Sisi Gelap yang Memikat: 4 Hal Menarik dari Buku 'Malam Terakhir' Karya Leila S. Chudori
Faktakalbar.id
- Nama Leila S. Chudori kini begitu lekat di ingatan pembaca muda berkat novel fenomenalnya,
Laut Bercerita
dan
Pulang
.
Namun, jauh sebelum novel-novel sejarah itu menjadi
best-seller
, Leila telah menancapkan taringnya di dunia sastra Indonesia lewat sebuah
antologi
(kumpulan cerpen) bertajuk
Malam Terakhir
.
Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Bagi Anda yang baru mengenal Leila lewat karya terbarunya, membaca
Malam Terakhir
akan memberikan pengalaman yang sama sekali berbeda sedikit gelap, liar, dan penuh imajinasi.
Baca Juga:
Lebih dari Sekadar Hobi, Ini 6 Alasan Kenapa Membeli Buku Itu Sangat Menyenangkan
Mengapa buku lawas ini tetap relevan dan wajib masuk dalam daftar bacaan (TBR) Anda? Berikut adalah 4 hal menarik dari
Malam Terakhir
karya Leila S. Chudori:
1. Imajinasi Surealis yang Liar
Jika Anda terbiasa dengan gaya penulisan Leila yang realis-historis di
Laut Bercerita
, bersiaplah terkejut.
Malam Terakhir
didominasi oleh gaya bercerita surealis dan terkadang absurd.
Leila mengajak pembaca masuk ke dunia di mana logika diputarbalikkan.
Anda akan menemukan kisah-kisah yang terasa seperti mimpi buruk namun memikat.
Pengaruh penulis dunia seperti Franz Kafka cukup terasa di sini, di mana karakter-karakter terjebak dalam situasi aneh yang tak terjelaskan nalar, namun terasa begitu manusiawi.
2. Ditulis Saat Penulis Masih Sangat Muda
Salah satu fakta paling mengagumkan dari buku ini adalah usia penulis saat menciptakannya.
Sebagian besar cerpen dalam
Malam Terakhir
ditulis ketika Leila masih menjadi jurnalis muda di majalah Tempo, bahkan beberapa ditulis saat ia masih berusia 20-an awal.
Meskipun ditulis di usia muda, kematangan intelektual dan kekayaan referensi (terutama budaya Barat dan wayang) sudah sangat kental.
Ini membuktikan bahwa kepiawaian Leila dalam merangkai kata memang sudah terbentuk sejak awal kariernya.
3. Kritik Sosial Melalui Simbolisme
Karena ditulis pada era Orde Baru (tahun 80-an), kritik dalam buku ini tidak disampaikan secara frontal, melainkan dibungkus rapi dengan metafora dan simbolisme.
Cerpen-cerpen dalam
Malam Terakhir
banyak menyoroti tentang pengekangan kebebasan, kemunafikan kaum intelektual, hingga dominasi kekuasaan yang menindas.
Kritik ini disampaikan dengan cerdas tanpa terasa menggurui, membuat pembaca harus berpikir dua kali untuk menangkap pesan tersirat di balik narasi yang "gelap".
4. Eksplorasi Sisi Psikologis Manusia
Kekuatan utama
Malam Terakhir
Leila S. Chudori terletak pada penggalian psikologis tokoh-tokohnya.
Cerita-cerita di dalamnya sering kali tidak memiliki akhir yang bahagia atau
plot twist
yang melegakan.
Sebaliknya, Leila menyajikan kegelisahan, kesepian, alienasi (keterasingan), dan pemberontakan batin manusia modern.
Membaca buku ini seperti bercermin pada sisi-sisi jiwa manusia yang jarang dibicarakan:
obsesi
, ketakutan, dan hasrat yang terpendam.
Baca Juga:
Jangan Asal Didik! Ini 5 Rekomendasi Buku Parenting yang Wajib Dibaca Orang Tua
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.