faktakalbar

Simbol Melawan Lupa: Mengenal Sejarah dan Makna di Balik Aksi Kamisan

Penulis: Redaksi Thursday, 15 January 2026 📖 2 menit
Simbol Melawan Lupa: Mengenal Sejarah dan Makna di Balik Aksi Kamisan
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Setiap hari Kamis sore, pemandangan kontras selalu tersaji di seberang Istana Merdeka, Jakarta. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sekumpulan orang berdiri diam. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, memegang payung hitam, dan berdiri menghadap simbol kekuasaan negara. Tidak ada orasi yang berapi-api, tidak ada kerusuhan. Yang ada hanyalah keheningan yang "bising" akan tuntutan keadilan. Inilah Aksi Kamisan , sebuah monumen hidup perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Namun, apa sebenarnya Aksi Kamisan itu, dan mengapa mereka bertahan selama belasan tahun tanpa henti? Baca Juga:  Aksi Kamisan di Pontianak Tuntut Kejelasan Kasus HAM dan Kecam Represifitas Aparat Apa Itu Aksi Kamisan? Aksi Kamisan adalah sebuah aksi damai berupa demonstrasi diam ( silent protest ) yang dilakukan oleh para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat di masa lalu. Mereka tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK). Tujuan utama aksi ini bukan untuk menggulingkan kekuasaan, melainkan menuntut tanggung jawab negara untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang mangkrak . Mereka mendesak agar kasus-kasus tersebut diselesaikan melalui jalur yudisial, serta menolak adanya impunitas ( impunity ) atau kekebalan hukum bagi para pelaku kejahatan kemanusiaan. Sejarah Aksi Kamisan: Terinspirasi dari Argentina Aksi Kamisan pertama kali digelar pada tanggal 18 Januari 2007 . Inisiatif ini lahir dari keputusasaan keluarga korban terhadap janji-janji pemerintah yang tak kunjung terealisasi dalam menyelesaikan kasus masa lalu. Gerakan ini terinspirasi oleh aksi serupa di Argentina yang dikenal dengan nama Madres de Plaza de Mayo (Ibu-ibu Plaza de Mayo). Di sana, para ibu yang kehilangan anak-anaknya akibat penculikan oleh junta militer melakukan aksi diam dengan mengelilingi alun-alun kota setiap hari Kamis. Di Indonesia, tokoh-tokoh sentral yang menginisiasi aksi ini antara lain adalah Maria Catarina Sumarsih (ibunda Wawan, korban Tragedi Semanggi I), Suciwati (istri mendiang aktivis Munir Said Thalib), dan Bedjo Untung (korban peristiwa 1965). Hingga kini, aksi ini telah berlangsung lebih dari 800 kali, melewati berbagai periode kepemimpinan presiden. Makna Filosofis Hitam dan Payung Atribut yang digunakan dalam Aksi Kamisan bukanlah tanpa arti. Setiap elemen visual membawa pesan yang mendalam: Warna Hitam: Melambangkan duka cita yang mendalam. Namun, hitam di sini juga merepresentasikan keteguhan hati dan cinta kasih keluarga korban yang tak pernah pudar meski digerus waktu. Payung Hitam: Payung adalah simbol perlindungan. Penggunaan payung menyimbolkan bahwa negara seharusnya menjadi "payung" yang melindungi warganya, bukan justru menjadi aktor yang melukai rakyatnya sendiri. Aksi Diam: Menunjukkan bahwa kata-kata sudah tidak lagi didengar. Diam adalah bentuk protes paling keras ketika suara keadilan dibungkam. Kasus-Kasus yang Disuarakan Selama bertahun-tahun berdiri di depan istana, Aksi Kamisan konsisten membawa berkas tuntutan penyelesaian berbagai tragedi kemanusiaan, di antaranya: Tragedi 1965-1966. Peristiwa Tanjung Priok (1984). Peristiwa Talangsari (1989). Tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II (1998-1999). Penghilangan Paksa Aktivis (1997-1998). Pembunuhan Munir Said Thalib (2004). Aksi Kamisan bukan sekadar ritual mingguan; ia adalah pengingat bahwa bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarah kelamnya. Keberadaan payung-payung hitam di depan istana adalah bukti bahwa luka para korban belum sembuh, dan utang keadilan negara kepada warganya belum lunas dibayar. Selama keadilan belum tegak, maka selama itu pula mereka akan terus ada, berdiri tegak melawan lupa. Baca Juga:  Menolak Lupa: 5 Cermin Retak ‘Laut Bercerita’ yang Masih Menghantui Indonesia Hari Ini (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK