Sering Bikin Mual, Ini Alasan Kenapa Lidah Cepat Enek dengan Rasa Manis tapi Kuat Makan Asin
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat saat melihat sepotong kue cokelat yang cantik, namun setelah suapan ketiga rasanya mendadak berubah menjadi mual atau
enek
? Anehnya, hal ini jarang terjadi saat kita mengonsumsi camilan asin seperti keripik kentang atau kacang goreng, yang rasanya justru membuat kita ingin terus mengunyah tanpa henti.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar masalah selera, melainkan ada penjelasan biologis dan evolusi di balik cara lidah serta otak kita merespons rasa.
Berikut adalah alasan mengapa lidah cenderung cepat menyerah pada rasa manis ketimbang asin:
1. Mekanisme
Sensory-Specific Satiety
Baca Juga:
Buntut Aksi Walk-Out, CAF Cabut Gelar Juara AFCON 2025 Senegal dan Sahkan Maroko
Otak manusia memiliki sistem yang disebut
sensory-specific satiety
atau kejenuhan sensorik spesifik.
Rasa manis yang intens memberikan sinyal "kenyang" yang lebih cepat ke otak. Ini adalah cara tubuh memberi tahu bahwa asupan kalori dan gula sudah cukup.
Sebaliknya, rasa asin tidak memberikan sinyal kejenuhan yang secepat itu, sehingga kita sering kali terjebak dalam siklus makan terus-menerus tanpa merasa mual.
2. Kebutuhan Dasar Tubuh akan Natrium
Secara evolusi, manusia purba sulit mendapatkan asupan garam (natrium) di alam liar, padahal nutrisi ini sangat penting untuk fungsi saraf dan otot.
Akibatnya, lidah kita berevolusi untuk selalu "menyukai" rasa asin dan tidak cepat merasa bosan agar tubuh bisa menimbun cadangan natrium.
Sementara itu, sumber manis (gula/karbohidrat) lebih mudah ditemukan di buah-buahan, sehingga tubuh tidak merasa perlu menciptakan dorongan konsumsi yang berlebihan.
3. Lonjakan Insulin yang Memicu Mual
Saat mengonsumsi makanan yang sangat manis, kadar gula darah melonjak secara mendadak.
Tubuh kemudian melepaskan insulin secara besar-besaran untuk menyeimbangkannya.
Proses metabolisme yang drastis ini sering kali memberikan efek samping berupa rasa pening atau mual di perut, yang kita kenal dengan istilah
enek
.
Rasa asin tidak memicu lonjakan hormon yang serupa secara
instan
.
4. Sinyal "Bahaya" dari Rasa Manis Berlebih
Lidah memiliki reseptor rasa yang sangat sensitif terhadap rasa manis.
Dalam dosis tinggi, otak menerjemahkan rasa manis yang terlalu pekat sebagai sesuatu yang berpotensi "meracuni" sistem keseimbangan tubuh.
Itulah sebabnya tenggorokan terasa gatal atau perut terasa kembung setelah makan martabak manis yang terlalu banyak susu kental manisnya.
5. Kombinasi Lemak dan Gula
Banyak makanan manis di sekitar kita juga mengandung lemak tinggi (seperti
whipping cream
atau mentega).
Gabungan antara kadar gula tinggi dan lemak jenuh inilah yang sebenarnya membuat perut terasa "berat".
Sedangkan makanan asin biasanya lebih ringan di lidah, meskipun kadar natriumnya tinggi, sehingga tidak memberikan sensasi begah yang instan.
Baca Juga:
Polda Kalbar Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Sinergitas Penegak Hukum di Bulan Ramadan
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.