Sisi Gelap Bekerja di Media yang Jarang Diketahui: Work Life Balance Akan Direnggut Paksa
Faktakalbar.id, LIFESTYLE
– Bekerja di media sering kali terlihat keren di mata orang awam.
Kartu pers di leher, akses ke tempat-tempat eksklusif, dan nama yang terpampang di berita.
Namun, ada harga mahal yang harus dibayar untuk semua privilese itu: Waktu Kehidupan Pribadimu
.
Jika kamu adalah tipe orang yang mendewakan
Work-Life Balance
(WLB), pulang tepat waktu jam 5 sore, dan mematikan ponsel saat akhir pekan, industri media terutama
hard news
akan menjadi mimpi buruk bagimu.
Baca Juga:
Mental Aman, Karir Nyaman: 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Harus Segera Ditinggalkan
Di sini, batas antara "waktu kerja" dan "waktu hidup" bukan sekadar kabur, tapi sering kali hilang sama sekali.
Siapkah mentalmu? Berikut adalah 5 realita pahit bagaimana keseimbangan hidupmu akan "direnggut" saat memutuskan menjadi jurnalis atau pekerja media.
1. Konsep "Jam Kerja" Adalah Mitos
Di perusahaan biasa, kamu bekerja 8 jam sehari,
9-to-5
.
Di media, jam kerjamu mengikuti ritme peristiwa dunia. Kriminalitas, bencana alam, atau penangkapan pejabat korup tidak punya jadwal kantor.
Mereka bisa terjadi pukul 03.00 pagi atau 23.00 malam.
Artinya? Kamu harus siap siaga (
standby
) 24 jam.
Ponselmu adalah nyawamu.
Tidak ada istilah "jam istirahat" yang
sakral
.
Jika ada
breaking news
, nasi yang baru masuk ke mulut pun harus rela ditinggalkan demi mengejar data.
2. Teror Notifikasi di Tengah Malam
Bagi orang lain, dering telepon di tengah malam adalah tanda bahaya keluarga.
Bagi pekerja media, itu adalah panggilan tugas dari redaktur.
Kamu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak dalam mode
Silent
atau
Do Not Disturb
.
Rasa cemas takut ketinggalan informasi (
Fear of Missing Out
) akan menghantuimu.
Kamu akan terbiasa bangun dengan jantung berdebar hanya karena mendengar bunyi notifikasi
WhatsApp Group
kantor, memastikan tidak ada isu besar yang terlewat saat kamu memejamkan mata.
3. Menjadi "Raja Wacana" di Lingkaran Pertemanan
Punya rencana
hangout
Sabtu malam atau liburan pendek (
short escape
) ke pantai? Jangan terlalu berharap.
Rencanamu hanyalah
draft
kasar yang bisa dibatalkan semesta kapan saja.
Kamu akan sering menjadi teman yang membatalkan janji H-1 jam karena mendadak ada liputan, atau menjadi orang yang sibuk mengetik berita di pojokan kafe saat teman-teman lain sedang asyik bercanda.
Lama-kelamaan, kamu akan dicap sebagai "Si Wacana" karena jadwalmu yang tidak pernah pasti.
4. Tanggal Merah Justru Puncak Kesibukan
Lupakan libur Lebaran, Natal, atau Tahun Baru bersama keluarga besar secara utuh.
Saat orang lain libur
long weekend
, itulah "panen raya" berita bagi media.
Arus mudik, liputan tempat wisata, hingga pantauan malam pergantian tahun adalah tugas wajib.
Kamu mungkin akan merayakan takbiran di jalan raya atau merayakan Natal di lokasi liputan.
Konsep "libur nasional" tidak berlaku di kamus kerjamu; liburmu diganti di hari lain saat orang-orang sibuk bekerja.
5. Pulang ke Rumah Bukan Berarti "Selesai"
Di pekerjaan administratif, menutup laptop berarti pekerjaan selesai.
Di media, otakmu tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Meski fisikmu sudah di kasur, pikiranmu masih memutar
angle
berita untuk besok, memantau media sosial, atau memikirkan isu apa yang sedang viral.
Kamu membawa pekerjaanmu ke ruang makan, ke kamar tidur, bahkan ke kamar mandi.
Kehidupan pribadimu perlahan tergerus oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti mengalir.
Disclaimer:
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebuah
self-selection
atau seleksi alam.
Industri media memang bukan untuk kaum yang manja soal waktu.
Namun, bagi mereka yang memiliki
passion
tinggi, hilangnya
work-life balance
ini sering kali terbayar lunas dengan adrenalin, kepuasan membongkar fakta, dan dampak yang diberikan kepada publik.
Pertanyaannya, apakah kamu siap membayarnya?
Baca Juga:
Di Balik Lensa Kamera: 5 Pemicu Guncangan Mental Jurnalis Saat Meliput Kasus Berat
(Mira)
Tag:
#tips karir
#Jurnalistik
#Work-Life Balance
#Dunia Kerja Media
#Realita Wartawan
#Mental Health Kerja
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.