Sering Dituduh Mengendap Berhari-hari di Usus, Ini Fakta Sebenarnya Tentang Pencernaan Mie Instan
Faktakalbar.id, LIFESTYLE
— Siapa yang tidak kenal mie instan? Makanan "penyelamat" akhir bulan ini sangat populer, namun juga dikelilingi oleh rumor menakutkan.
Salah satu mitos yang paling santer terdengar adalah mie instan tidak bisa dicerna, akan mengendap berhari-hari di usus, bahkan ada yang menyebutnya dilapisi lilin yang memicu kanker.
Rumor ini seringkali membuat orang takut, namun tetap saja memakannya karena rasanya yang lezat.
Lantas, dari kacamata medis, apakah benar lambung manusia yang super asam itu tidak mampu menghancurkan sepiring mie? Mari kita cek faktanya.
Baca Juga:
Maag Kambuh: Kenapa Habis Makan Justru Mual Hebat dan Rasanya Mau Pingsan? Ini Jawabannya
Mitos 1: Mie Instan Tidak Hancur Berhari-hari
Asal muasal mitos ini sebagian besar berasal dari sebuah video
eksperimen
viral beberapa tahun lalu yang menggunakan kamera pil (
pill camera
) untuk melihat isi perut.
Video itu menunjukkan mie instan tampak masih utuh setelah dua jam, dibandingkan dengan mie segar buatan tangan yang sudah hancur.
Memang benar mie instan lebih sulit dicerna dibandingkan mie segar atau nasi.
Hal ini karena mie instan adalah makanan ultra-proses yang melalui tahap pengawetan, penggorengan, dan memiliki struktur tepung yang padat.
Namun, "sulit dicerna" bukan berarti "tidak hancur". Sistem pencernaan manusia sangat canggih.
Lambung akan meremas makanan dan mencampurnya dengan asam klorida (HCL) yang sangat kuat.
Mie instan akan tetap hancur dan terurai menjadi bubur makanan (
chyme
) dalam waktu beberapa jam (biasanya 2-4 jam), lalu diserap oleh usus. Jadi, tidak benar jika dikatakan mie mengendap sampai berhari-hari atau membatu di usus.
Mitos 2: Ada Lapisan Lilin (
Wax
) pada Mie
Pernah mendengar peringatan untuk membuang air rebusan mie karena mengandung lilin pelapis? Banyak orang percaya mie menjadi licin dan mengkilap karena dilapisi lilin agar tidak lengket.
Faktanya:
Ini adalah salah satu hoaks kesehatan terbesar.
Mie instan tidak mengandung lilin.
Jika mie mengandung lilin, lilin tersebut akan mengeras kembali saat dingin di dalam usus dan bisa menyebabkan sumbatan fatal.
Kilap pada mie instan berasal dari minyak kelapa sawit yang digunakan saat proses penggorengan di pabrik (dehidrasi).
Selain itu, tekstur kenyal dan licin didapat dari bahan penstabil nabati, bukan lilin plastik.
Jadi, air rebusan yang keruh itu adalah campuran pati (karbohidrat) dan sisa minyak, bukan lelehan lilin.
Masalah Sebenarnya: Nutrisi, Bukan Pencernaan
Meskipun mie instan pasti hancur dan dicerna, bukan berarti Anda bebas memakannya setiap hari.
Masalah utamanya bukan pada "hancur atau tidak", melainkan
beban kerja
yang diberikan pada tubuh.
Karena mie instan adalah makanan olahan dengan pengawet dan rendah serat, lambung harus bekerja ekstra keras (kontraksi lebih kuat) untuk menguraikannya.
Hal inilah yang sering memicu perut begah, kembung, atau memicu asam lambung naik (GERD) bagi yang sensitif.
Selain itu, kandungan natrium (garam) yang sangat tinggi di bumbunya jauh lebih berbahaya bagi ginjal dan jantung daripada sekadar isu mie yang tidak hancur.
Anda tidak perlu khawatir mie instan akan menumpuk menjadi sampah abadi di usus Anda.
Lambung Anda cukup kuat untuk menghancurkannya.
Namun, jadikan mie instan sebagai makanan rekreasi (sesekali saja), bukan makanan pokok. Imbangi dengan sayuran hijau dan telur agar lambung lebih mudah mencernanya berkat bantuan serat dan protein.
Baca Juga:
Bukan Cuma Telat Makan, Ini Bedanya Sakit Maag Akibat Pola Makan vs Stres Pikiran
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.