"Siapa yang Mau Sama Aku?”: Suara Hati Sartika ‘Pangku’ dalam ‘Rayuan Perempuan Gila’
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Dalam jagat budaya pop, terkadang dua karya seni dari medium berbeda terasa "berjodoh".
Keduanya seolah berdialog tanpa pernah direncanakan, menangkap satu keresahan yang sama.
Inilah yang terjadi saat kita mendengar "Rayuan Perempuan Gila" dari Nadin Amizah sambil membayangkan perjuangan Sartika di film "Pangku".
Lagu Nadin telah menjadi semacam
anthem
validasi
kolekti
f bagi siapa saja yang pernah merasa "sulit", "rumit", atau "terlalu" untuk dicintai.
Baca Juga:
Terluka Namun Tak Menyerah: 4 Perjuangan Luar Biasa Sang Ibu di Film ‘Pangku’
Sementara itu, "Pangku", debut penyutradaraan Reza Rahadian, adalah potret sosial yang menampar kita dengan realitas di jalur Pantura.
Film ini menyoroti Sartika (Claresta Taufan), seorang perempuan yang oleh takdir dan keadaan, dilabeli stigma terendah oleh masyarakat.
Lalu, di mana benang merahnya? "Rayuan Perempuan Gila" terasa seperti
soundtrack
batin, monolog internal yang mungkin berkecamuk di kepala Sartika setiap hari.
Perempuan yang Dilabeli "Gila" oleh Dunia
Lirik Nadin berbunyi,
"Menurutmu, apa benar.. semua yang katakan tentang aku, si perempuan gila?"
Lagu ini adalah pengakuan rapuh seorang perempuan yang sadar dirinya tidak sempurna. Ia takut ditinggalkan karena "kegilaan" atau "kerumitan" yang ia miliki.
Ia memohon pada kekasihnya,
"Jangan dulu, tunggu... Siapa yang mau?"
Ini adalah potret sempurna dari
insecurity
rasa takut bahwa jika seseorang melihat kita apa adanya (dengan semua luka dan kekurangan kita), mereka pasti akan pergi.
"Pangku" dan Stigma yang Menubuh
Kini, mari kita lihat Sartika.
Jika persona di lagu Nadin merasa "gila" secara
internal
(karena
mood swing
atau kerumitan emosional), Sartika adalah perempuan yang dilabeli "gila" (atau "rusak" dan "kotor") secara
eksternal
oleh dunia.
Dia adalah seorang ibu tunggal di lingkungan "kopi pangku" yang keras. Pekerjaan dan statusnya membuat masyarakat otomatis menghakiminya.
Sartika adalah representasi nyata dari perempuan yang harus menelan harga dirinya demi bertahan hidup, demi anaknya.
Keterhubungan paling kuat terjadi saat Hadi (Fedi Nuril) hadir, menawarkan cinta dan ketulusan.
Bayangkan apa yang ada di kepala Sartika.
Ketika seorang pria baik tulus mendekatinya, mungkinkah ia langsung percaya? Tentu tidak.
Yang ada justru ketakutan yang lebih besar.
Monolog batin Sartika mungkin akan berbunyi persis seperti lirik Nadin:
"Kamu yakin mau sama aku? Perempuan seperti ini? Perempuan yang bekerja di warung kopi pangku? Yang masa lalunya kelam dan masa depannya tidak jelas? Jangan dulu... Nanti kamu akan lihat 'gilanya' aku, lihat 'rusaknya' aku, dan kamu pasti akan pergi. Siapa yang mau sama perempuan seperti aku?"
Validasi untuk yang Terluka
Kekuatan "Rayuan Perempuan Gila" adalah kejujurannya.
Kekuatan "Pangku" adalah keberaniannya menampilkan realitas yang jujur.
Keduanya bertemu di satu titik: sebuah permohonan untuk dicintai apa adanya.
Lagu Nadin adalah tentang menerima kerumitan emosional, sementara film "Pangku" adalah tentang menerima kerumitan realitas sosial.
Keduanya adalah karya yang memberi suara kepada mereka yang terpinggirkan, yang terluka, dan yang merasa tidak layak dicintai.
Sartika adalah "perempuan gila" yang diciptakan oleh kerasnya keadaan.
Dan "Rayuan Perempuan Gila" adalah tangisan minta tolongnya yang paling jujur, berharap ada satu orang yang tidak akan pergi, bahkan setelah tahu segala kebenaran pahit tentang dirinya.
Baca Juga:
“Lagi-Lagi Reza Rahadian”: Debut Sutradara ‘Pangku’ Tetapkan Standar Baru Sinema
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.