Soroti Eksploitasi Pekerja, GMNI Pontianak Desak Evaluasi Total Kebijakan Ketenagakerjaan Jelang May Day
Faktakalbar.id, PONTIANAK –
Kondisi kesejahteraan kelas pekerja di Kalimantan Barat kembali mendapat sorotan tajam menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (
May Day
) yang jatuh pada 1 Mei 2026.
Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Pontianak secara tegas meminta adanya
evaluasi
menyeluruh terhadap regulasi dan
implementasi
kebijakan ketenagakerjaan di daerah ini.
Ketua DPC GMNI Pontianak, Mahardhika, pada Selasa (28/4) menyampaikan bahwa peringatan Hari Buruh tidak boleh sekadar menjadi rutinitas seremonial tahunan.
Baca Juga:
25 Lulusan FH UM Pontianak Ikuti Yudisium, Rektor Ingatkan Peran Strategis Sarjana Hukum di Masyarakat
Momen ini harus direbut kembali sebagai panggung utama untuk menyuarakan realitas pahit yang masih menjerat para buruh dan kaum marhaen di lapangan.
“Di momentum
May Day
ini, kami ingin menyerukan keluhan dari para buruh, para kaum marhaen yang masih merasakan penderitaan, yang masih merasakan eksploitasi manusia terhadap manusia dan masih belum merasakan seutuhnya apa itu menjadi masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945,” tegas Mahardhika.
Ia memaparkan bahwa potret buram sektor ketenagakerjaan di Kalimantan Barat masih diwarnai oleh rentetan masalah mendasar yang tak kunjung diselesaikan secara tuntas oleh pemangku kebijakan.
Catatan kritis tersebut meliputi standar upah yang belum layak, minimnya akses jaminan sosial bagi pekerja, hingga lemahnya perlindungan dan pengawasan terhadap praktik kerja yang dinilai tidak manusiawi di berbagai sektor industri.
Merespons karut-marut persoalan perburuhan tersebut, jajaran pengurus GMNI Pontianak menyuarakan sejumlah tuntutan dan langkah strategis.
Mereka mendesak pemerintah daerah untuk berhenti bersikap pasif dan harus lebih tegas dalam melakukan pengawasan serta penegakan hukum ketenagakerjaan.
Lebih jauh, Mahardhika juga menyerukan kepada seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk tidak tinggal diam, melainkan turun tangan langsung memfasilitasi ruang advokasi dan dialog terbuka yang mempertemukan kaum buruh dengan para pembuat kebijakan.
“Kami berdiri bersama buruh dan mendukung penuh upaya-upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh pekerja,” tekannya.
Melalui refleksi
May Day
2026 ini, GMNI Pontianak berharap dapat memantik simpul solidaritas yang lebih kuat antara gerakan intelektual mahasiswa dan kelas pekerja, demi merebut hak-hak perburuhan yang lebih berkeadilan dan bermartabat di bumi Kalimantan Barat.
Baca Juga:
Sukses Gelar Pontianak Atletik Open 2026, PASI Optimistis Kalbar Tembus Kancah Dunia
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.