faktakalbar

Sulit Tidur atau Malah Tidur Seharian Saat Stres? Ternyata Ini Penyebab Medis dan Psikologisnya

Penulis: Redaksi Saturday, 04 April 2026 📖 2 menit
Sulit Tidur atau Malah Tidur Seharian Saat Stres? Ternyata Ini Penyebab Medis dan Psikologisnya
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Pernahkah Anda merasa sangat sedih lalu mendapati diri terjaga hingga fajar menyingsing? Atau sebaliknya, saat sedang dilanda tekanan mental yang hebat, Anda justru bisa tertidur pulas belasan jam seolah enggan menghadapi dunia? Perbedaan respons tubuh terhadap tekanan emosional ini sering kali memicu pertanyaan. Ternyata, reaksi fight-or-flight atau sistem pertahanan diri manusia bekerja secara unik pada setiap individu saat menghadapi stres. Baca Juga:  Sering Diabaikan, Ini 5 Tanda Tubuh Kamu Kurang Gula Secara Psikologis dan Fisik Berikut adalah alasan medis dan psikologis mengapa pola tidur seseorang bisa berubah drastis saat stres atau sedih: 1. Respons Kortisol yang Berlebihan (Insomnia) Bagi mereka yang sulit tidur saat stres, penyebab utamanya adalah hormon kortisol. Saat pikiran merasa terancam, tubuh melepaskan kortisol dan adrenalin yang membuat sistem saraf tetap dalam kondisi waspada atau hyperarousal . Kondisi ini memaksa otak untuk terus berpikir ( overthinking ), sehingga mata sulit terpejam meskipun tubuh terasa sangat lelah. 2. Mekanisme Koping Defensif (Tidur Seharian) Di sisi lain, ada orang yang merespons kesedihan dengan tidur berlebihan atau hipersomnia. Secara psikologis, ini adalah bentuk escapism atau pelarian dari realitas yang menyakitkan. Tidur menjadi mekanisme pertahanan diri agar otak tidak perlu memproses emosi negatif yang terlalu berat. Dalam kondisi ini, tidur berfungsi sebagai "tombol jeda" dari rasa sakit emosional. 3. Gangguan Ritme Sirkadian Stres dan kesedihan yang mendalam dapat mengacaukan jam biologis tubuh atau circadian rhythm . Ketidakseimbangan hormon serotonin dan melatonin sering terjadi saat seseorang mengalami tekanan mental. Akibatnya, ada yang mengalami pergeseran waktu tidur (baru bisa tidur saat pagi) atau kehilangan kemampuan untuk merasa segar meskipun sudah tidur lama. 4. Kelelahan Emosional yang Ekstrem Proses memproses kesedihan membutuhkan energi mental yang sangat besar. Bagi beberapa orang, beban emosional ini menyebabkan burnout atau kelelahan luar biasa yang membuat tubuh mereka "tumbang" dan membutuhkan waktu tidur jauh lebih lama dari biasanya untuk memulihkan energi yang terkuras habis karena menangis atau berpikir keras. 5. Hubungan dengan Kondisi Kesehatan Mental Pola tidur yang berubah secara ekstrem juga bisa menjadi indikator kondisi kesehatan mental tertentu. Insomnia sering dikaitkan dengan gangguan kecemasan ( anxiety ), sementara keinginan untuk tidur terus-menerus tanpa gairah sering kali menjadi gejala awal dari depresi. Memahami pola ini membantu kita untuk lebih peka terhadap sinyal yang diberikan oleh tubuh. Baca Juga:  Sering Terjadi, Ini Alasan Psikologis Kenapa Perempuan Ubah Gaya Rambut Saat Stres atau Sedih (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK