Tari Timang Banjar: Sejarah Ritual Tolak Banjir Pontianak
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Penetapan Tari Timang Banjar sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia membuka kembali lembaran sejarah kesenian
Keraton Kadriyah.
Tarian ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan respons kreatif masyarakat Pontianak zaman dahulu dalam menghadapi fenomena alam di lingkungannya.
Generasi muda perlu mengetahui bahwa tarian ini lahir dari keresahan warga Kampung Beting terhadap musibah banjir yang rutin melanda tepian
Sungai Kapuas
. Berikut adalah fakta sejarah dan filosofi Tari Timang Banjar yang tersimpan dalam arsip sejarah kesenian Pontianak.
Baca Juga:
Kue Batang Burok dan Tari Timang Banjar Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Ncek Mat Menciptakan Tari Tahun 1921
Seorang seniman bernama
Ncek Ahmad
, atau lebih dikenal sebagai Ncek Mat, menciptakan Tari Timang Banjar pada tahun 1921
.
Ncek Mat merupakan seniman kelahiran Singapura yang merantau ke Pontianak dan menetap di kawasan Keraton Kadriyah, tepatnya di Kampung Banjar, Kelurahan Dalam Bugis
.
Ncek Mat menciptakan tarian ini atas permintaan Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan ke-6 Keraton Kadriyah
.
Sultan meminta Ncek Mat untuk membuat tarian khusus yang akan tampil pada acara ulang tahun Sultan yang ke-6
.
Ncek Mat kemudian merespons titah tersebut dengan menciptakan karya yang terinspirasi dari kondisi lingkungan sekitarnya
.
Makna Gerakan Menolak Air
Nama Timang Banjar memiliki makna filosofis yang kuat berkaitan dengan bencana alam.
Kata "Timang" memiliki arti membujuk-bujuk
.
Sedangkan kata "Banjar" merujuk pada lokasi tempat tinggal penciptanya, yaitu Kampung Banjar, yang sering terkena banjir pasang air laut
.
Ncek Mat menciptakan gerakan tangan menolak sebagai simbol doa dan usaha mengusir air pasang agar banjir segera surut
.
Masyarakat pada masa itu mempercayai gerakan ini berfungsi sebagai permohonan kepada Sang Pencipta agar menjauhkan mereka dari musibah banjir tahunan yang melanda kawasan pinggiran sungai
.
Paduan Gerak Perempuan dan Laki-laki
Keunikan utama Tari Timang Banjar terletak pada struktur penyajiannya yang menggabungkan dua babak tarian.
Tarian ini terdiri dari Tari Timang Banjar dan Tari Anak Ikan
.
Baca Juga:
Mengenal Batang Burok: Kue Filosofis Penguji Etika Bangsawan
Penari perempuan membawakan bagian Tari Timang Banjar dengan gerakan yang menggambarkan gelombang air
.
Setelah itu, penari laki-laki masuk membawakan Tari Anak Ikan
.
Bagian kedua ini menggambarkan kegembiraan warga saat banjir mulai surut dan mereka turun ke sungai untuk memungut ikan yang terdampar
.
Penari laki-laki pada sesi Tari Anak Ikan membawakan gerakan yang lebih gagah karena mengadopsi gerakan silat
.
Mereka menggunakan properti unik berupa alat pancing kecil yang terbuat dari rotan atau tembung
. Gabungan ini menciptakan harmonisasi cerita utuh tentang kehidupan masyarakat Pontianak yang akrab dengan sungai.
(*Sr)
Tag:
#Tari Timang Banjar
#Warisan Budaya Takbenda
#Sejarah Keraton Kadriyah
#Ncek Mat
#Budaya Melayu Pontianak
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.