faktakalbar

Tanpa Disadari, 4 Pola Asuh Ini Bisa Membesarkan Anak Menjadi Perundung

Penulis: Redaksi Saturday, 18 October 2025 📖 2 menit
Tanpa Disadari, 4 Pola Asuh Ini Bisa Membesarkan Anak Menjadi Perundung
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Tidak ada satu pun orang tua yang bercita-cita membesarkan anaknya menjadi seorang perundung. Namun, perilaku merundung tidak muncul begitu saja. Sering kali, akarnya tumbuh dari lingkungan terdekat, yaitu rumah dan pola asuh yang diterima anak sehari-hari. Beberapa kebiasaan atau gaya pengasuhan yang dianggap normal atau bahkan didisiplinkan ternyata bisa menjadi fondasi bagi terbentuknya karakter perundung. Mengenali pola-pola ini adalah langkah krusial bagi orang tua untuk melakukan introspeksi dan perbaikan, demi membentuk anak yang berempati dan menghargai orang lain. Baca Juga:  Buntut Kasus Bunuh Diri, Unud Sanksi Mahasiswa Pelaku Perundungan Berikut adalah empat pola asuh yang salah dan berisiko membesarkan anak menjadi seorang perundung. 1. Terlalu Keras dan Menuntut Kepatuhan Mutlak Orang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung menuntut kepatuhan mutlak dan sering menggunakan hukuman fisik atau verbal yang keras, seperti membentak, memukul, atau meremehkan. Mengapa ini berbahaya? Anak belajar bahwa kekuasaan dan agresi adalah cara untuk menyelesaikan masalah dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka melihat bahwa "yang lebih kuat berhak menindas yang lebih lemah". Ketika berada di luar rumah, mereka akan meniru perilaku ini pada teman-temannya yang dianggap lebih lemah darinya untuk merasa berkuasa. 2. Membiarkan Anak Tumbuh Tanpa Aturan yang Jelas Ini adalah kebalikan dari pola otoriter . Orang tua yang permisif sangat longgar dalam aturan, jarang memberikan konsekuensi atas perilaku buruk, dan cenderung menuruti semua kemauan anak. Tujuannya mungkin baik, yaitu agar anak bahagia, tetapi dampaknya bisa negatif. Mengapa ini berbahaya? Anak tumbuh dengan rasa superioritas ( entitlement ) dan minim empati. Mereka tidak belajar bahwa tindakan mereka memiliki dampak bagi orang lain. Karena terbiasa mendapatkan segalanya, mereka akan frustrasi dan marah ketika keinginannya tidak terpenuhi, lalu melampiaskannya dengan cara memaksa atau mengintimidasi teman-temannya. 3. Mengabaikan Kebutuhan Emosional Anak Dalam pola asuh ini, orang tua mungkin memenuhi semua kebutuhan materi anak, tetapi gagal memberikan kehadiran, kehangatan, dan validasi emosional. Mereka sibuk, jarang berinteraksi, atau tidak peka terhadap perasaan anak. Mengapa ini berbahaya ? Anak yang merasa diabaikan secara emosional akan mencari perhatian dengan cara apa pun, termasuk cara negatif. Merundung teman bisa menjadi cara bagi mereka untuk merasa dilihat dan diakui. Selain itu, anak yang tidak pernah diajarkan untuk memahami dan mengelola emosinya sendiri akan kesulitan untuk memahami perasaan orang lain (empati). 4. Menjadi Contoh Buruk dengan Merendahkan Orang Lain Anak adalah peniru ulung. Mereka menyerap semua yang mereka lihat dan dengar dari orang tuanya. Jika orang tua sering menggosip, melontarkan komentar sinis tentang orang lain, meremehkan pelayan, atau bersikap superior di depan tetangga, anak akan menganggap perilaku tersebut wajar. Mengapa ini berbahaya? Anak belajar bahwa merendahkan orang lain untuk merasa lebih baik tentang diri sendiri adalah hal yang dapat diterima. Mereka akan menginternalisasi cara pandang ini dan menerapkannya di lingkungan sosial mereka, memilih target untuk direndahkan demi menaikkan status atau rasa percaya diri mereka. Mencegah anak menjadi perundung dimulai dengan menciptakan lingkungan rumah yang penuh kehangatan, batasan yang tegas namun penuh kasih, serta menjadi teladan dalam ber empati dan menghargai perbedaan. Baca Juga:  Sering Terjadi Tapi Dianggap Normal, Kenali 5 Jenis Bullying Terselubung di Kampus (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK