Air Mata Lenny di MK dan Bayang-Bayang Militerisme Tahun Kedua Prabowo
Faktakalbar.id, JAKARTA –
Di tengah gemuruh rencana ekspansi kekuatan militer pada tahun kedua pemerintahan
Prabowo Subianto
, sebuah tangisan pecah di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (
MK
), Rabu (14/01/26).
Baca Juga:
Merasa Karier Terhambat, Dokter Asal Sekadau Gugat UU TNI dan ASN ke Mahkamah Konstitusi
Lenny Damanik, seorang ibu yang menuntut keadilan, menjadi saksi hidup betapa reformasi militer masih menyisakan pekerjaan rumah yang kelam.
Lenny hadir memberikan kesaksian dalam sidang uji materi Undang-Undang (UU) TNI.
Ia adalah ibu dari Mikael Histon Sitanggang (15), remaja yang tewas dianiaya oknum TNI berpangkat Sersan Satu, Riza Pahlivi, pada 2024 silam.
Di hadapan hakim, Lenny meluapkan kekecewaannya atas vonis ringan 10 bulan penjara yang diterima pelaku.
"Kematian anak saya telah membunuh saya, dan [kemudian] datang lagi putusan yang diberikan lebih tidak adil lagi,”
ujar Lenny dengan suara bergetar.
Tragedi yang menimpa Mikael bermula saat ia dan temannya menonton tawuran di Medan, Sumatera Utara.
Baca Juga:
Tembus Medan Sulit, TNI AU Terjunkan Pasukan Khusus ke Lokasi Jatuhnya ATR 42-500
Saat aparat membubarkan massa, Mikael yang tidak terlibat justru ditangkap dan dihajar hingga tewas meski sempat dilarikan ke rumah sakit.
Kasus Lenny menjadi antitesis dari narasi besar penguatan militer yang tengah bergulir.
Hakim MK, Suhartoyo, mencatat bahwa UU TNI menjadi beleid yang paling banyak digugat, yakni mencapai 20 kali.
Hal ini mengindikasikan tingginya perhatian dan kekhawatiran publik terhadap sektor keamanan.
Sementara itu, memasuki tahun kedua kepemimpinannya, pemerintahan Prabowo Subianto dinilai sejumlah akademisi semakin mempertegas warna militeristik.
Kebijakan pembentukan Komando Daerah Militer (Kodam) baru, penambahan ratusan batalyon, hingga perluasan kewenangan militer di dunia maya menjadi sorotan utama.
Revisi UU TNI yang disahkan 21 tahun setelah Reformasi juga memicu gelombang protes.
Demonstrasi menjalar di berbagai kota mendesak pembatalan revisi yang dianggap dapat mengembalikan dwifungsi militer.
Meski Prabowo mengaku mendengar kritik tersebut, langkah penguatan struktur militer terus berjalan.
Kontradiksi antara upaya memperkuat pertahanan negara melalui pembentukan satuan baru dan realitas ketidakadilan yang dialami warga sipil seperti Lenny Damanik, menjadi ujian berat bagi demokrasi Indonesia di era pemerintahan saat ini.
(fr)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.