Sering Bangun di Tengah Malam Bukan Berarti Insomnia Parah
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Banyak
individu
merasa panik saat terbangun pada pukul dua atau tiga pagi dan mengalami kesulitan untuk segera kembali terlelap.
Kondisi ini sering dianggap sebagai gejala insomnia akut, padahal sejarah mencatat manusia secara alami pernah memiliki pola tidur dua tahap atau
biphasic sleep
.
Sebelum penemuan
lampu pijar
dan
revolusi industri,
manusia tidur segera setelah matahari terbenam, terbangun di tengah malam untuk beraktivitas, lalu tidur kembali hingga fajar.
Catatan literatur abad pertengahan menunjukkan bahwa tidur pertama atau
first sleep
dan tidur kedua atau
second sleep
merupakan hal yang lazim bagi masyarakat zaman dahulu.
Baca Juga:
Mengenal Fenomena Balas Dendam Waktu Tidur yang Memicu Insomnia
Masa terjaga di tengah malam tersebut biasanya berlangsung selama satu hingga dua jam. Manusia menggunakannya untuk aktivitas ringan seperti merenung, membaca, atau berinteraksi secara tenang sebelum memasuki fase tidur berikutnya.
Benturan Evolusi dan Gaya Hidup Modern
Pola hidup modern menuntut setiap orang untuk memiliki durasi tidur delapan jam tanpa putus atau
monophasic sleep
.
Tuntutan ini sering kali bertabrakan dengan sisa-sisa insting evolusi sebagian individu yang secara biologis masih mengikuti pola dua tahap.
Ketika seseorang terbangun di tengah malam, sistem saraf mereka sebenarnya berada dalam kondisi relaksasi yang dalam, bukan kondisi waspada atau
hyperarousal
.
Kepanikan psikologis saat terjaga di tengah malam justru menjadi pemicu utama munculnya insomnia yang sebenarnya. Saat seseorang memaksakan diri untuk segera tidur kembali dengan perasaan kesal atau khawatir, otak akan mendeteksi kondisi tersebut sebagai ancaman.
Reaksi ini memicu pelepasan adrenalin yang justru membuat mata semakin sulit terpejam dan pikiran menjadi sangat aktif.
Mengelola Waktu Terjaga di Malam Hari
Memahami bahwa terjaga sebentar di tengah malam merupakan bagian dari variasi alami tidur manusia dapat mengurangi beban pikiran. Pakar kesehatan tidur menyarankan agar individu tidak terus menatap jam atau layar ponsel saat terbangun.
Cahaya dari ponsel akan menekan produksi melatonin dan memberikan sinyal palsu kepada otak bahwa waktu pagi telah tiba.
Baca Juga:
Sulit Tidur? Ini 4 Kartun Menyenangkan yang Bisa Menemani Insomnia Anda
Jika tidak bisa kembali tidur dalam waktu dua puluh menit, sebaiknya seseorang meninggalkan tempat tidur sebentar untuk melakukan aktivitas relaksasi yang membosankan di bawah cahaya redup.
Langkah ini membantu tubuh untuk kembali memasuki fase kantuk secara alami tanpa paksaan. Menyadari bahwa bangun di tengah malam adalah fenomena biologis yang normal membantu memutus siklus stres yang selama ini memperburuk kualitas istirahat masyarakat modern.
(*Sr)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.