Studi Ungkap Respons Otak Penggemar Sepak Bola Saat Tim Menang atau Kalah
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Menonton
tim sepak bola
bermain bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental.
Namun, kita sering melihat penggemar sepak bola menjadi sangat
emosional
ketika timnya menang atau kalah dalam pertandingan besar.
Baca Juga:
Chelsea Juara Piala Dunia Antarklub 2025 Usai Bungkam PSG 3-0 di Final
Meskipun kedengarannya mustahil orang dewasa bisa menjadi "gila" karena olahraga, sebuah studi neurologis baru mengungkap respons otak penggemar sepak bola saat klub favorit mereka berlaga.
Mengutip
Euro News
, studi yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal
Radiology
mengungkapkan bahwa area otak yang berbeda menjadi aktif ketika penggemar sepak bola menonton tim mereka bermain.
Aktivitas otak inilah yang memicu emosi dan perilaku, baik positif maupun negatif.
Peneliti di Universitas Chili menggunakan
functional MRI
(fMRI) teknik yang mengukur aktivitas otak dengan mendeteksi perubahan aliran darah untuk mempelajari 60 penggemar sepak bola pria di Chili.
Para peneliti mengamati aktivitas otak mereka saat menonton rangkaian gol dari pertandingan yang melibatkan tim favorit mereka, tim lawan, atau tim netral.
Tingkat fanatisme mereka juga diukur menggunakan
Skala Fanatisme Suporter Sepak Bola
.
Hasil MRI mengungkapkan temuan menarik. Ketika tim favorit seorang penggemar mencetak gol melawan rivalnya, hal itu mengaktifkan area sistem
reward
(penghargaan) di otak mereka.
Baca Juga:
Chelsea Rekrut Kiernan Dewsbury-Hall, Tambah Kekuatan di Lini Tengah
Area ini adalah bagian otak yang biasanya terkait dengan kesenangan lain seperti makanan, seks, dan narkoba.
Sementara itu, hasil sebaliknya terjadi ketika tim penggemar mengalami kekalahan telak di tangan lawan.
Saat kalah, studi ini menemukan aktivasi jaringan mentalisasi otak (yang terlibat dalam persepsi).
Namun, yang lebih signifikan adalah berkurangnya aktivitas di
korteks cingulate anterior dorsal
(dACC), sebuah wilayah otak yang terlibat dalam memantau konflik dan pengendalian emosi.
"Persaingan dengan cepat mengubah keseimbangan penilaian-pengendalian otak dalam hitungan detik," kata penulis utama Francisco Zamorano, seorang profesor di Universidad San Sebastián di Santiago, Chili.
Zamorano mencatat bahwa efeknya paling kuat pada orang-orang yang sangat fanatik. Mereka mungkin merasa lebih sulit mengatur emosi ketika identitas mereka (sebagai penggemar) terancam.
Hal ini menjelaskan mengapa orang yang rasional dapat tampak seperti orang yang sama sekali berbeda selama pertandingan.
Menurut peneliti, mekanisme respons otak penggemar sepak bola ini tidak hanya terbatas pada fanatisme sepak bola.
Mekanisme serupa juga diduga muncul kembali dalam bentuk fanatisme lain, mulai dari agama hingga politik.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.