatkan keadilan semasa hidupnya. Baca Juga:  Film ‘Home Sweet Loan’: Potret Pahit Generasi Sandwich dan Jebakan Patriarki untuk Anak Perempuan Berikut adalah 3 hantu ikonik Indonesia yang kisahnya mencerminkan kuatnya budaya patriarki: 1. Kuntilanak: Teror Kegagalan Menjadi Ibu Kuntilanak digambarkan sebagai perempuan yang meninggal saat melahirkan atau hamil. Dalam budaya tradisional yang patriarkis, nilai utama seorang perempuan sering kali diukur dari kemampuannya melahirkan keturunan. Meninggal saat melahirkan dianggap sebagai "kematian yang tidak sempurna" atau kegagalan memenuhi kodrat . Kuntilanak menjadi simbol ketakutan masyarakat terhadap fungsi reproduksi perempuan. Alih-alih mendapatkan empati sebagai ibu yang berjuang nyawa, ia justru dicitrakan sebagai monster menakutkan yang menculik bayi—sebuah antitesis dari sosok ibu penyayang yang didambakan masyarakat. 2. Sundel Bolong: Korban Kekerasan yang Di-monster-kan Legenda Sundel Bolong biasanya berpusat pada seorang perempuan cantik yang diperkosa hingga hamil, lalu dibunuh (atau bunuh diri). Lubang di punggungnya sering dimaknai sebagai simbol luka fisik dan aib yang dibawa sampai mati. Di sini, patriarki bekerja dengan cara yang kejam: perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual justru yang berubah menjadi hantu gentayangan, bukan pelakunya. Sosok Sundel Bolong mencerminkan bagaimana masyarakat sering kali melakukan victim blaming (menyalahkan korban). Rasa malu dan trauma akibat kekerasan seksual diubah menjadi sosok monster yang menjijikkan, seolah-olah tubuh perempuan yang ternoda adalah sumber horor itu sendiri. 3. Wewe Gombel: Sisi Gelap Tuntutan Pengasuhan Wewe Gombel dikisahkan sebagai hantu perempuan dengan payudara yang menjuntai, yang gemar menculik anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya. Konon, semasa hidupnya ia adalah perempuan yang tidak bisa memiliki anak (mandul) dan diselingkuhi suaminya, kemudian menjadi gila dan mati bunuh diri. Kisah ini adalah kritik keras terhadap beban ganda perempuan. Di satu sisi, perempuan dituntut memberi keturunan; jika tidak bisa, ia dibuang. Di sisi lain, hantu ini "menghukum" orang tua (biasanya ibu) yang abai pada anaknya. Wewe Gombel adalah manifestasi dari tekanan sosial yang mewajibkan perempuan untuk menjadi pengasuh yang sempurna. Melihat kembali cerita-cerita ini, mungkin rasa takut kita perlahan berubah menjadi rasa iba. Hantu-hantu perempuan di Indonesia sejatinya adalah monumen kesedihan dari para perempuan yang semasa hidupnya tidak memiliki kuasa atas tubuh dan nasibnya sendiri. Baca Juga:  5 Sisi Patriarki yang Terkuak di Drakor “Marry My Husband” (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK